The Indigo Twins

The Indigo Twins
Kecurigaan



"Enggak, mana mau desa aku seperti itu, tapi masalahnya hantu terompah itu seram, masa kita cari mati dengan cara datangin dia, kalian itu mikir gak kalau kita saat ini berurusan dengan hantu, bukan manusia, jadi aku mohon sama kalian sekali ini saja setujui permintaan aku untuk jangan cari hantu terompah, aku mohon kerja samanya pada kalian semua yang sebangsa, seagama dan senegara dengan ku" titah Alisa yang sudah lelah berurusan dengan hantu terompah yang seramnya melebihi nenek lampir.


"Enggak bisa sa, kita harus tetap cari hantu terompah, kalau kamu gak mau ikut juga gak apa-apa, kami mau cari bertiga saja, karena kami ingin dia segera pergi dari desa ini, gampang kan"


Alisa diam, ia tidak berani berada di dalam rumah sendirian, ia benar-benar tidak dapat membayangkan kalau seandainya ada hantu yang datangin dia sementara dia tidak bisa apa-apa dan kami tidak ada yang bisa membantunya.


"Enggak, aku gak mau di rumah, aku mau ikut kalian saja, tapi jangan terlalu kemalaman yang mau cari hantu terompah, karena takutnya hantu terompah gak ketemu kita malah ketemu sama hantu-hantu lain yang usil kayak tadi malam" syarat Alisa, ia hanya khawatir tidak menemukan hantu terompah, kita malah di ganggu oleh hantu-hantu lainnya.


"Iya, nanti sehabis sholat isya' kita langsung cari hantu terompah, kalau jam 12 malam kita gak ketemu sama hantu terompah, kita pulang saja, lanjut besok, aku ini sebenarnya ingin masalah hantu terompah cepat kelar dan gak terlalu berkepanjangan seperti dukun beranak itu, itu saja penyelidikannya membutuhkan waktu dan banyak pihak yang terlibat"


"Iya, tapi awas, jangan kemalaman, aku gak mau di ganggu sama hantu-hantu lain yang berada di desa ini, pasti nanti akan ada banyak bangsa-bangsa jin, setan, kuntilanak, dan siuman-siuman yang pada keluar saat melihat kita keluyuran di tengah malam, aku tidak mau mereka mengganggu kita!" suruh Alisa.


"Iya, nanti kalau di rasa udah larut malam kalau masih gak nemu apa-apa kita pulang, gak usah lanjutin pencarian lagi"


"Baiklah aku setuju" jawab Alisa.


Mobil terus melaju, tak lama dari itu mobil sampai di rumah setelah sekian lama perjuangan kami yang ingin segera sampai di rumah akhirnya terselesaikan.


Kami semua keluar dari dalam mobil, pandangan kami tertuju pada bunda yang berdiri di ambang pintu dengan mata yang melotot tajam serta tangan yang berkacak pinggang.


Bunda terlihat marah besar saat kami kembali pulang di saat magrib hampir tiba.


"Dari mana saja kalian!" hardik bunda yang tak habis pikir dengan kami semua yang pulang ketika gusdur tiba.


"Kami tadi di jalan di kejar-kejar sama preman bun, mereka pegang senjata tajam, mang Asep terpaksa lewat jalan tol untuk menghindar dari mereka, dan perjalanan kita kembali ke kota ini lagi memakan waktu yang cukup lama, itu yang menyebabkan kami pulang jam segini" jelas Alisa.


"Kalau kronologinya seperti itu, kenapa kalian gak bilang sama bunda, seharusnya kalian itu ngomong sama bunda kalau kalian gak bisa pulang ke rumah tepat waktu, tapi yang malah kalian lakukan cuman diam saja, gak tau apa kalau bunda seperti sambut yang kehilangan ekornya!" bunda sedari tadi cemas memikirkan kami yang tak kunjung pulang, ia khawatir ada apa-apa yang terjadi pada kami semua.


"Maafin kami bunda, kami benar-benar lupa sama bunda, dan itu semua terjadi karena preman itu bun, kalau seandainya preman itu gak ganggu kami, mungkin kami akan sampai di rumah tepat waktu, gak kayak gini" jelas Alisa berharap bunda tidak marah dan hukum kami.


"Bunda jangan marah ya, kami benar-benar gak pernah bayangin kalau hal ini akan terjadi, kalau kami tau pasti kami akan lebih waspada lagi"


Bunda mengembuskan napas."Iya bunda ngerti, bunda gak marah kok sama kalian, lain kali kalau ada masalah di jalan langsung hubungi bunda ataupun ayah biar kita bisa bantu kalian, bukannya malah diam saja, untung aja preman-preman itu gak celakain kalian, kalau sampai di celakain kalian, bunda gak bisa membayangkan bagaimana nasib kalian!"


"Iya bun, kami gak akan lakuin kesalahan yang sama lagi, kami janji kok, kami juga akan terus waspada untuk kedepannya biar gak ada kejadian serupa yang kembali terjadi"


"Oh ya kalian barusan bilang kalau kalian di kejar-kejar sama preman, kalian tau gak preman itu siapa?" penasaran ayah yang sedari tadi mendengarkan alasan kami pulang terlambat ke rumah.


"Enggak ayah, kami gak tau siapa preman itu, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba dia ngejar kami, mangkanya kami panik di dalam mobil saat di kejar-kejar sama tiga preman, tapi yang lebih takutnya lagi preman itu megang senjata tajam, itu yang buat kami ngeri di dalam mobil, kami tadi benar-benar takut jika preman-preman itu melakukan hal yang tidak-tidak pada kami" jelas Alisa.


"Kok bisa ya ada preman yang tiba-tiba ngejar kalian sedangkan kalian gak tau sama mereka, apa mungkin kalian berurusan dengan preman-preman itu, gak mungkin kan preman-preman itu tiba-tiba ngejar kalian tanpa sebab!" ayah merasa tak yakin, ia yakin sekali pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga preman-preman itu mengejar kami.


"Gak ayah, kami gak berurusan sama sekali dengan preman, masalah yang kami hadapi cuman hantu terompah itu, gak ada preman-premannya kok" jawab Alisa.


"Apa mungkin yang tadi ngejar kita itu orang yang sudah bunuh hantu terompah, tadi pagi kan kita sempat melihat ada orang di jalanan desa yang masuk ke dalam hutan, bisa jadi dia salah satu di antara mereka bertiga yang tadi ngejar kita" feeling Angkasa yang terlihat pada kejadian tadi


"Kayaknya iya, kalau bukan mereka gak mungkin tiba-tiba ada preman-preman yang ngejar-ngejar kita sampai pegang senjata tajam kayak gitu, pasti mereka semua itu adalah orang yang sudah bunuh hantu terompah, mereka lakukan itu semua karena tidak mau di tangkap, mereka pasti dengar kalau kita sedang berusaha untuk tangkap pelakunya, dia kan orang di desa ini, dia pasti tau, gak mungkin dia gak tau" sahut Reno.


"Kalau seperti ini kita gak boleh lengah, kita harus waspada, gak boleh sedikitpun kita melakukan kesalahan, karena musuhnya ada di desa ini dan kita masih belum tau siapa pelakunya" peringatan Angkasa.


"Iya, kita gak boleh anggap semua orang yang ada di sekitar kita baik, ingat pelakunya adalah warga di desa ini, dia bisa saja nyamar agar tidak ketahuan sama kita"


"Iya, kita harus lebih waspada lagi untuk kedepannya" setuju Reno.


"Ini sudah mau magrib, kalian masuk ke dalam kamar gih, mandi habis itu sholat di masjid" suruh bunda.


"Baik bun" jawab kami semua.


Aku masuk ke dalam kamar ku, aku membersihkan tubuh ku di kamar mandi, habis itu aku keluar dan bersiap-siap untuk berangkat ke masjid karena beberapa menit lagi adzan magrib akan berkumandang.


Setelah selesai bersiap-siap aku keluar dari dalam kamar dengan membawa mukenah, aku menunggu yang lain yang masih belum pada soap.


"Ayo kita berangkat, adzan magrib sudah berkumandang, nanti kita telat" ajak ayah.


Kami mengiyakan dan berjalan menuju ke masjid bersama-sama, rumah kosong, tidak ada satu anggota keluarga pun yang tersisa.


Suasana jalanan menuju masjid sepi, satu pun orang tak terlihat sama sekali walaupun masih belum larut, namun suasana desa sudah menjadi sepi seperti di kuburan.


"Kok gak ada orang yang lewat, kenapa tiba-tiba desa aku menjadi seperti ini, apa ini semua gara-gara hantu terompah, tapi masa iya karena saking takutnya dengan hantu terompah mereka gak berani keluar rumah" batin ku yang merasa sedikit aneh.


Aku terus berjalan dengan mencari orang-orang namun tak ada satu pun orang yang terlihat.


Tak lama dari itu kami sampai di masjid yang hanya berjarak beberapa rumah dari rumah ku.


Masjid kembali sepi, tidak ramai seperti biasanya, suasana masjid kembali seperti saat di laksanakannya perayaan di desa.


"Kok tumben masjid sepi ya" heran Angkasa.


"Kayaknya ini semua gara-gara hantu terompah, lihat warga-warga pada gak ada yang mau sholat di masjid ini" jawab Alisa.


"Kita habis ini harus cari pelakunya, biar hantu terompah gak ganggu desa dan kembaliin desa seperti semula"


"Iya, kita harus cari pelakunya sehabis sholat isya" setuju mereka semua.


Kami menunaikan sholat magrib di masjid, hanya beberapa orang yang hadir di masjid, kebanyakan orang-orang pada menghilang.


Setelah menunaikan sholat magrib kami masih berada di masjid menunggu adzan isya' tiba.


"Assalamualaikum" salam seseorang yang membuat pandangan kami tertuju padanya.


"Wa'alaikum salam" jawab kami semua.


"Bagikan pak" suruh Edi pada warga laki-laki yang membawa kotak makanan.


Orang yang Edi suruh membagikan makanan pada warga-warga yang berada di masjid ini.


Aku memperhatikan orang yang bernama Edi yang tidak berani masuk ke dalam masjid dan hanya berdiri di ambang pintu saja.


"Kenapa aku merasa gerak-geriknya mencurigakan, eh tunggu-tunggu matanya mirip dengan orang yang ngejar mobil tadi, iya dia perampok itu" batin ku yang mencurigai Edi.


"Bunda dia siapa bun?"


"Dia itu Edi, dia itu kerja di luar kota dan sekarang bisnisnya lagi naik, mangkanya dia selamatan" jawab bunda.


"Oh gitu, emangnya dia kerja apa bun kok bisa tiba-tiba kaya?"


"Bunda kurang tau" jawab bunda.


Aku terus memperhatikan orang bernama Edi itu.


"Tak salah lagi dialah orang yang sudah bunuh hantu terompah, aku harus ajak yang lain untuk selidiki dia" batin ku.


Edi menatap ke arah ku, ia merasa aku mencurigai dirinya, ia kemudian pergi dari sana bersama warga-warga lainnya setelah membagikan makanan.