The Indigo Twins

The Indigo Twins
Ajakan hantu terompah



Aku terus memperhatikan orang yang bernama Edi yang pelan-pelan meninggalkan masjid bersama warga-warga lainnya, ia sepertinya sangat terburu-buru untuk pergi dari masjid.


"Cukup mencurigakan"


"Kamu curiga sama dia za?" penasaran Alisa yang duduk di samping ku dan mendengar apa yang barusan aku katakan.


"Iya, aku curiga sama dia, aku punya feeling kalau dia adalah orang yang sudah bunuh hantu terompah, hantu terompah bilang kalau orang yang sudah bunuh dia adalah orang kaya baru, dan dia adalah orang kaya baru yang tengah di perbincangkan oleh warga-warga"


"Terus apa yang kamu akan lakukan?"


"Apa lagi kalau bukan cari tau tentang dia, kita harus selidiki dia, kita harus bisa cari tau apakah dia terlibat dalam kejadian terbunuhnya hantu terompah atau tidak"


"Kalau seperti itu kita mulai cari tau besok pagi"


"Ngapain besok, hari ini saja, sehabis sholat isya' kita harus selidiki dia, kalau dia terbukti orang yang sudah buat hantu terompah meninggal, kita langsung tangkap dia, biar desa ini kembali tentram tidak sepi dan mencekam seperti saat ini"


"Iya, kita lebih baik cari tau dia saja, dari pada nyari hantu terompah, lebih baik pelakunya dulu, baru kalau tidak setuju bisa kita hanya pada hantu terompah" Alisa.


Kami semua menunggu adzan isya', setelah adzan isya' berkumandang kami menunaikan sholat isya' berjemaah di sana.


Sehabis sholat isya' aku, Alisa, Reno Angkasa dan Ustadz Fahri berjalan ke rumah Edi, orang yang tengah meledak baru-baru ini.


"Kalian yakin kalau orang yang tadi ngasih makanan di masjid adalah orang yang sudah bunuh hantu terompah?" Ustadz Fahri masih belum yakin sepenuhnya, ia takut feeling kami salah.


"Iya tadz, kami yakin sekali kalau orang tadi itu yang sudah bikin hantu terompah meninggal, aku tadi merasa gak asing sama dia dan kalian tau gak, aku itu curiga kalau dia adalah orang yang tadi mau celakain kita di jalan"


"Maksud kamu dia adalah preman-preman yang ngejar mobil tadi saat kita akan pulang ke rumah bukan" tercekat Alisa.


"Iya, dari matanya memang dia orangnya, aku yakin sekali dia adalah biang keroknya, mangkanya aku ngajak kalian buat selidiki dia terlebih dahulu"


"Tapi untuk apa dia rampok kita, kita kan gak bawa barang berharga" tak habis pikir Reno.


"Dia pasti sudah tau kalau kita lagi berusaha nangkap dia, dan dia lakuin ini agar ancam kita"


"Dia tau dari mana, di antara kita gak ada yang ngasih tau, orang luar hanya pak RT, aku yakin pak RT gak akan ngasih tau kalau kita lagi nyelidiki orang kaya baru di desa ini" agak tak yakin Alisa.


"Tadi kan saat mayat hantu terompah di temuin, ada orang misterius yang lihat kita di sana, aku yakin dia pasti orang yang sudah ngasih tau, aku merasa dia juga terlibat dalam kejadian ini"


"Itu pasti za, gak mungkin dia gak terlibat, kalau dia gak terlibat, buat apa dia lari, dia pasti ikut terlibat dalam masalah ini" sahut Angkasa.


"Aku juga merasa kalau orang yang sudah bunuh hantu terompah lebih dari satu, gak mungkin kan hanya satu orang yang bunuh hantu terompah"


"Iya juga, gak mungkin itu terjadi, pasti teman-temannya banyak, gak mungkin sendirian" jawab Alisa.


"Tapi apa iya semua pelakunya adalah warga di desa ini?" ajak tak yakin Reno.


"Kayaknya gak semuanya, mungkin beberapa saja yang merupakan warga di desa ini"


"Oh ya orang kaya baru di desa ini siapa saja, apakah Edi saja yang di kabarkan menjadi orang kaya baru di desa ini?" penasaran Alisa.


"Ada lagi, kalau gak salah namanya itu Kemal, dia tadi orang yang di sebut sama pak RT" jawab Angkasa.


"Oh Kemal, aku tau dia, rumahnya juga aku tau, habis dari rumah Edi kita ke rumah Kemal, kita harus cari tau apakah mereka berdua adalah biang kerok di desa ini"


"itu harus" setuju Angkasa.


"Ayo kita lebih cepat lagi, kita harus selidiki si Edi itu terlebih dahulu"


Mereka semua mengangguk lalu mempercepat langkah menuju rumah Edi yang lumayan jauh dari sini.


Suasana jalanan desa sepi, semua pintu di rumah-rumah warga yang kami lewati tertutup rapat, tidak ada satu orang pun yang keluar rumah, desa ku berubah menjadi desa hantu.


Aku terus melihat ke kanan dan kiri, tapi tidak ada apapun yang aku temukan.


Klontar


Klontar


Klontar


"Kalian dengar gak?"


Seketika langkah mereka semua terhenti.


"Dengar apa?" penasaran mereka.


"Kayak ada suara terompah, kalian dengar juga gak?"


Mereka semua diam mendengarkan suara yang saat ini aku dengar.


Klontar


Klontar


Klontar


Suara terompah terdengar di telinga, suara itu semakin jelas saja karena suasana yang sepi dan sunyi.


"Iya kami dengar, itu beneran suara terompah" jawab Ustadz Fahri.


"Apa mungkin itu suara hantu terompah" pikir Reno.


Alisa langsung bersembunyi, ia benar-benar takut ketika mendengar suara terompah.


"Kita harus cari di mana hantu terompah itu, lalu kita hanya langsung siapa yang sudah bunuh dia"


Mereka semua diam, tidak ada satu pun yang mengiyakan ajakan ku.


"Kenapa kalian semua diam, apa kalian pada takut?"


"Enggak kok za, kami gak takut, cuma lebih baik kita selidiki Edi dulu, baru kalau bukan dia pelakunya kita tanya hantu terompah siapa yang sudah bunuh dia" jawab Angkasa.


"Iya za, kita lebih baik ke rumah si Edi dulu, baru cari hantu terompah" setuju Alisa.


Aku menatap wajah mereka yang tiba-tiba pucat, aku merasa kalau mereka berusaha untuk mencegah ku untuk mencari hantu terompah.


"Enggak bisa, kita jadi cari hantu terompah dulu, biar gak membuang-buang waktu, aku ingin masalah ini cepat selesai biar pada warga gak takut lagi sama hantu terompah"


"Tapi za...


"Gak ada tapi-tapian, kita harus cari hantu terompah terlebih dahulu, biar kita tau apakah si Edi pemainnya atau tidak"


Mereka bungkam, pandangan merek terus menatap ke depan.


"Kenapa mereka tiba-tiba diam, apa yang mereka lihat" batin ku penasaran.


Aku berbalik badan, mata ku langsung melotot tajam saya melihat hantu terompah yang berdiri tak jauh dari posisi kami.


"Ikutlah bersama ku" anak hantu terompah dengan nada yang mengerikan.


"Ayo kita ikuti dia, dia pasti akan membawa kita ke tempat yang menguntungkan bagi kita"


Mereka dengan ragu-ragu berjalan mengikuti ku, aku terus berjalan mengikuti hantu terompah bersama yang lain.


Hantu terompah berjalan lurus ke sebelah timur, entah ada apa di sana, aku masih belum tau.


"Dia mau membawa aku kemana, apa yang mau dia tunjukkan" batin ku yang sangat penasaran.


Aku terus mengikuti hantu terompah dari belakang bersama yang lain, rasa penasaran semakin lama semakin menjadi-jadi, aku benar-benar penasaran pada hantu terompah akan membawa ku kemana.