The Indigo Twins

The Indigo Twins
Tidak menyangka



"Ayah dokter Gladis kenapa?" tanya ku saat melihat staf RS mendorong brankar yang berisikan dokter Gladis.


"Dokter Gladis kecelakaan, sekarang dia sudah meninggal dunia" jawab ayah.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun" kata kami terkejut.


"Tidak menyangka dokter Gladis sudah berpulang" kaget ku.


"Kita balik ke kamar yuk, besok baru kita ikut takziah, kalian butuh istirahat setelah seharian kalian beraktivitas" ajak ayah.


"Iya ayah, besok Reno dan Alisa juga masuk sekolah, malam ini kita istirahat dulu bunda juga sudah capek banget, za kamu telpon Alisa suruh dia balik ke kamar" jawab bunda.


"Baik bun, sa misi berhasil kamu balik ke kamar sekarang" kata ku saat penggilan terhubung.


"Emang dokter Gladis sudah di amankan?" tanya Alisa.


"Iya, nanti aku ceritain di kamar, kamu cepat balik ke kamar, malam ini kita istirahat dulu" jawab ku.


"Okelah" kata Alisa lalu mematikan sambungan.


"Ayo ren kita balik ke kamar" ajak Alisa.


"Loh emang dokter Gladis udah di tangkap?" tanya Reno.


"Entahlah, ayo kita dengerin cerita Aliza nanti juga kita bakal tau apa yang terjadi pada dokter Gladis, ayo cepat aku sudah tidak sabar menunggu kabar tentang dokter Gladis" jawab Alisa.


"Ya udah ayo" setuju Reno.


Keduanya berlari hingga sampai di kamar.


"Gimana?" tanya Alisa saat sampai di kamar.


"Tadi itu rencana kita berjalan dengan mulus awalnya aja, nah pas dokter Gladis itu turun ke lantai satu, kita langsung keluar dari tempat persembunyian, tapi ketika semua orang tau tentang apa yang di lakukan dokter Gladis selama ini, dokter Gladis langsung lari keluar, pas lari dia tidak melihat kendaraan yang melintas di jalanan dan naas dokter Gladis tertabrak mobil dan meninggoy tamat" jawab ku.


"Owh gitu, sekarang dia sudah koit berarti?" tanya Alisa.


"Ya iyalah, sudah ku bilang dia sudah tamat, suruh siapa dia lari, andai saja dia gak lari mungkin dia tidak akan mati" jawab ku.


"Tapi itu memang sudah menjadi jalannya, gak bisa kita rubah" kata Angkasa.


"Hmm iya sih, memang sudah menjadi ajal dokter Gladis yang di takdirkan meninggal seperti itu" jawab ku.


"Udah malem kalian tidur gih" suruh ayah.


"Baik ayah" jawab kami.


Kami semua tidur dengan tenang malam ini.


Di sisi lain


"Ini siapa yang akan jaga kamar mayat malam ini, aku gak mau menjaga mayat dokter iblis itu" kata pak As'mad.


"Aku juga gak mau kali, menjaganya kita biarkan aja malam ini kamar mayat tidak di jaga, lagi pula mayatnya juga tidak akan hidup lagi kok" jawab pak Hamid.


"Iya juga, ayo kita tinggalkan saja dokter iblis ini, kita pulang aja kalaupun pihak rumah sakit membayar mahal untuk ku menjaga dokter Gladis, aku tetap tidak mau, lebih baik aku di gaji sedikit dari pada menjaga dokter Gladis yang berhati iblis" kata pak As'mad.


"Iya aku juga tidak mau, kalaupun rumah sakit memecat kita karena kita tidak menjaga kamar mayat malam ini, aku gpp aku bisa cari kerja di tempat lain yang penting aku gak mau menjaga mayat dokter Gladis" jawab pak Hamid.


"Ya udah yuk kita pulang aja jangan di sini, lama-lama ngeri tau ada di sini" kata pak As'mad bergidik ngeri.


Mereka berdua meninggalkan kamar mayat dan pulang ke rumah masing-masing.


Pagi hari.


"Bunda hari ini kita takziah yuk" ajak ayah.


"Kayaknya bunda gak bisa deh ayah, kan bunda harus jaga Aliza sama Angkasa, bunda gak bisa ninggalin mereka di rumah sakit sendirian, bunda gak mau kalau nanti ada orang jahat yang akan mencelakakan Aliza dan Angkasa jika bunda tinggalkan mereka berdua" jawab bunda.


"Terus Alisa sama Reno aja yuk" kata ayah.


"Duh kalian ini terlalu banyak alasan ya, ya udah ayah pergi sendiri saja" kata ayah lalu pergi meninggalkan kamar.


"Bunda Alisa juga pamit ya assalamualaikum" salam Alisa.


"Wa'alaikum salam" jawab kami.


Di kamar ini hanya ada mereka bertiga.


"Bunda kapan Aliza di bolehin pulang, Aliza sudah tak betah berada di sini lama-lama" kata ku


"Entah nanti bunda tanyain" jawab bunda.


"Awas bunda harus tanyain pada dokternya, aku sudah tidak mau berada di sini lama-lama, aku pengen sekolah aja gak betah berada di sini" kata ku.


"Iya bunda nanti akan tanyain, kamu minum obat dulu gih, biar cepat sembuh" kata bunda.


Aku meminum obat pahit itu.


Beberapa saat kemudian.


Pintu kamar terbuka.


"Assalamualaikum" tatapan kami semua tertuju pada ayah yang baru pulang takziah.


"Ayah bagaimana proses pemakaman dokter Gladis, lancarkan?" tanya ku.


"Aduh, kacau balau, banyak kejadian yang tak terduga selama proses pemakaman dokter Gladis" jawab ayah.


"Coba ayah cerita deh, bunda ingin tau apa saja yang sudah terjadi di proses pemakaman dokter Gladis" suruh bunda.


"Tadi itu...


Pemakaman dokter Gladis.


Para suster rumah sakit melangkah memasuki kamar mayat, mereka yang berjumlah 8 orang mendekati brankar Dokter Gladis.


Suster yang bernama Ana itu membuka kain putih yang menutupi tubuh dokter Gladis.


"Aaarrggh" pekik suster Ana yang kaget kala melihat mata dokter Gladis yang melotot tajam.


Mereka semua berlarian keluar dari kamar mayat dengan teriakan yang mengiringi.


Dokter Kevin menghentikan langkah ia melihat ke arah mereka yang sudah berteriak.


"Ada apa? kenapa kalian berteriak?" tanya dokter Kevin mendekati mereka.


"Ada apa itu, kok pada ngumpul di sana, coba deh aku ke sana" batin ayah lalu mendekati mereka.


"D-dokter Gladis" jawab suster Ana terbata-bata.


"Ada apa dokter?" tanya ayah.


"Di dalam mayat dokter Gladis sangat menakutkan" jawab suster Zizi.


Dokter Kevin mengernyitkan kening.


"Menakutkan? menakutkan bagaimana, coba kita periksa lagi" kata dokter Kevin lalu masuk ke dalam kamar mayat.


Mereka semua mengekor di belakang dokter Kevin.


Dokter Kevin mendekati mayat dokter Gladis yang matanya melotot tajam.


"Kenapa mata dokter Gladis bisa melotot tajam seperti ini? tadi malam siapa yang menjaga kamar mayat?" tanya dokter Kevin.


"Seharusnya saya sama pak As'mad yang menjaga kamar mayat dokter, tapi karena kami takut dokter Gladis akan menjadi hantu, jadi kami tidak menjaga kamar mayat semalam" jawab pak Hamid.


"Hmm begitu coba saya akan menutup mata dokter Gladis, barang kali bisa tertutup" kata dokter Kevin.