
Malam harinya.
Malam ini adalah hari ulang tahun bu Dinda yang di selenggarakan di restoran mewah, para tamu undangan satu persatu masuk ke dalam restoran itu dan memberikan ucapan selamat ulang tahun pada bu Dinda.
Bu Dinda tampak cantik dengan dress berwarna merah selutut yang ia kenakan, senyuman manis terus merekah di bibirnya saat hari ini akan menjadi hari di mana ia di lamar oleh Prasetyo, pacar yang ia cintai dan sangat ia sayangi.
"Dinda selamat ulang tahun semoga kamu panjang umur dan sehat selalu" salah satu teman bu Dinda yang baru datang memberikan ucapan selamat ulang untuknya.
"Terima kasih" jawab bu Dinda dengan senyuman manisnya.
Tiba-tiba pandangan bu Dinda teralihkan saat melihat mobil hitam yang berhenti di depan restoran mewah itu.
Bu Dinda dengan senang mendekati mobil itu.
"Mas" sapa bu Dinda pada seorang laki-laki tampan yang bernama Prasetyo.
"Selamat ulang tahun sayang, ini hadiah buat kamu" Prasetyo memberikan paper bag pada bu Dinda.
Bu Dinda meraihnya dengan senang, ia membuka paper bag itu dengan senyuman yang sesekali merekah.
"Makasih mas, aku suka" bu Dinda benar-benar senang saat melihat hadiah yang sudah Prasetyo berikan.
"Sama-sama" jawab Prasetyo dengan senyuman manisnya.
"Ayo mas kita masuk, aku dari tadi nungguin kamu, mangkanya sampai sekarang acaranya masih belum di mulai" ajak bu Dinda.
Prasetyo mengikuti bu Dinda dari belakang, ia masuk ke dalam restoran yang sudah ramai itu.
"Dinda ayo mulai nak acaranya, kasihan para tamu sudah nunggu dari tadi" suruh ibu dari Prasetyo yang juga ikut hadir di acara ulang tahun bu Dinda.
"Iya bu" jawab bu Dinda.
Acara ulang tahun itu di mulai, di mana bu Dinda terus tersenyum bahagia karena setelah tiup lilin Prasetyo pasti akan melamarnya sesuai yang ia janjikan.
Bu Dinda meniup lilin itu, semua tamu undangan bertepuk tangan yang membuat suasana semakin meriah.
Tiba-tiba senyuman manis bu Dinda sirna saat melihat kedatangan tamu tak di undang.
"Permisi dengan suadari Dinda?"
"Iya saya sendiri, ada apa pak?" penasaran bu Dinda saat melihat kedatangan tiga polisi di acara ulang tahunnya.
"Anda kami tangkap atas kasus pembunuhan saudari Laura Aditama"
Semua tamu undangan yang mendengar ucapan polisi yang pak Heru tugaskan ternganga.
"Bapak salah orang, saya tidak bunuh siapapun, bapak jangan asal nuduh" elak bu Dinda.
"Anda jangan pura-pura lagi, kami punya rekaman cctv di mana anda mendorong saudari Laura ke mobil hitam yang akan melintas dan menyebabkan korban meninggal dunia"
Bu Dinda menjadi gagap, ia tidak punya alasan apapun lagi untuk mengelak dari kasus ini.
"Apa benar kamu yang sudah buat Laura meninggal?" tak percaya Prasetyo ketika tau kalau bu Dinda yang sudah membuat mbk Laura meninggal dunia.
"Bukan aku mas, aku gak bunuh Dinda, itu semua tuduhan palsu"
"Pak tangkap dia" suruh pak Gerry rekan kerja pak Heru yang di tugaskan untuk menangkap bu Dinda karena pak Heru masih berada di perjalanan pulang ke kota ini.
"Siap pak" jawab keduanya.
Mereka berdua menangkap bu Dinda.
"Lepasin saya, saya tidak bersalah, saya tidak bersalah pak, jangan tangkap saya!" berontak bu Dinda saat kedua polisi itu menangkapnya di hari ulang tahunnya.
"Mas tolong aku, aku gak bersalah mas, aku gak mau masuk penjara, tolong bebasin aku mas" titah bu Dinda pada Prasetyo.
"Kamu sudah bikin Laura meninggal, jadi kamu harus tanggung jawab, pak tolong bawa dia ke kantor polisi"
"Baik"
Sementara Prasetyo dan keluarga besarnya sangat kecewa pada bu Dinda namun mereka tidak bisa apa-apa lagi, karena semuanya sudah terjadi.
Di sisi lain.
Angkasa terus melajukan mobil menuju rumah, kami masih berada di perjalanan karena jarak tempuh antara jalan merpati dan rumah benar-benar sangat jauh.
Mobil masuk ke dalam jalanan desa yang gelap, walaupun ada penerangannya namun tetap saja suasana jalanan gelap dan mencekam.
Alisa menelan ludah pahit saat merasakan keseraman dari jalanan ini.
"Kok makin lama jalan ini makin seram aja" merinding Alisa.
"Biasa sa, jalanan ini memang sudah terkenal seram dari dulu"
"Tapi kali ini seramnya nambah za" jawab Alisa.
"Kenapa kok bisa gitu ya, perasaan di desa gak ada orang mati" sahut Angkasa.
"Memang gak ada orang mati, tapi entah kenapa malam ini jalanan ini seram banget" Alisa benar-benar merasakan hawa merinding di sepanjang perjalanan.
"Kamu gak usah takut, ada aku di sini" Reno berusaha menenangkan Alisa yang sedang ketakutan.
Angkasa terus menyetir mobil dengan fokusnya.
ciiiiit
Tiba-tiba Angkasa mengeram mendadak saat ada sosok berpakaian putih yang bajunya penuh darah berdiri di tengah jalan.
"Allahu Akbar"
Kami semua yang ada di dalam mobil kaget saat melihat penampakan sosok seram itu di tengah jalanan desa yang gelap.
Alisa menyipitkan mata."I-itu bukannya mbk Laura?"
"Iya itu mbk Laura, kenapa dia cegat kita di tengah jalan kayak gini, apa lagi yang dia inginkan"
"Coba kita turun dan tanyain langsung" saran Angkasa.
Kami semua turun dari mobil dan mendekati mbk Laura yang masih diam di tempat dengan sorot mata seramnya.
Alisa memegang lengan Reno, walaupun ia kenal dengan mbk Laura, tapi tetap saja rasa takut itu tidak bisa di hindari.
"Mbk kenapa ada di sini?"
"Terima kasih" itu yang mbk Laura ucapkan pada kami.
"Untuk?" kami semua mengerutkan alis.
"Terima kasih kalian sudah nangkap pelakunya, sekarang mbk sudah lega saat pelakunya berhasil di tangkap" jawab mbk Laura.
"Apa om udah nangkap pelakunya ya?" belum yakin sepenuhnya Alisa.
"Sudah, pelakunya sudah di tangkap, polisi juga sudah nangkap Dinda, sekarang mbk sudah lega saat kedua pelaku yang bikin mbk begini di tangkap" jelas mbk Laura.
"Alhamdulillah kalau begitu" lega Reno karena pada akhirnya kasus mbk Laura sudah selesai.
"Sekarang kan pelakunya sudah di tangkap, mbk kembalilah ke alam selanjutnya, bu Dinda sama orang yang sudah nabrak mbk pasti akan dapat hukuman yang setimpal, mbk jangan khawatir"
"Iya, mbk akan pergi ke alam selanjutnya, terima kasih kalian semua sudah berusaha keras untuk bantu tangkap mereka berdua, mbk tidak bisa lakuin apapun lagi selain bilang terima kasih pada kalian" jawab mbk Laura.
"Sama-sama mbk, kami juga senang bantu mbk" sahut Angkasa.
"Mbk pergi dulu ya, selamat tinggal" pamit mbk Laura.
Kami mengangguk dengan di iringi senyuman manis, kemudian mbk Laura pergi dari hadapan kami untuk selamanya.