
Om Amar membalas pelukan ayah.
"Apa kabar sudah lama kita gak ketemu" kata om Amar.
"Alhamdulillah baik" jawab ayah.
Mata ayah menangkap dua orang yang pastinya satunya adalah istri dari om Amar dan satunya lagi anaknya.
"Ini anak kamu" tunjuk ayah pada seorang pemuda yang berusia sekitar 20 tahunan yang sangat tampan yang saat ini tengah menyalami punggung tangan ayah.
"Iya om" jawab pemuda itu sambil tersenyum ramah.
"Iya ini anak aku namanya Fahri" jawab om Amar.
"Ayo-ayo masuk" ajak ayah.
Mereka semua masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
"Ini anak kamu semua?" tanya om Amar menatap takjub anak-anak di depannya.
"Iya yang kembar itu anak kandung aku, selebihnya itu anak angkat aku" jawab ayah.
"Owh pantesan banyak" kata om Amar.
"Anak kamu kerja di mana selama ini?" tanya ayah.
"Dia baru lulus pondok, dia selama ini ngajar di sana" jawab om Amar.
"Hebat banget anak kamu bisa jadi Ustadz, anak-anak aku aja kagak ada yang mau masuk pesantren" salut ayah.
"Kenapa kok gak mau?" tanya tante Amira.
"Takut di ganggu sama hantu" jawab Alisa.
Ustadz Fahri terkekeh geli mendengar hal itu ia terus saja menundukkan pandangannya, ia tak berani menatap Doubel A di depannya.
"Kenapa harus takut, mereka itu cuman ingin menakut-nakuti saja, kalian kalau di ganggu sama hantu bilang sama ini ya, dia itu paham tentang dunia gaib" kata om Amar menyentuh punggung Ustadz Fahri.
"Baik om" jawab kami senang.
"Ish kenapa Ustadz ini ganteng sekali, bismillah saja dia tidak menyukai Aliza, kalau tidak bisa berabe nantinya" batin Angkasa menatap tak suka.
Ayah dan om Amar serta tante Amira saling berbincang-bicang hingga.
Setelah cukup lama pada akhirnya mereka berpamitan untuk pulang.
"Aku titip Fahri di sini ya" kata om Amar
"Tenang aja gak ilang kok" jawab ayah.
Om Amar terkekeh ia tau tak akan ada yang akan menculik Ustadz Fahri di sini.
"Kami pamit dulu assalamualaikum" kata mereka.
"Wa'alaikum salam" jawab kami.
Tante Amira dan om Amar kembali melanjutkan perjalanan pulang.
"Nak Fahri istirahat di kamar itu gih sana, kamu pasti capek setelah melakukan perjalanan jauh" kata bunda.
"Terimakasih tante" jawab Ustadz Fahri.
"Panggil bunda aja, kamu bisa menganggap kami sebagai orang tua mu juga, besok kamu bisa langsung berkerja" kata bunda.
"Baik Bun" jawab Ustadz Fahri lalu masuk ke dalam kamar yang bunda tunjukkan.
Keesokan harinya.
Silau matahari membangunkan ku dari tidur panjang ku.
Aku membuka mata perlahan-lahan, mata ku tertuju pada jam yang kini sudah menunjukkan pukul 06:45.
"Waduh udah jam segini, alamak aku ke siangan" batin ku kaget.
Saat hendak tubuh ku keluar dari dalam selimut tiba-tiba.
"Za, Liza, cepetan bentar lagi kita mau berangkat" teriak Alisa dari bawah.
"Bentar" teriak ku langsung di serang rasa panik.
Dengan cepat aku masuk ke dalam kamar mandi, aku mengeluarkan level mandi paling cepat yang aku punya, cuma lima menit aku telah menyelesaikan proses mandi ku.
Aku memang tidak suka bermake up, beda dengan Alisa.
"Dah yuk berangkat" kata ku yang ngos-ngosan akibat berlari.
"Lama amat" jawab Alisa yang tengah menunggu ku di depan pintu rumah.
"Ya maaf aku kesiangan, capek banget soalnya" kata ku.
"Sekarang jam 07:00 wib, ayo kita langsung berangkat takut telat" ajak Reno.
"Iya ayo" jawab kami.
Angkasa dan Reno mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.
Aku di serang rasa panik kala waktu ku semakin singkat dan perjalanan menuju ke sekolah lumayan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Saat mereka berdua tengah ngebut-ngebutan di jalanan desa yang sepi dan di penuhi rerimbunan pepohonan di kanan dan kiri tiba-tiba
Ciiit!
"Allahu Akbar" teriak ku saat Angkasa tak sengaja hampir menabrak seorang anak kecil saking terburu-burunya.
Motor Reno terus melaju di depan kami.
Motor Angkasa memang berada di posisi kedua.
"Pelan-pelan aja sa, utamakan keselamatan, iish pagi-pagi gini udah buat jantung ku tak aman, aku tidak mau dulu" kata ku dengan menepuk pundaknya.
"Maaf" jawab Angkasa.
"Hiks hiks hiks" tangis seorang anak lelaki yang di depan kami.
Aku turun dari motor kala mendengar tangisannya, aku takut dia kenapa-napa karena hal ini.
"Adek kenapa nangis? ada yang luka?" tanya ku pelan-pelan.
Anak kecil itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia membuka tangan yang menutupi wajah.
"Astaghfirullah" kaget ku saat tau jika anak kecil di barusan bukan lah manusia.
Anak kecil itu tertawa terbahak-bahak lalu menghilang setelah berhasil mengerjai ku dan Angkasa
"Ish ada-ada aja pagi-pagi begini, alamak bentar lagi kita akan telat sa, ayo cepatan, 10 menit lagi bel akan berbunyi, ngebut sa jangan kasih ampun" teriak ku panik.
Angkasa menancap gas dengan kecepatan tinggi, kami begitu takut telat masuk ke dalam kelas.
"Ya Allah semoga aku gak telat, ku mohon jangan telatkan kami, iih kalau sampai aku telat tak akan aku kasih ampun anak tadi kalau aku ketemu lagi dengan dia, sialan dia, tega sekali dia mengerjai ku" batin ku.
Motor terus melaju di jalanan kota yang biasa hingga akhirnya kami sampai juga di sekolahan.
Suasana parkiran sangat sepi, aku melihat motor Alisa yang sudah terparkir rapi sana.
"Sepinya, apa udah masuk ya, sa kita telat, gimana ini" kata ku tidak tenang.
"Kita langsung ke kelas aja, mungkin masih belum ada guru yang masuk ke dalam kelas" ajak Angkasa.
"Ayo sa" ajak ku.
Kami berdua berlari mendekati gerbang yang hampir saja di tutup.
"Pak-pak jangan di tutup" tintah ku menstop pak satpam itu.
"Ayo cepatan" jawab dingin pak satpam.
Mereka berlari ke dalam kelas.
Aku tidak mempedulikan sikap pak satpam yang dingin berusan, saat ini yang paling terpenting itu, aku harus bisa segera sampai di dalam kelas.
"Assalamualaikum" salam kami yang baru sampai di depan kelas.
Nafas kami tersengal-sengal karena terus berlari sejak tadi.
Wajah ku langsung memucat kala melihat pak Abidin wakil kepala sekolah yang sudah duduk singgasananya.
Pak Abidin terkenal dengan guru yang sangat tegas dan tidak main-main dengan hukumannya.
Aku dan Angkasa mendekatinya yang tengah menatap kami dengan tatapan maut.