The Indigo Twins

The Indigo Twins
Penumpang yang aneh



Aku mengamati betul-betul mereka semua yang menurut ku sangat aneh dan begitu misterius sekali.


Penumpang bus ini semuanya menatap ke depan, aku perhatiin, hanya 5 menit sekali mata mereka berkedip, tetapi tidak dengan anak kecil yang lain anak dari tante China itu, ia terus saja menangis di dalam bus berbanding terbalik dengan yang lainnya yang terus diam tak bergerak.


Aku melihat ke arah Angkasa.


"Apa yang kamu temuin?" tanya Angkasa.


"Menurut apa yang aku lihat, mata mereka itu semuanya berkedip selama 5 menit sekali" jawab ku.


"Ada lagi?" tanya Angkasa.


"Ada, yaitu wajah mereka yang semuanya pucat bagaikan orang yang tidak memiliki darah" jawab ku.


Angkasa diam tak lagi bertanya.


"Lalu apa yang kamu temukan?" tanya ku.


"Sama seperti apa yang kamu temukan" jawab Angkasa.


"Terus ini kita gimana, aku ngerasa bus ini bukan menjadi jalan keluar untuk kita agar bisa segara sampai di rumah, tetapi malah menjadi mala petaka untuk kita, aku ngerasa aneh dengan semua penumpang-penumpang di dalam bus yang terlihat begitu misterius sekali" kata ku yang di landa kebingungan dengan sikap mereka.


"Entahlah kita lihat aja keadaan dulu, nanti kita juga akan tau kenapa mereka bergitu aneh seperti ini" jawab Angkasa.


Kami berdua diam dengan mengamati penumpang yang benar-benar aneh dan begitu misterius.


"Kenapa mereka semua aneh sekali, wajah mereka pucat kenapa, lalu mengapa mereka tidak mengeluarkan suara sedikitpun, apa yang sedang mereka lihat, kenapa terus melihat lurus ke depan terus menerus" batin ku yang bingung sekali dengan sikap mereka semua yang benar-benar misterius.


Angkasa memperhatikan mereka semua yang benar-benar aneh.


"Siapa mereka semuanya, kenapa begitu misterius sekali, awalnya aku berpikir jika dengan nak bus ini, aku dan Aliza bisa segera sampai di rumah, tapi ini apa, kita malah semakin bingung dengan segalanya, ada apa ini sebenarnya, kenapa begitu aneh sekali, aku harus cari jawaban itu, aku harus cari tau kenapa mereka diam aja tanpa ada niatan buat ngeluarin suara sedikitpun" batin Angkasa yang juga merasa bingung dengan sikap mereka.


Angkasa dan aku terus memperhatikan mereka semua yang benar-benar aneh.


Rasa takut dan tegang tiba-tiba mendatangi tubuh ku.


"Wajah mereka pucat sekali, seperti tidak punya darah sama sekali, eh tunggu-tunggu kenapa ku gak bisa dengar suara hati mereka, apa mereka tidak bergumam" batin Angkasa baru teringat.


"Kok bisa barengan gitu, wah ini benar-benar aneh, kok perasaan aku jadi gak enak gini sih, ada apa ini sebenarnya" batin Angkasa yang cemas tanpa sebab.


Bus terus melaju dengan kencang, namun entah kenapa perasaan aku menjadi cemas tanpa sebab.


"Kenapa detak jantung ku gak wajar gini, kenapa aku ngerasa aku sedang dalam bahaya, ada apa ini sebenarnya, siapa yang mau jahatin aku, mbk Hilda, mbk Gea, mbk Santi kemana kalian, tolong bantuin Aliza agar bisa keluar dari sini" batin ku memanggil mereka berharap mereka datang dan akan menyelamatkan aku.


Aku melihat ke kanan dan kiri ku yang kosong, tak ada satu orangpun yang tadi aku panggil datang ke sini.


"Kok mereka gak muncul, kemana mereka semua, kenapa mereka gak datang pas aku manggil, duh makin aneh aja bus ini, ya Allah mohon berilah kami petunjuk untuk bisa kembali pulang dari sini, hamba sudah lelah sekali, hamba ingin pulang" batin ku yang sudah gelisah tak karuan.


Tiba-tiba anak kecil yang tak lain adalah anak dari tante China itu menghampiri kami berdua dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya.


"Kakak bawa aku pergi dari sini" tintah anak itu dengan suara yang sulit untuk di ucapkan karena air mata terus mengalir dengan deras.


"Iya kita juga nanti turun kok dari bus ini dek" jawab Angkasa.


Anak kecil itu menggeleng kuat, ia kembali mengeraskan tangisannya.


"Huhu"


Tangis anak itu yang semakin keras.


"Hei kenapa kok malah tambah nangis?" tanya ku yang terkejut.


Anak kecil itu tidak menjawab dan masih terus menangis dengan kencang.


"Aku gak ngapa-ngapain dia, kamu jangan nuduh aku melakukan sesuatu pada anak tante China ini" jawab Angkasa yang langsung ciut kala melihat tatapan seram yang aku berikan.


Aku beralih menatap anak tante China dengan tatapan mata biasa, dia masih terus menangis dengan keras dan suaranya terdengar seisi bus ini.


"Adek kenapa kok nangis?" tanya ku yang begitu ingin tau, kenapa anak tante China terus menangis tanpa henti.


Dengan lembut aku menghapus air mata yang mengalir bagaikan air sungai itu.


"Hiks hiks bus ini gak akan berhenti kak" tutur anak tante China di sela tangisannya.


Kami berdua diam mematung mencerna baik-baik apa yang barusan anak tante China itu katakan.


"Bisa kok bus ini berhenti, kakak coba hentikan ya tapi kamu berhenti nangis oke" syarat ku agar dia mau berhenti menangis


Anak itu masih tak berhenti, ia terus menangis tapi tidak sekeras tadi.


"Kenapa anak ini bilang kayak gini, ada apa ini sebenarnya" batin Angkasa yang merasa aneh dengan segalanya.


"Pak, pak, pak, tolong berhenti di sini pak" tintah ku pada kernet yang duduk tepat di depan ku.


Tidak ada respon sama sekali dari pak kernet itu.


"Kok tidak ada jawaban dari pak kernet, apa dia gak dengar" batin ku.


Anak tante China itu semakin mengeraskan tangisannya karena pak kernet yang aku panggil tidak merespon sama sekali.


"Pak, pak berhenti di sini" tintah ku sekali lagi.


Pak kernet hanya diam saja, bahkan dia tidak menoleh ke belakang sama sekali.


"Kok masih sama tidak ada tanggapan sama sekali, kenapa suasana ini semakin aneh saja" batin ku yang sudah mulai cemas karena anak tante China terus menerus menangis tanpa henti yang membuat ku semakin bingung.


"Kenapa pak kernet itu diam aja, apa pak kernet tidak mendengar apa yang Aliza katakan, aku harus gunakan cara lain, yang sekiranya kami bisa keluar dari dalam bus ini" batin Angkasa mencoba memikirkan solusi tersebut.


Aku mengamati betul-betul mereka semua.


Aku melihat ke arah Angkasa.


"Gimana ini sa, pak kernetnya gak mau ngerespon" kata ku mulai cemas.


Anak tante China terus menangis tanpa henti.


"Kamu tenang aja, aku yang akan handle masalah ini" jawab Angkasa.


Aku mengangguk berharap Angkasa dapat di andalkan.


"Pak berhenti di sini" kata Angkasa menepuk pundak pak kernet berharap pak kernet merespon.


Namun tetap saja tidak ada tanggapan sama sekali dari pak kernet, dia masih duduk diam di tempat tanpa pergerakan sama sekali.


"Pak berhenti, kami mau berhenti di sini" kata ku membantu Angkasa.


Masih sama, tidak ada tanggapan sama sekali dari pak kernet.


"Huhu gak berhenti" tangis anak tante China semakin keras yang membuat kami kebingungan bercampur panik.


"Kamu tenang dulu, kami bisa kok hentikan bus ini, kamu jangan nangis lagi ya" kata ku berharap anak tante China itu menuruti ku.


Anak tante China masih tetap menangis, aku di buat makin cemas olehnya.