
Alisa terus menangis sekeras yang ia bisa, ia tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini.
Alisa tidak pernah membayangkan jika Roy akan pergi secepat ini.
Alisa menyeka air mata yang terus mengalir itu, ia kembali menghubungi ku.
Drrt
Drrt
Drrt
Hp ku berbunyi, aku mengerutkan alis saat melihat nama Alisa yang keluar.
"Ada apa Alisa nelpon aku, apa ada masalah ya" batin ku.
Aku mengangkat panggilan itu meski saat ini aku masih berada di pemakaman umum karena pemakaman Andin baru saja selesai.
"Halo sa ada apa?"
"Hiks hiks hiks" hanya suara tangisan Alisa yang aku dengar.
"Sa kamu kenapa, ada apa, kenapa kamu nangis, apa ada masalah, Roy baik-baik aja kan?" aku mulai khawatir ketika mendengar suara tangisan Alisa.
Alisa masih terus menangis, ia tak sanggup mengatakan semuanya pada ku.
"Sa jawab, kenapa kamu diam aja, ada apa sebenarnya sama kamu, cepat beritahu aku, Roy gak apa-apa kan?"
"Z-za Roy meninggal"
Aku langsung menjatuhkan hp ku ketika mendengar jawaban Alisa.
Bibir ku langsung bergetar, air mata kembali jatuh, tubuh ku mendadak lemas, dengan cepat Angkasa menangkap ku sebelum jatuh.
"Ada apa za, apa yang Alisa bilang?" khawatir Angkasa yang merasa ada sesuatu yang terjadi hingga aku seperti ini.
Aku menggeleng, air mata mengalir bagaikan air hujan, ia tidak sanggup bilang apa yang barusan aku dengar dari Alisa.
"Za, jawab pertanyaan aku, ada apa sebenarnya?" Angkasa semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
"R-roy meninggal sa"
DEG!
Kak Tias, Reno dan juga Angkasa yang mendengar hal itu langsung mematung.
"Enggak, enggak, gak mungkin, Roy gak mungkin meninggal, dia anak yang kuat, dia gak mungkin nyerah" tak percaya kak Tias.
Aku menangis dalam pelukan Angkasa yang masih diam tanpa mengatakan sepatah katapun.
Angkasa juga terguncang ketika mendengar fakta yang menyakitkan itu
"Za kamu bohong kan, Roy gak mungkin meninggal kan?" aku tidak menjawab, aku terus menangis saat kak Tias terus bertanya pada ku dengan nada tinggi.
"Za kamu jawab pertanyaan aku, Roy gak meninggal kan, kamu bohong kan?" aku terus menangis, sungguh kali ini segala kesedihan ku alami di hari ini.
"Zaa" teriak kak Tias yang tetap tak percaya pada apa yang aku katakan barusan.
"Kak Tias tenang dulu, kita lebih baik ke rumah sakit saja, kita cari tau kebenarannya di sana" lerai Reno yang melihat kak Tias yang terus marah.
"Enggak, aku gak mau ke rumah sakit" tangis kak Tias yang takut sekali jika ia sampai di rumah sakit ia akan melihat Roy dalam keadaan tidak bernyawa.
"Kita harus ke rumah sakit kak, kita harus pastiin apa Roy masih hidup atau enggak" ajak Reno.
"Tutup mulut mu, Roy masih hidup, kamu jangan ngomong sembarang" Reno diam, ia tau kak Tias shock dan sedang berusaha menolak fakta yang sudah ada.
"Aliza aku mohon cepat datang ke sini" tintah Alisa dengan terus menangis.
"Iya aku akan ke sana secepatnya, kamu tunggu aku di sana" di seberang telepon Alisa mengangguk dengan air mata yang terus mengalir.
Aku menutup sambungan telepon.
"Ayo kita ke rumah sakit, kasihan Alisa sendirian di sana" mereka mengangguk lalu berlari menuju motor untuk kembali berangkat ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan aku menitihkan air mata, aku tak bisa membayangkan kalau Roy benar-benar telah meninggal, dalam hati aku terus berdoa semoga yang di katakan Alisa tidak benar.
"Sa apa benar Roy meninggal?"
"Aku gak tau za, aku gak tau" Angkasa juga ikut terpukul mendengar kalau Roy meninggal dunia.
Baru kemarin kami menghabiskan waktu untuk mencari tau tentang Andin dan sekarang kami mendengar kenyataan pahit ini.
"Ayo sa cepat kita ke rumah sakit, aku mau lihat langsung, aku mau pastiin langsung apakah Roy beneran meninggal atau enggak" Angkasa mengangguk lalu menambah kecepatan.
Kak Tias dan Reno terus melajukan motor masing-masing menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan air mata terus mengalir di pipi kak Tias, ia berharap ucapan Alisa tidak benar adanya.
"Reno anak yang kuat, dia gak gampang nyerah, aku yakin Alisa bohong, dia pasti lagi ngeprank kami agar mau nemenin dia di rumah sakit, iya aku yakin itu" kak Tias terus menolak fakta itu, ia terus melajukan motor menuju rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit kami berempat berlari menuju ruangan Roy.
Langkah kami tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang yang di tutupi oleh kain berwarna putih di keluarkan dari ruang perawatan Roy.
"Aliza Roy" tangis Alisa yang langsung memeluk ku.
Setetes air mata mengalir di pipi ku.
Dengan tangan gemetaran aku membuka kain berwarna putih itu.
Kami berempat langsung histeris saat melihat Roy yang berada di balik kain itu.
"Roy" teriak kak Tias yang histeris ketika melihat sepupunya yang kini telah pergi.
"Roy kamu kenapa, kenapa dengan mu, apa yang udah terjadi pada mu, kenapa kamu pergii" tangis kak Tias yang sangat kehilangan Roy.
"Roy bangun, buka mata kamu, kamu raja jalanan, kamu jangan pergi gitu aja, bagaimana nasib geng Arashka kalau kamu pergi" kak Tias menggoyangkan tubuh Roy yang sudah kaku.
"Roy bangun, kamu bangun, kamu jangan pergi" kak Tias histeris ia terus menggoyangkan tubuh Roy dengan air mata yang terus mengalir.
Kami berempat menangis sekencang-kencangnya setelah melihat jenazah Roy, orang yang kemarin kami ajak bicara kini sudah tiada.
"Roy" panggil ku lirih, aku tak menyangka sekali jika dia benar-benar akan pergi menyusul Andin dan Elfa.
Di saat tangisan memenuhi rumah sakit ini tiba-tiba seorang ibu-ibu yang sebaya dengan bunda mendekati kami.
"Di mana Roy?"
Kak Tias yang mengenali suara itu langsung menatap ke arah orang itu.
"Ngapain tante ke sini?" tak bersahabat kak Tias pada orang itu.
"Jelas tante ingin nemuin anak tante"
Kak Tias tersenyum mengejek di saat air mata terus mengalir."Anak tante bilang? sejak kapan tante nganggap Roy anak hah, tante sendiri yang sudah bilang kalau anak tante sudah meninggal semua, dan hari ini ucapan tante menjadi kenyataan, Roy meninggal tante dan itu semua gara-gara tante"
"Tante lah penyebab Roy meninggal, kalau tante gak memperlakukan Roy kayak gini, mungkin dia masih hidup sampai sekarang" teriak kak Tias yang melampiaskan segalanya pada tante Dewi.
Kak Tias sungguh sangat kesal selama ini dan baru kali ini ia melampiaskan kekesalannya pada orang yang bersangkutan.