The Indigo Twins

The Indigo Twins
Seperti ada orang yang mengikuti



"Mbk Laura sekarang sudah kembali ke alamnya, ayo kita pulang, aku sudah capek, pengen istirahat, dan juga ini sudah malam, nanti bunda nyariin kita kalau kita masih belum pulang di jam segini"


"Iya ayo" jawab Angkasa.


Kami semua kembali masuk ke dalam mobil, Angkasa mengendari mobil menuju rumah yang sudah tidak terlalu jauh dari sini.


Sepanjang perjalanan keseraman terus terasa, namun di antara kami tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun.


Aku melihat ke kanan dan kiri, namun tidak ada apapun yang aku temukan.


"Ada apa za, apa yang kamu lihat?" Angkasa menyadari keanehan dari diri ku yang sedari tadi terus melihat ke kanan dan kiri seperti mencari sesuatu.


"Enggak, gak ada apa-apa kok"


Aku berusaha menyembunyikan segalanya karena aku tidak mau saudara kembar ku semakin ketakutan kalau aku bilang aku merasakan ada orang yang mengikuti kami.


"Kok aku ngerasa ada orang yang ngikutin aku ya, tapi di mana, kenapa saat di cari gak ada apapun, di jalanan ini sepi, hanya mobil ini yang melintas, gak mungkin ada orang yang ada di sini selain kami" batin ku yang terus melihat ke kanan dan kiri, aku masih yakin kalau ada seseorang yang mengikuti ku, aku ingin tau siapa orang itu.


"Apa ini semua cuman perasaan aku saja" batin ku yang agak ragu setelah tidak menemukan siapapun.


Angkasa terus melajukan mobil, sementara aku terus melihat ke kanan dan kiri untuk mencari siapa orang yang sudah mengikuti ku.


Aku terus diam tak mengeluarkan sepatah katapun, semakin mobil melaju aku semakin merasa merinding tanpa sebab.


Mobil mulai menjauh dari jalanan itu, kini mobil sudah sampai di depan rumah.


Kami semua langsung turun dan mendekati mbk Rinda yang berdiri di ambang pintu.


"Mbk bunda ada di mana" pelan Alisa takut suaranya di dengar oleh bunda.


"Ibu masih belum pulang non, cepat non masuk ke dalam sebelum ibu sama bapak pulang" suruh mbk Rinda.


Dengan secepat kilat kami masuk ke dalam rumah dan menuju kamar masing-masing.


Aku membuka pintu kamar ku dan masuk ke dalamnya.


"Huft selamat" begitu leganya hati ku saat sudah berada di dalam kamar dan lolos dari terkaman maut bunda.


Aku menaruh tas di kasur lalu masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan tubuh sebentar lalu keluar dan berganti pakaian, habis itu aku menunaikan sholat di dalam kamar ini.


"Assalamualaikum warahmatullah, assalamualaikum warahmatullah" aku menoleh ke kanan dan kiri sembari mengucapakan kalimat itu.


Aku mengusap wajah ku sehabis selesai sholat, tiba-tiba aku melihat bayangan seseorang yang berdiri di samping lemari.


Dengan cepat aku melihat ke arah lemari."Kok udah gak ada, perasaan tadi aku lihat ada orang yang berdiri di sana, kenapa saat aku lihat dia malah gak ada?"


Aku terus melihat ke lemari itu, namun tetap saja tidak ada orang yang aku lihat barusan.


"Apa aku cuman salah lihat, tapi aku yakin banget kalau aku gak mungkin salah lihat"


"Ini aneh, benar-benar aneh"


Aku merasakan keanehan dari dalam kamar ini, aku dengan tergesa-gesa membuka mukenah dan turun ke bawah saat aku merasakan merinding yang luar biasa.


"Aaaaah!"


"Kenapa, kenapa kamu teriak?" Angkasa mengerutkan alis saat tiba-tiba aku teriak ketika melihatnya.


"Kamu ngapain berdiri di sini, ngagetin aku aja" aku memukul lengan Angkasa saat dia tiba-tiba berdiri di balik pintu.


"Aku mau ngajak kamu makan, semua orang sudah ada di meja makan, ayo kita ke sana juga" ajak Angkasa.


Aku mengikutinya dari belakang dengan perasaan yang masih terus tegang.


"Kamu kenapa za, kenapa kamu kayak tegang gitu, apa yang kamu lihat?"


"Enggak ada sa, aku gak lihat apa-apa, ayo kita ke bawah saja"


Angkasa tak lagi berkata, kami terus berjalan ke meja makan, di sana sudah ada mereka semua yang sedang kelaparan karena jam makan siang di gunakan untuk mencari tau sosok perempuan itu dan siapa pelakunya.


Aku duduk di samping Alisa dan makan di sana bersama yang lain.


"Kakak dari mana aja, kenapa pulangnya malam?" penasaran Dita.


"Kami lagi ngurus kasus, mangkanya malam pulangnya"


"Masalah apa?" penasaran kami semua.


"Ada hantu kak" jawab Dita.


Kami semua semakin mengerutkan alis.


"Hantu? hantu apa Dita" penasaran Reno.


"Enggak tau juga, karena aku cuman dengar-dengar dari warga-warga aja, kalau di antara mereka ada yang melihat hantu pake terompah jalan di tengah malam" jelas Dita.


Seketika Alisa langsung memucat, ia teringat pada suara terompah yang waktu itu terus ia dengar.


"Apa mungkin suara terompah yang waktu itu aku dengar ya yang lagi neror warga-warga" batin Alisa.


"Siapa hantu terompah itu, perasaan di desa gak ada orang yang meninggal, kenapa bisa ada hantu terompah" mulai penasaran Angkasa.


"Enggak tau kak, dia lagi neror orang-orang, katanya kalau matahari sudah tenggelam dia akan datang dan mulai neror orang-orang, mangkanya gak ada satupun orang yang berani keluar rumah" jelas Dita.


"Ini masalah baru bagi desa Kamboja, kita harus cari tau siapa hantu terompah itu" usul Reno.


"Iya, kita harus cari tau dan buat dia pergi agar dia gak ganggu orang-orang lagi" sahut Angkasa.


"Kalian aja yang usir dia, aku gak mau ikut"


Pandangan kami semua langsung tertuju pada Alisa.


"Kenapa kamu gak mau ikut?" kompak kami.


"Enggak mau aja, aku gak mau ikutan, cukup kalian aja yang urus, aku udah gak mau urus-urus yang begituan, karena kita berhadapan dengan hantu yang seram dan sukanya neror, lebih baik berurusan dengan hantu yang penasaran dan minta tolong buat di cari siapa pelakunya, atau enggak minta pesan terakhirnya di turuti, kalau itu aku masih mau, tapi untuk hantu yang kali ini, aku gak mau ikut-ikutan, karena aku gak mau di teror sama dia" jelas Alisa.


"Ayolah sa, masa kamu gak mau ikutan, kita kan sekawan, jadi kamu harus ikut"


"Enggak mau za, aku gak mau ikut, aku udah kapok sama hantu-hantu desa yang seram-seram, iih aku gak mau ketemu sama mereka lagi" begidik Alisa saat teringat pada hantu dukun beranak yang pernah mendatanginya.


"Kalau kamu gak mau ikut, ku sumpahin hantu terompah itu datangin kamu malam ini"


Wajah Alisa langsung memucat, ia menatap tak percaya ke arah ku."Ya ampun za, kamu tega banget nyumpahin aku kayak gitu, aku ini kembaran kamu, masa kamu setega ini sama aku"


"Biarin, suruh siapa kamu gak mau ikutan"


"Sa hantu terompah itu seram banget, dia sukanya neror, bagaimana kalau dia neror kamu hihi takut" Angkasa mengompor-ngompori Alisa yang membuat gadis itu semakin ketakutan tanpa sebab.


"Aku bisa lawan, aku gak takut" balas Alisa yang sok-sokan pemberani.


"Oke kita buktikan apa benar kamu bisa berani"


"Bisa kok, aku bisa berani!" jawab Alisa.


"Baiklah kalau seperti itu untuk buktiinnya malam ini kamu tidur sendiri"


Alisa langsung tercekat, wajahnya langsung bertambah pucat."Baik, aku terima tantangan kalian, malam ini aku akan tidur sendiri dan aku akan buktiin kalau aku gak takut sama dia"


Kami semua mengangguk sembari menahan tawa karena kami benar-benar tak yakin Alisa akan seberani itu.


"Udah malam nih, ayo kita tidur, besok kita harus sekolah"


"Kenapa cepat banget kalian yang mau tidur" mulai panik Alisa.


"Besok harus sekolah sa, kita harus tidur malam ini" jawab Angkasa.


"Ya udah sana kalian pergi" usir Alisa.


Kami semua masuk ke dalam kamar masing-masing meninggalkan Alisa yang masih berada di meja makan dengan di temani Dita.


"Kak hantu terompah itu kata orang-orang serem banget"


Wajah Alisa tambah memucat, ia kini menyesal menerima tantangan itu.


"Aku gak takut"


Dita tersenyum, ia menahan tawanya saat ekspresi wajah Alisa semakin lama semakin terlihat kalau dia sangat ketakutan.


"Aku mau tidur dulu ya kak, bye" pamit Dita meninggalkan Alisa sendirian di meja makan.