The Indigo Twins

The Indigo Twins
Tamat



Hari-hari terus berlalu, bulan-bulan bertukar, semuanya berjalan dengan semestinya, tidak ada yang terjadi beberapa bulan ini, semuanya aman terkendali, hantu-hantu yang biasanya datang untuk meminta bantuan kini sudah tidak ada, kami bisa sedikit merasa tenang tanpa adanya gangguan dari mereka yang tak kasat mata.


Aku sudah ujian semester ganjil, liburan panjang juga sudah di lewati, kini aku dan yang lain melangkah ke semester genap yang hanya tinggal beberapa bulan saja, lalu setelah itu kembali libur.


Dengan mengendong tas sekolah ku, aku masuk ke dalam sekolahan bersama Alisa dan juga Reno, kami bertiga berpencar untuk masuk ke dalam kelas masing-masing.


Dengan langkah santai aku berjalan menuju kelas ku, kini tidak ada Angkasa di samping ku, kami memang selalu bertemu di sekolahan, namun tidak di rumah, dia tidak lagi berkunjung ke rumah karena sedang sibuk membantu mengurus perusahaan keluarganya.


Ketika aku sampai di dalam kelas, aku tertegun karena tidak ada satupun orang yang ada di dalam kelas padahal jam sudah menunjukkan pukul 7:12.


"Kok gak ada orang, kemana semua orang, biasanya kan banyak anak-anak yang berada di dalam kelas, kenapa sekarang pada gak ada, apa karena aku terlalu awal datengnya?"


"Tapi enggak kok, ini sudah jam 7 lewat, masa jam segini anak-anak pada gak ada yang datang, biasanya kan mereka duluan yang datang"


Aku merasa heran saat tak menemukan satupun orang yang ada di dalam kelas itu.


Aku melirik jam yang kurang beberapa menit lagi akan masuk, namun tidak ada satupun teman-teman ku yang masuk ke dalam kelas.


"Kemana mereka semua, masa iya mereka gak ada yang datang di jam segini, ini aneh, biasanya mereka gak kayak gini, kenapa sekarang malah begini?"


Aku yang berada di dalam kelas sendirian mereka tak nyaman, ada sesuatu yang aneh menurut ku.


Aku hendak keluar dari dalam kelas, tiba-tiba aku melihat amplop yang terletak di atas meja ku.


Aku dengan penasaran mengambil amplop itu."Amplop apa ini, kok ada di sini, kemarin kan gak ada amplop apapun di sini, kenapa sekarang ada, milik siapa ini?"


Aku melihat amplop itu dengan teliti, aku merasa aneh sekaligus penasaran pada isi amplop itu.


Aku yang penasaran membuka amplop itu, aku langsung kaget di dalam amplop itu terdapat secarik kertas yang penuh dengan darah.


"Datanglah ke alamat xxx, ini penting"


Aku mengernyitkan alis melihat isi dari amplop itu.


"Apa maksudnya, kenapa dia nyuruh aku datang ke sana, ada apa di sana, eh tunggu-tunggu ini dari siapa, kenapa gak ada namanya?"


Aku mencari-cari nama pemilik orang yang sudah mengirimkan amplop itu, aku ternganga melihat nama orang yang tertera di sana.


"Angkasa, kenapa Angkasa ngirim aku amplop ini segala, apa yang sudah terjadi padanya, kenapa ada banyak bercak darah di sini, apa dia kenapa-napa ya?" pikiran-pikiran buruk datang menghampiri ku, aku merasa cemas tanpa sebab saat membaca tulisan yang ada di amplop itu.


"Aku harus ke sana, aku harus pastiin Angkasa baik-baik saja!"


Dengan terburu-buru aku berlari keluar dari dalam kelas untuk datang ke alamat yang tertera dalam amplop itu.


Ketika aku berlari pikiran buruk terus menghampiri, aku takut ada sesuatu yang terjadi pada Angkasa.


"Semoga Angkasa baik-baik saja, semoga tidak ada apapun yang terjadi padanya" aku terus mengatakan itu semua sambil berlari.


Aku tidak peduli berapa banyak orang yang aku tabrak, aku hanya terus berusaha keluar dari sekolahan ini dan datang ke tempat yang sudah Angkasa beritahukan.


Kala aku keluar dari sekolahan, aku langsung menghentikan taksi, lalu meminta supir taksi untuk membawa ku ke tempat yang aku inginkan.


Dengan kecemasan yang luar biasa, aku menunggu mobil ini berhenti di tempat yang aku inginkan, sepanjang perjalanan aku terus berdoa semoga tidak ada yang terjadi pada Angkasa.


Ketika mobil berhenti, aku langsung berlari masuk ke dalam sebuah gedung tua yang sudah terbengkalai.


Banyak patahan-patahan kayu yang berserakan di mana-mana, aku dengan hati-hati berjalan karena banyak paku yang memenuhi lantai.


Aku melihat ke seluruh penjuru gedung yang sepi, tidak ada siapapun yang aku lihat di sana.


"Angkasa" panggil ku, suara ku menggema tanda tak ada kehidupan di dalam gedung ini selama puluhan tahun yang lalu.


"Angkasa kamu di mana"


Tidak ada jawaban, suasana gedung hening, hanya aku seorang yang berada di gedung ini.


Braaak


"Aaaaaaahhh!" pekik ku menjerit saat tiba-tiba ada sebuah kotak yang jatuh tepat di depan ku.


Aku menatap kotak itu dengan tidak percaya, aku berjongkok mengambil kotak itu karena penasaran apa isinya.


Ketika kotak itu terbuka, aku langsung terkejut saat melihat ada surat yang penuh dengan darah.


"Datanglah ke tengah-tengah gedung"


"Maksudnya apa ini, dia nyuruh aku datang ke tengah-tengah gedung, apa yang sudah terjadi padanya sebenarnya, kenapa dia begitu misterius sekali" heran ku saat membaca tulisan di kertas itu.


Aku bangkit dan menatap ke depan yang terdapat sebuah jalan, dengan ragu-ragu aku melangkah, saat aku melangkah aku terus melihat gedung tua ini dan banyak sekali darah yang aku temukan di dinding.


Bau amis menyeruak, aku gemetaran saat berjalan di tempat yang hening dan menakutkan seperti ini walaupun ini masih pagi.


"Angkasa, kamu di mana, kamu jangan nakut-nakutin aku, katakan kamu ada di mana, kamu ada di sini kan?" suara ku menggema di gedung ini, aku tidak melihat satupun orang yang ku temui di sini.


"Ini benar gak ya kalau di sini ada Angkasa, bagaimana kalau di sini gak ada dia?" aku tampak ragu untuk melanjutkan perjalanan.


"Coba saja aku ke tengah-tengah gedung, aku rasa ada sesuatu di sana"


Dengan langkah pelan aku berjalan, mata ku terus melihat keanehan-keanehan yang ada di gedung tua ini.


Aku membuka pintu kamar yang ada di depan ku.


"Aaaaaaahhh!" pekik ku saat melihat darah yang berceceran di lantai.


Aku dengan shock memegangi dada ku.


"Darah apa itu?"


"Apa yang sebenarnya terjadi sama Angkasa, kenapa banyak darah di sini, aku harus cari dia, aku harus temukan dia dan pastiin kalau dia baik-baik saja"


Dengan cemas aku berlari mencari keberadaan Angkasa, aku sangat khawatir ada yang terjadi padanya.


Aku berhenti di pintu kedua, dengan gemetaran aku membuka pintu itu.


"Waaaaaaaaa!" teriak ku histeris saat melihat ada tengkorak yang berada di depan ku.


Tengkorak itu jatuh, ia sudah tidak bergerak lagi, namun rasa deg-degan masih terasa di dalam tubuh ku.


"K-kenapa bisa ada tengkorak di sini, apa yang sebenarnya telah terjadi, kenapa gedung ini angker sekali?"


"Apa mungkin ada sesuatu yang terjadi sama Angkasa?"


"Enggak mungkin, dia pasti baik-baik saja, dia gak mungkin kenapa-napa, aku harus cari dia"


Dengan langkah pasti aku berjalan, mata ku terus melihat sekeliling, banyak sekali darah yang sangat amis yang terus aku temukan di sepanjang jalan.


Aku berhenti tepat di depan pintu, aku menelan ludah pahit, dengan tangan yang gemetaran aku membuka pintu itu.


"Angkasa!" kaget ku tak percaya saat melihat Angkasa yang terbaring dengan lemas di lantai, tubuh yang bersimbah darah.


Baju putih yang Angkasa kenakan penuh dengan darah, darah dari hidung mengalir dengan deras.


"Angkasaaaa!" aku berlari mendekatinya yang terluka parah.


"Angkasa kamu kenapa, apa yang sudah terjadi sama kamu, kenapa kamu jadi begini, siapa yang sudah lakuin ini semua sama kamu" aku menangisi Angkasa saat darah-darah segar itu memenuhi tubuhnya.


"Z-za" dengan suara serak Angkasa berusaha memanggil ku.


"Kamu kenapa sa, apa yang sudah terjadi sama kamu, kenapa kamu sampai kayak gini?"


"Za aku hanya ingin bilang sesuatu" dengan tubuh yang lemas Angkasa menatap ke arah ku.


"Apa yang ingin kamu bilang?"


Sontak aku langsung terdiam, kalimat itu membuat jantung ku berhenti berdetak.


"M-maksud kamu?" dengan tak percaya aku menatap ke arahnya yang sedang sekarat dan sepertinya sangat kesakitan.


"T-tolong jawab, sebelum aku pergi" titah Angkasa dengan suara beratnya.


Aku diam, aku terus menatap ke arah Angkasa yang memegangi dadanya yang penuh dengan darah.


"Zaaa"


"Angkasa jangan tinggalin aku, iya aku mau, asalkan kamu jangan tinggalin aku!" teriak ku saat melihat Angkasa yang hampir pingsan.


Dengan air mata yang terus mengalir aku memeluk tubuhnya yang bersimbah darah, aku takut sekali dia pergi seperti orang-orang terdekat ku.


"Hahahaha"


Aku berhenti menangis saat mendengar tawa pria yang ku tangisi itu.


"S-sa kamu baik-baik aja?"


"Iyalah, aku baik-baik saja, gak ada yang luka juga" jawabnya dengan polosnya.


"J-jadi ini semua akal-akalan kamu aja?"


Dengan senyuman manis pria itu mengangguk.


Bugh!


Aku langsung melayangkan pukulan ke dadanya saat tau kalau apa yang dia lakukan saat ini semuanya fiktif.


"Sa aku kira ini beneran, dari sekolahan aku terburu-buru buat datang ke sini, ketika sampai di sini aku makin cemas saat melihat darah, tapi ternyata itu semua cuman fiktif!" aku tidak habis pikir dengan drama yang sudah dia ciptakan itu.


"Iya aku tau kamu cemas, kamu takut, kamu khawatir sama aku, tapi hanya ini yang bisa aku lakukan dan sekarang aku tau kalau kamu juga sayang sama aku"


"Enggak! aku gak sayang sama kamu, aku benci sama aku!" aku mengusap air mata yang tadi keluar karena cemas saat melihat Angkasa yang terluka seperti ini.


"Halah boong, aku dengar sendiri tadi kalau kamu gak mau kehilangan aku"


"Iiih diam, kamu jahat, kamu jahat, aku benci sama kamu!" dengan kesalnya aku memukulinya karena dia sudah membuat ku menangis akibat sandiwaranya.


Orang yang aku pukuli tertawa terbahak-bahak, dia senang sekali saat melihat ku berhasil ia tipu.


"Maafin aku, aku terpaksa lakuin ini karena kalau aku gak lakuin ini, aku gak akan tau kalau kamu juga nyimpan rasa yang sama seperti ku"


Aku berhenti memukulinya, dengan wajah yang masih kesal aku menatap ke arah lain.


"Jangan marah, kalau marah nanti makin tua loh!"


"Iiih gak ya, aku gak akan makin tua!"


Dengan gemasnya Angkasa mencubit pipi ku, ia terlampau senang saat semua rencananya berhasil.


"Khem"


Seketika pandangan kami tertuju pada Reno dan Alisa yang berdiri di ambang pintu menyaksikan segalanya sedari tadi tanpa aku sadari.


"Wiidih udah real nih ye" ejek Reno.


"Iya dong, emang kalian aja" jawab Angkasa.


"Bagus, ayo kita keluar, di sini lama-lama jadi angker, kamu sih pake dekor gedung tua ini jadi kayak gedung angker, ngeri kan jadinya" ajak Alisa yang sudah tidak tahan.


"Iya, ayo za keluar" ajak Angkasa.


Aku mengangguk, kami berempat keluar dari dalam gedung tua itu.


Kini semuanya terungkap pada hari ini.


Semenjak kejadian itu aku melewati seluruh dunia ku dengan senyuman dan tawa karena ada Angkasa yang berada di samping ku, kami sudah bertunangan, masalah pernikahan akan kami selenggarakan ketika kami sudah lulus kuliah.


Susah maupun senang kami lewati bersama, Alisa bersama Reno, aku bersama Angkasa, kami menjadi tempat yang tidak terpisahkan semala ini.


Kami di pertemukan di kejadian yang cukup mengerikan, banyak sekali rintangan yang sudah kami lalui bersama, kini kami bisa tersenyum bahagia bersama dengan pasangan masing-masing.


...TAMAT...


Terimakasih pada para pembaca yang sudah mengikuti kisah ini dari awal hingga akhir, kini kita sudah berada di penghujung cerita.


Terimakasih saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf, author undur diri assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Jangan lupa mampir di karya:




Misteri Kematian Di Sekolah (ada Angkasa loh di sana)




Di Hamili Genderuwo




Kuntilanak




Di Nodai Genderuwo




Suamiku Bukan Manusia




The Indigo Gril




Terpisah Dari Raga




Gak kalah seru kok dari cerita yang ini, jangan lupa mampir ya!!