
Di kamar sebelah.
Alisa dalam keadaan tengkurep memandangi foto Dava yang ada di depannya, ia sudah mencuci dan memberikan pigura pada foto itu.
Sesekali air mata jatuh secara tiba-tiba saat moment-moment penting bersama Dava teringat di benak Alisa.
"Doooor"
"Allahu Akbar" terkejut Alisa yang mendengar teriakan itu.
Alisa menatap tajam ke arah laki-laki yang malah tertawa terbahak-bahak setelah berhasil membuatnya terkejut.
"Iih bisa gak sih gak usah ngagetin aku" omel Alisa dengan wajah juteknya.
"Iya maaf, gak usah jutek gitu dong, nanti tambah jelek" rayu Roy dengan mencubit gemas pipi Alisa.
"Iih sakit" Alisa menepis tangan Roy.
"Ngapain kamu ke sini?"
"Ngapain lagi kalau bukan ketemu kamu"
"Buat apa, kamu udah pergi, sekarang pergi aja sana, kamu sendiri kan yang bilang lebih baik mati dari pada hidup"
"Kamu jangan marah, aku sebenarnya gak mau kayak gini sa, aku pengen terus jagain kamu" rayu Roy berharap Alisa tak lagi marah padanya.
"Emang kamu ngapain jagain aku, aku gak minta juga"
"Kamu memang gak minta, tapi Dava dulu nitipin kamu ke aku sebelum dia berangkat ke Amerika, dia cuma takut kamu di apa-apain sama anak-anak, mangkanya aku sering gangguin kamu agar lebih dekat sama kamu dan anak-anak gak ada yang berani gangguin kamu"
Setetes air mata mengalir di pipi Alisa saat tau hal itu.
"Kenapa dia gak bilang kalau dia nyuruh kamu buat jagain aku?"
"Mungkin Dava gak ingin ada yang tau, bahkan aku gak pernah bilang hal ini pada siapa-siapa, sama Andin aja enggak, karena hal ini agak private"
"Dava aku kangen banget sama kamu, kenapa sekarang dia gak bisa di hubungi, dia bilang akan kembali, tapi kenapa buat di hubungin aja gak bisa" sedari tadi Alisa terus berusaha untuk menghubungi Dava namun tetap saja tidak bisa, nomor wa Dava sudah tidak aktif selama kurang lebih 1 mingguan ini.
"Mungkin Dava sibuk sa mangkanya dia lupa ngabarin kamu, kamu positif thinking aja"
"Tapi masa iya gak bisa luangin waktu sedikit saja buat aku, dia gak tau apa kalau sekarang udah gak ada yang mau jadi temen aku, aku akan sendiri lagi di kelas, dia pergi kamu juga pergi, aku benci kalian berdua, aku benci"
"Siapa bilang gak akan ada orang lain yang akan jadi teman kamu, ada kok nanti orang yang akan jadiin kamu sebagai ratu"
"Siapa?" penasaran Alisa yang selama ini tak ada satupun lelaki yang dekat dengannya di kelas.
"Ada, dia sangat mencintai mu sa lebih dari dia" tunjuk Roy pada foto Dava.
"Aku merasa dia adalah orang yang Allah ciptakan untuk kamu"
"Siapa dia, ada di mana dia sekarang?"
"Dia gak jauh, dia ada di dekat kamu, hanya saja kamu gak sadar kalau dia itu mencintai mu, dia selalu berusaha buat kamu bahagia, tapi kamu sampai sekarang masih gak sadar tentang keberadaannya, tapi pelan-pelan kamu akan sadar kok siapa dia yang aku maksud"
Alisa diam, ia berusaha mengingat laki-laki mana saja yang selama ini dekat dengannya.
"Dia ada di dekat mu, dia selalu bersama mu, dia sangat mencintai mu"
"Dia ada di dekat ku, dia selalu bersama ku, dia sangat mencintai ku, pertanyaannya siapa dia sebenarnya, kenapa aku gak tau?"
Roy hanya tersenyum."Nanti juga kamu pasti akan tau, kamu gak di janjiin apa-apa kan sama Dava?"
"Dava bilang dia akan balik ke negara ini setelah dia besar, dia bilang akan lamar aku"
Roy diam, ia ingat betul-betul kata-kata Dava yang bilang gak akan kembali ke negara ini lagi sehingga Dava menyuruhnya untuk menjaga Alisa.
"Roy, kenapa kamu diam, apa yang kamu pikirin?"
"Enggak kok, aku gak mikirin apa-apa"
Alisa masih terus memandangi foto Dava di dalam pigura itu.
"Sa apa kamu akan nungguin Dava kembali?" pertanyaan itu membuat Alisa diam.
"Enggak tau Roy, aku pengen nungguin dia sih, namun aku takut dia gak akan kembali ke sini lagi, sia-sia nanti perjuangan ku kalau dia benar-benar gak kembali ke sini lagi"
Roy tersenyum."Kalau boleh aku saranin jangan nungguin Dava, kamu cari saja orang lain, karena aku hanya takut Dava gak balik ke negara ini lagi"
Alisa diam ia tidak tau apa yang harus ia putuskan, menunggu Dava atau mencari penggantinya.
"Aku gak tau Roy, aku gak mau mikirin hal itu, nanti saja aku akan putuskan mau nungguin dia atau enggak"
"Roy" panggilan Andin membuat percakapan mereka terhenti.
Roy melihat ke arah Andin, Elfa dan Khalisa yang muncul di kamar ini.
Roy mengangguk."Sa sudah waktunya aku pergi, aku datang ke sini cuma mau pamit sama kamu kalau aku akan pergi"
"J-jangan pergi Roy, aku sama siapa kalau kamu pergi" Alisa berusaha untuk mencegah Roy yang akan pergi meninggalkan dia selamanya.
"Aku harus pergi sa, aku gak bisa berada di sini lagi, di sini bukan tempat ku lagi, aku yakin kok kamu bisa ngelewatin ini semua sendiri"
"Enggak Roy, aku gak bisa, aku gak sekuat itu, apalagi anak-anak di kelas senakal itu, aku gak akan bisa kuat kalau di ganggu sama mereka" air mata terus mengalir di pipi Alisa, ia terus berusaha membuat Roy tak pergi darinya.
Roy tersenyum."Tapi maaf sa aku gak bisa di sini, aku harus tetap pergi, lihat aku, dari sini kamu harus bisa belajar mandiri, kamu harus bisa lawan rasa takut mu sendiri, karena kamu tidak bisa selamanya bergantung pada yang namanya manusia"
Alisa diam, ucapan Roy memang ada benarnya juga, namun praktiknya yang sulit untuk ia terapkan.
"Tapi Roy aku gak bisa"
Roy menangkup pipi Alisa."Aku yakin kamu pasti bisa, masa seorang Alisa Qiensyah gak bisa lawan anak-anak nakal itu"
"Aku akan berusaha tapi kalau gak bisa gimana?"
"Kalau tetap gak bisa, kamu hubungi Tias atau gak Daniel, minta bantuan sama dia, dia pasti akan bantuin kamu" Alisa mengangguk.
"Sekarang aku pamit pergi dulu, kamu hati-hati di sini, jangan sedih terus karena ada seseorang yang gak rela banget kamu sedih kayak gini"
Alisa mengangguk meski air mata terus mengalir.
Roy menghapus air mata itu."Aku pergi dulu ya, kamu baik-baik di sini"
"Jagain aku dari atas sana" Roy tersenyum mendengar hal itu.
"Aku pasti akan jagain kamu dari sana, kamu tidak usah khawatir, aku pergi dulu ya, selamat tinggal Alisa"
"Selamat tinggal sa"
"Selamat tinggal"
Mereka semua tersenyum kemudian menghilang dari ruangan ini.
Tangisan Alisa kembali mengeras saat mereka sudah tak dapat ia lihat lagi.
"Roy" lirih Alisa yang menangis dengan kencang.
Alisa membenamkan wajah di bantal dengan terus menangis karena kehilangan sosok Roy, orang yang rela berpura-pura menjadi orang lain demi menjaganya.
Sungguh setelah ini Alisa tidak tau apakah masih ada orang yang sebaik dia atau tidak.