The Indigo Twins

The Indigo Twins
Suara orang masak di tengah malam



"Udah kita jangan bahas hantu-hantu terus, ini sudah malam tau, kalian tidur aja, kami yang aja jaga kalian, kami gak akan biarkan kalian di ganggu sama hantu lagi kok" suruh Angkasa.


"Awas kalian harus pastikan gak ada hantu yang gangguin kami, ingat itu baik-baik" suruh Alisa, ia tidak mau di ganggu sama hantu lagi, sudah cukup hantu mengganggunya terus menerus sedari tadi.


"Siap ibu ratu" jawab mereka berdua kompak.


Kami berdua merebahkan tubuh dan mulai memejamkan mata yang tidak ada rasa kantuk sedikitpun, meskipun malam sudah larut.


Baru beberapa detik mata kami terpejam telinga kami sudah mendengar suara-suara aneh yang berasal dari dapur.


Kami kembali membuka mata dan terus mendengar suara orang yang sedang memasak, aroma masakannya juga tercium di hidung kami.


"Siapa yang ada di dapur, apa mungkin mbk Rinda ya?" pikir Alisa.


"Masa iya mbk Rinda, perasaan tadi mbk Rinda udah balik ke kamar, masa dia yang lagi ada di dapur" tak yakin Reno.


"Tapi kalau bukan mbk Rinda siapa lagi ren, dia palingan yang masuk ke dalam dapur saat ini, gak mungkin yang lain yang saat ini ada di dapur" jawab Angkasa.


"Bisa aja yang lain sa" sahut Reno.


"Enggak mungkin ren, Ustadz Fahri, Ustadz Zaki sama mbk Indri gak akan ke dapur, mereka itu baru pulang dari restoran, mereka pasti ngantuk berat gak mungkin keluar kamar, apalagi bunda sama ayah, jelas itu sangat mustahil" jawab Angkasa.


"Mendingan dari pada kita bingung siapa yang sebenarnya ada di dapur, lebih baik kita cek aja langsung, kita lihat siapa yang ada di dapur"


Mereka semua mengangguk setuju, kami bangkit dari duduk dan berjalan mendekati dapur untuk memeriksa siapa yang ada di sana saat ini.


Terdengar suara orang yang sedang memasak di dapur, kami semua sangat penasaran siapa orang yang sekiranya masak di dapur di tengah malam seperti ini.


Pelan-pelan kami berjalan mendekati dapur, semakin kami berjalan semakin jelas suara orang yang sedang masak itu.


Rasa deg-degan terasa di dalam tubuh kami saat kami sudah dekat dengan dapur.


"Kok gak ada siapapun" merasa aneh Reno saat tidak melihat siapapun yang ada di dalam dapur, dapur itu kosong, tidak ada satu orang pun yang terlihat di sana.


"Iya ya, kok gak ada orang, perasaan tadi kita dengar ada orang yang masak di dapur, apa iya kita salah dengar" mulai tak yakin Alisa, ia melihat sekitarnya namun benar-benar tidak ada orang di sana.


"Enggak mungkin kita salah dengar, kalau kita salah dengar, enggak mungkin bersamaan, aku yakin banget apa yang tadi kita dengar itu beneran nyata, namun kenapa ketika kita periksa, gak ada siapapun di dapur, kemana orang yang tadi ada di dapur?" heran Angkasa pada orang yang tiba-tiba menghilang secepat kilat itu.


"Apa jangan-jangan, orang yang kita cari-cari ternyata bukan orang beneran"


"Kamu jangan nakut-nakutin napa za, aku kan jadi takut" mulai merinding Alisa yang langsung menempel pada ku.


"Tapi beneran sa, kalau bukan makhluk halus siapa lagi yang ada di dapur dan menghilang secepat kilat, ini pasti ada makhluk halus yang masuk ke dalam dapur dan mulai gangguin kita, gak ada orang lain lagi yang bisa gangguin kita dan pergi secepat kilat kecuali mereka"


"Tapi makhluk halus itu dari mana, kenapa dia gangguin kita hingga sampai masuk ke dalam dapur segala?" heran Alisa.


"Apa mungkin hantu terompah yang sudah gangguin kita" tebak Reno yang di pikirannya hanya ada hantu terompah.


"Enggak mungkin ren, hantu terompah kalau datang pasti terdengar suara terompah terlebih dahulu, tapi ini tidak, jadi yang udah neror kita bukan hantu terompah" jawab Angkasa.


"Kalau bukan hantu terompah, hantu mana lagi, hanya dia yang jadi ancaman saat ini, enggak mungkin ada hantu lain yang gangguin kita sampai seperti ini, aku yakin kalau yang gangguin kita itu hantu terompah" Reno masih yakin dengan pendiriannya kalau yang sudah meneror kami saat ini adalah hantu terompah.


"Apa mungkin hantu bersimbah darah itu yang sudah gangguin kita, dia kan hantu yang tadi gangguin kita selain hantu terompah"


"Enggak mungkin za, dia mana mungkin masak di dapur, dia pasti sudah pergi, gak mungkin ada di dapur, mau ngapain coba, gak ada gunanya bukan" bantah Alisa.


"Bisa aja dia ingin gangguin kita tidur, aku merasa juga kalau dia itu sebenarnya pengen gangguin kamu doang, tapi salah sasaran dan malah kami yang ikutan kena batunya"


"Maksud kamu apa, kamu ingin aku mati kutu sendirian hah!" mulai emosi Alisa.


"Ya kan kamu yang di ganggu, tapi karena kamu aku juga ikut terlibat"


"Kamu sebagai saudara kembar ku kenapa tega sekali, aku ini penakut za, jadi kalau ada kamu rasa takutnya agak sedikit berkurang, jadi kamu jangan tega sekali bilang kalau semua yang terjadi malam ini karena aku" sok tersakiti Alisa.


"Emang gara-gara kamu"


"Tega, kamu tega, Reno lihat Aliza jahat" cepu Alisa


"Udah kamu jangan takut, ada aku di sini, gak akan ada yang terjadi kok, kamu tenang saja" Reno menenangkan Alisa yang mulai tak tenang.


Tiba-tiba aku berhenti berbicara, aku mencium bau sesuatu yang membuat segalanya teralihkan.


"Bau apa ini?" aku mencium bau yang tak sedap di sekitar sini.


"Iya, bau apa ini, kenapa kayak bau darah" Angkasa juga mencium bau yang aku cium saat ini.


"Ini jelas-jelas darah, bukan kayaknya lagi" sahut Reno.


"Kok bisa di ada bau darah di sekitar sini, perasaan kita gak ada yang terluka" heran Alisa dengan menatap sekeliling yang kosong, tidak ada satupun yang ia temukan.


Aku melihat sekeliling, aku mencari asal bau darah itu, karena aku merasa bau darah itu tidak jauh dari sini.


"Dari mana asal bau darah ini, kenapa aku merasa asalnya gak jauh dari sini"


"Aku juga merasa seperti itu, dari baunya aku rasa gak jauh dari sini, tapi di mana ya, kenapa gak ada apapun yang mencurigakan di sekitar sini" heran Angkasa yang tidak menemukan apapun meskipun sudah mencarinya.


"Aku yakin asalnya gak jauh dari sini, kita coba cari saja dulu" ajak Alisa.


Kami mulai mencari dengan cara melihat sisi-sisi dapur dengan teliti.