The Indigo Twins

The Indigo Twins
Memucat



"Pak Tresno sebenarnya kami ingin bertanya sesuatu pada mu, kok bisa ya ada mayat yang di kubur di sini, mayat siapa ini sebenarnya?" tanya Angkasa berharap perhatian pak Tresno teralihkan untuk sesaat.


"Itu mayat Alfin, orang yang mempunyai toko kelontong di dekat toko ku" jawab pak Tresno.


"Terus kenapa pak Alfin bisa meninggal, siapa yang sudah membunuhnya?" tanya Ustadz Fahri.


"Aku yang sudah membunuhnya, dia itu sengaja mendirikan toko kelontong di dekat toko ku, aku iri padanya karena toko kelontong miliknya lebih ramai dari punya ku, dia aku minta pergi dari sana, tapi dia tidak mau, ya sudah terpaksa aku membunuhnya" jawab pak Tresno.


Tanpa pak Tresno sadari Ustadz Fahri telah merekam pengakuannya barusan sebagai barang bukti.


"Tega sekali pak Tresno membunuh pak poci hanya karena masalah ini, sungguh dia telah berubah menjadi iblis" kata Angkasa pelan.


"APA KAMU BILANG" teriak pak Tresno yang mendengar ucapan Angkasa barusan.


"Enggak kok pak, bapak salah dengar kok" jawab Angkasa.


"Telinga ku masih bisa mendengar dengan baik, aku tidak tuli" marah pak Tresno.


"Matilah kita, kita dalam masalah besar" kata Angkasa panik.


"Gimana ini sa, aku gak mau dia membunuh ku seperti dia membunuh pak Alfin" kata Reno bergidik ngeri kala melihat mata pak Tresno yang sangat seram.


"Tenang, kita yang akan maju untuk melawannya" kata mbk Hilda.


"Kita lihat siapa yang akan menang" kata mbk Santi.


"Huft untunglah ada mereka yang akan membantu kita" syukur Ustadz Fahri.


Para Kunti melangkah mendekati pak Tresno.


Mbk Santi berada di samping kanan, mbk Gea di samping kiri, Tiger dan pak poci di belakang sedangkan mbk Hilda di depan.


"Kalian sudah berani mengatai ku, aku akan beri kalian pelajaran" teriak pak Tresno menatap marah.


Mbk Hilda menarik paksa pisau itu dari tangan pak Tresno.


"Eeeh eeh eeeh" kata pak Tresno.


Pak Tresno merasakan pisaunya yang di tarik oleh seseorang, ia berusaha agar pisau itu tidak di diambil oleh mbk Hilda yang berstatus hantu yang tidak bisa di lihatnya.


"Kenapa aku merasa seperti ada seseorang yang menarik pisau ini, siapa sebenarnya dia, kenapa dia tidak terlihat, aku harus berusaha mempertahankan pisau ini" batin pak Tresno.


Kekuatan pak Tresno tak sebanding dengan mbk Hilda yang saat ini sedang murka.


"Akhirnya dapat juga" kata mbk Hilda lalu melempar pisau ke arah semak-semak.


"Haha belum juga kita maju udah kalah aja kau pembunuh" tawa mereka bertiga.


Pak Tresno menatap tajam.


"Kalian menggunakan cara licik" kata pak Tresno.


"Whahaha"


Mereka bertiga tak mendengarkan kemarahan pak Tresno dan terus saja tertawa dengan nyaring yang menambah pak Tresno makin naik darah.


"Berhenti atau ku bunuh kalian" ancam pak Tresno tak tahan mendengar hinaan itu.


"Bunuh saja jika kau mampu" jawab Ustadz Fahri tak takut sama sekali dengan ancaman kaleng-kaleng pak Tresno.


"Owhh kau mau membunuh gebetan ku ya, sini kau" kata mbk Santi langsung menendang kaki pak Tresno dan terjatuh ke bawah.


Mbk Gea memukul punggung pak Tresno, mbk Hilda yang sudah geram langsung mencekik leher pak Tresno sampai dia tak bisa bernafas.


"Aaarrggh" teriak pak Tresno yang kehabisan nafas, ia tak bisa diam terus saja bergerak sana sini untuk melepaskan cengkraman tangan seseorang yang mencekik lehernya.


Para Kunti di bantu mbk Hilda, Tiger dan pak poci terus memukuli pak Tresno dengan sangat keras.


"Ampun-ampun hentikan, sudah sakit" teriak pak Tresno tahan dengan ular mereka yang tak bisa di lihatnya.


"Berisik kau, diamlah atau ku ymbaj lagi, biar kau tau rasa" kata mbk Santi.


"Tadi kau sok-sokan pemberani ya, sekarang rasain ini" kata mbk Hilda lalu memukul pak Tresno tanpa ampun.


"Sudah hentikan bisa mati nanti pak Tresnonya" lerai ustadz Fahri yang melihat pak Tresno sudah lemas karena ulah mereka.


Mereka berdua menggendong tubuh kami agar menjauh dari pak Tresno.


Ustadz Fahri mengambil handphone ku yang terjatuh.


"Sa, kamu bangun" kata Reno.


"Za bangun za" kata Angkasa.


Mereka menempuk pelan pipi kami, mata kami masih terpejam kuat.


Teriakan pak Tresno mampu membuat pak Heru dan keran kerjanya menemukan posisi kami.


"Doubel A kenapa?" tanya pak Heru yang melihat kami pingsan.


"Mereka pingsan gara-gara pak Tresno yang sudah memukul punggung pak" jawab Reno.


Wajah pak Tresno langsung memucat kala melihat polisi di sini.


"Pak Gerry, pak Abu bawa pak Tresno ke mobil dan pak Jerry telpon ambulance untuk mengevakuasi mayat itu" suruh pak Heru.


"Siap komandan" jawab mereka.


Pak Gerry dan Abu membawa pak Tresno yang sudah terkulai lemas, memasang borgol dan membawanya ke mobil patroli.


Cuma 20 menit lamanya baru ambulance tiba.


Pak Heru dan rekan-rekannya mengeluarkan tubuh pak poci dari dalam lubang, mayat di masukkan ke dalam peti mati untuk di bawa ke rumah duka.


Reno dan Angkasa tengah berusaha untuk membangunkan kami berdua yang tidak sadarkan diri.


"Za bangun" kata Angkasa dengan menepuk pipi ku.


Aku menggeliat, pelan-pelan aku mencoba untuk membuka mata, kepala ku langsung sakit, rasa sakit di punggung tiba-tiba terasa.


"Aaauw" rintih ku.


"Apanya yang sakit?" tanya Angkasa.


"Gak kok, gak ada yang sakit" jawab ku yang berusaha menahan rasa sakit di punggung ku.


"Jangan boong, jelas-jelas kamu lagi kesakitan, masih saja menyembunyikannya" kata Angkasa.


"Enggak kok sa, cuman sakit sedikit aku bisa tahan kok" jawab ku.


"Aduh sakit banget loh, iihh ini sebenarnya siapa yang sudah berani mukul aku" teriak Alisa.


"Pak Tresno, kamu kalau mau marah, marah saja padanya" jawab Reno.


"Males, aku gak mau marah-marah nanti suara aku habis" kata Alisa.


"Kalian langsung pulang saja, om akan bawa penjahat ini ke kantor polisi" kata pak Heru.


"Baik pak" jawab mereka.


"Ini pak tadi saya sempat merekam pengakuan pak Tresno, barang kali rekaman ini bisa di jadikan bukti" kata Ustadz Fahri dengan menyodorkan hpnya.


"Terimakasih sudah membantu kami" jawab pak Heru.


"Sama-sama pak" balas Ustadz Fahri.


Mobil polisi melaju meninggalkan mereka.


"Terimakasih sudah mau membantu ku" kata pak poci.


"Sama-sama pak poci" jawab kami semua.


Pak poci mengikuti mayatnya terlebih dahulu sebelum kembali ke alam selanjutnya.


"Ayo kita pulang aja, lagian kasus pak poci sudah selesai, kita bagus susul ayah dan bunda di restoran, mereka pasti kewalahan menghadapi banyaknya pesanan" ajak ku.


"Iya ayo" jawab mereka.