
Keesokan harinya.
Suasana desa kembali seperti semula, warga-warga aktivitas dengan tenang tanpa gangguan hantu terompah lagi.
Aku merasa senang karena sudah berhasil mengembalikan desa ku, tapi aku menjadi sedih saat mendengar kalau Angkasa akan kembali ke rumah orang tuanya, dia akan tinggal bersama orang tuanya yang sudah menetap di Indonesia.
Kami semua saat ini berkumpul di ruang tamu untuk makan bersama, di sini juga ada papa dan mama Angkasa yang akan menjemputnya pulang sehabis ini.
Dengan tidak berselera aku makan bersama mereka semua.
"Za aku mau pulang dulu ya, nanti kita ketemu saat di sekolah aja seperti biasa" pamit Angkasa setelah selesai makan.
Aku mengangguk sambil tersenyum meskipun berat rasanya harus jauh dari Angkasa yang sudah ku anggap sebagai teman terbaik ku yang selama ini terus bersama ku dalam keadaan susah maupun senang.
"Semuanya aku pamit pulang dulu" pamit Angkasa pada mereka semua.
"Iya, kamu hati-hati di jalan, ingat sering-sering main ke sini loh ya!" suruh bunda.
"Iya bun, aku pasti akan main ke sini, ayo ma pa kita pulang" ajak Angkasa.
Om Azril mengangguk."Diana aku pamit pulang dulu"
"Iya" jawab bunda dengan tersenyum.
"Assalamualaikum" salam mereka.
"Wa'alaikum salam" jawab mereka semua kecuali aku, aku hanya diam saat Angkasa akan pergi dari rumah ini.
Angkasa masuk ke dalam mobil mewah milik papanya, kemudian mobil itu membawa Angkasa pergi dari sini.
Aku hanya menatap kepergian Angkasa, rasanya ada yang hilang saat dia pergi, rumah ini mendadak menjadi sepi saat tidak ada dia di sini.
"Yes akhirnya musuh bebuyutan ku pergi juga, sekarang pasti gak akan ada yang gangguin aku lagi, aku bisa ngelakuin apa saja tanpa ada yang ngomentarin aku" senang Alisa.
Seketika kesenangan Alisa langsung memudar saat melihat wajah ku yang berubah menjadi masam.
"Kenapa kamu za, kok kayak sedih gitu?"
"Gak apa-apa"
Aku berjalan menjauhi Alisa."Za kamu mau kemana"
Aku tidak menjawab, aku terus berjalan menuju tempat yang sesuai untuk ku menenangkan pikiran.
"Kenapa bocah itu gak jawab!" kesal Alisa saat aku mengacanginya.
"Dia pasti lagi butuh sendiri, kamu jangan gangguin dia" jawab Reno.
Alisa mengangguk pasrah, ia masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya.
Sementara aku terus berjalan dengan wajah yang merungut, langkah kaki ku berhenti tepat di danau yang indah namun sepi, karena danau itu tidak di ketahui oleh orang-orang yang ada di kota.
Aku duduk di pinggir danau, kedua kaki ku ku masukkan ke dalam danau, pandangan ku terus menatap ke depan.
"Aliza, kamu ngapain di sini?"
Aku menatap ke arah orang yang memanggil ku.
"Enggak ngapa-ngapain kok mbk, cuman pengen ke sini saja"
"Kenapa wajah kamu, kok kayak sedih gitu?" mbk Hilda duduk di samping ku.
"Enggak kok mbk, Aliza gak sedih, cuma capek saja" aku menyunggingkan senyuman agar mbk Hilda tidak berpikir macem-macem.
Mbk Hilda tidak lagi berkata, ia menatap lurus ke depan.
"Mbk kemana yang lain, kok mbk sendirian, biasanya kan mbk selalu sama mereka?"
"Mereka lagi ikut Ustadz ke restoran"
"Kok mbk gak ikut juga, biasanya kan mbk selalu bareng sama mereka?"
"Enggak, mbk lebih baik di sini saja, mbk itu sebenarnya bingung kemana perginya White, dia itu sudah pergi dari sejak kemarin malam, tapi sampai sekarang dia gak balik-balik lagi"
"White hilang mbk?" aku sedikit kaget saat tau kalau White hilang.
"Iya, dia hilang, gak tau pergi kemana, mangkanya mbk bingung kemana dia pergi, dia juga gak pamit mau pergi kemana"
"Gak mungkin za, dia pasti lagi pergi ke suatu tempat, mbk itu sudah cari White di kampung ini, tapi gak ada juga, dia hilang tanpa jejak"
"Masa iya dia di culik mbk, siapa sekiranya iseng nyulik White, gak ada manfaatnya juga nyulik White"
"Mana ada orang yang mau nyulik White, mbk cuman feeling kalau hilangnya White pasti pergi ke suatu tempat, gak mungkin dia tiba-tiba hilang tanpa jejak seperti ini"
"Nanti kalau malam hari dia gak kembali ke sini, baru kita cari dia, dia pasti gak jauh dari sini, mbk jangan khawatir sama dia"
"Semoga saja begitu"
Hening, tidak ada lagi percakapan yang terjadi, kami berdua menatap ke depan dengan tatapan kosong, tempat yang kami tatap saat ini benar-benar indah, kami merasa tenang hanya dengan menatap danau itu.
"Aliza kamu ngapain di sini" teriak Alisa dari belakang.
Aku menatap ke arahnya dengan wajah ku yang masih masam.
"Kenapa kamu nyusul aku ke sini?"
"Kita harus kerja za, masa kamu gak inget sama restoran"
"Aduh iya, ayo kita ke restoran, aku sudah lama gak datang ke sana" aku langsung bangkit dari duduk ketika teringat pada restoran yang harus aku urus.
"Mangkanya jangan ngelamun terus, apa sih yang bikin kamu galau" tak habis pikir Alisa.
"Kamu gak perlu tau, ayo kita balik ke rumah lagi, kita harus ke restoran, aku ingin melihat keadaan restoran"
Alisa mengangguk pasrah, aku dan Alisa kembali ke rumah sementara mbk Hilda menghilang dan langsung muncul di restoran.
"Mbk Hilda Aliza sama yang lain gak datang ke sini?" Ustadz Fahri bertanya pada mbk Hilda yang berada di dapur.
"Lagi otw ke sini tadz, mereka palingan lagi siap-siap mau datang ke sini"
"Oh terima kasih atas informasinya"
Mbk Hilda mengangguk dengan di iringi senyuman manis.
"Hilda kamu sudah ketemu sama White?" mbk Santi menghampiri mbk Hilda yang berada tak jauh dari posisinya berdiri.
"Belum, aku gak ketemu sama sekali dengan White, gak tau dia pergi kemana" jawab mbk Hilda.
"Apa dia dalam masalah ya sehingga gak pulang-pulang beberapa hari ini" pikir mbk Gea.
"Gak mungkin, White pasti baik-baik saja, kita tunggu saja dia datang, dia pasti akan datang nemuin kita lagi" jawab Tiger.
Mereka mengangguk, mereka semua berkumpul di dalam dapur menemani Ustadz Fahri yang tengah sibuk.
Aku, Alisa dan Reno sampai di restoran, kami kembali mengurus restoran dengan bantuan mbk Indri, Ustadz Zaki dan juga Ustadz Fahri.
Bunda dan ayah kembali ke kota B lagi, mereka harus mengurus cabang restoran Qien yang ada di sana, mereka berangkat berbarengan dengan kami, namun arah tujuan kami berbeda.
Saat kami tiba di restoran kami mulai mengurus restoran bersama-sama, banyak sekali pengunjung yang datang ke restoran, kami melayani pengunjung dengan baik.
Malam harinya, restoran kami tutup saat sudah jam 12 malam.
Kami semua pulang kembali ke desa beramai-ramai, jalanan sudah sepi namun tidak ada rasa takut yang menyerang karena kami pulangnya bersama-sama.
Tak lama dari itu kami sampai di rumah.
"Loh ini bukanya White" kaget Alisa ketika melihat White berada di halaman rumah.
"Ini kan yang kalian cari-cari sejak tadi" kaget Reno saat melihat White yang berada di halaman rumah seperti menunggu kedatangan kami.
"White kamu dari mana saja, kenapa kamu menghilang beberapa hari ini, terus dia siapa, siapa yang kamu bawa kemarin?" penasaran mbk Hilda saat melihat ada harimau yang sama seperti White, namun usianya jauh di atas White.
"Ini ibu aku, aku menghilang selama ini karena dia yang manggil aku" jawab White.
"Widiih emaknya White datang, makin lengkap aja keluarga yang satu ini" Alisa mengejek Tiger yang diam tanpa ekspresi.
"Sudah kalian masuk ke dalam, ini sudah malam, kalian balik tidur sana!" suruh Tiger dengan tegas.
"Siaaap!"
Kami semua masuk ke dalam rumah untuk beristirahat di kamar masing-masing.