The Indigo Twins

The Indigo Twins
Curiga pada pak Tejo dan pak Jarwo



"Kenapa kamu curiga pada pak Tejo, yang nyelenggarain perayaan itu kan pak Jarwo"


"Pak Tejo itu om orang yang sudah ngasih makanan dan minuman pada anak-anak kecil, lalu keesokan harinya ada anak yang hilang, mangkanya sekarang kita curiga padanya"


"Kalian hati-hati dalam nyelesain kasus itu, itu bukan kasus yang mudah, itu berhubungan langsung dengan pak Jarwo, orang kaya di desa, jangan sampai apa yang kalian lakukan di ketahui sama beliau, om hanya takut kalian akan kena masalah besar" peringatan pak Heru.


"Kami akan terus hati-hati om, Aliza yakin kalau sekarang pak Jarwo sudah tau kalau kami lagi berusaha cari tau ada apa di balik perayaan itu"


"Kok bisa gitu, kamu tau dari mana kalau pak Jarwo tau usaha kalian, apa kalian sudah pernah ketahuan?"


"Enggak, cuman pak Jarwo itu punya peliharaan jin, mereka pasti sudah ngasih tau pak Jarwo kalau ada yang sedang berusaha ngungkap misteri itu"


"Terus sekarang apa rencana kamu untuk ngungkap misteri itu?"


"Aliza masih tidak punya rencana om, cuman nanti malam kami akan berusaha nyelidiki lagi dengan cara hadir di perayaan itu, di sana kami akan mencari tau keanehan-keanehan dan semoga saja kami bisa tau titik terang dari misteri ini"


"Kalian harus hati-hati, misteri itu bukan sembarang misteri, jangan sampai kalian kena masalah cuman gara-gara berusaha nyari tau"


"Iya om, kami akan terus berhati-hati, terus ini gimana dengan restoran om, gak mungkin hari restoran bisa buka"


"Masalah restoran nanti di perbaiki dulu, mungkin sekitar 3 hari baru restoran sudah kembali seperti semula, om nanti akan bilang pada bunda kalian kalau kondisi restoran sekacau ini, om juga akan berusaha cari tau siapa dalang yang udah berani buat restoran jadi kayak gini"


"Itu harus om, Aliza gak terima dia main hancurin restoran gitu aja"


Pak Heru mengangguk."Ayo kita ke ruangan cctv, om mau lihat siapa saja pelakunya yang terlibat, mudah-mudahan rekaman cctv itu masih ada"


Kami semua mengangguk dan masuk ke ruangan cctv.


Pak Heru mengotak-atik komputer yang ada di depan hingga terlihat dua orang yang berpakaian hitam, wajahnya di tutupi masker tengah menghancurkan restoran tepat pada pukul 1 malam.


"Jadi dia orang yang sudah berani ngancurin restoran, kurang ajar sekali dia, dia harus di kasih pelajaran" geram Angkasa ketika melihat mereka berdua yang menghancurkan restoran.


"Kayaknya yang ini orang yang barusan aku lihat di depan" aku mengenali salah satu di antara mereka yang tubuhnya kurus tidak gembul seperti temannya.


"Untuk apa dia datang kemari, apa lagi yang dia inginkan?" penasaran Angkasa.


"Sepertinya dia lagi ngelaporin hal ini pada orang yang sudah nyuruh dia" jawab Ustadz Fahri.


"Kalau kayak gini kita harus lebih waspada kedepannya, bahaya semakin lama semakin mendekat, banyak ancaman yang terus berdatangan karena kita yang sangat nekat mencari tau titik terang dari misteri yang berada di desa"


"Itu harus za, nanti malam kita harus cari tau lagi, kita harus bisa ungkap siapa saja yang terlibat, aku yakin pasti di antara pak Jarwo, pak Tejo dan kemungkinan ada warga lainnya yang ikut terlibat di dalam misteri itu" sahut Angkasa.


"Iya, om tolong tangkap pelakunya, masalah kerusakan di restoran Aliza akan telpon bunda, biar bunda yang nyuruh orang untuk perbaiki"


"Iya nanti om yang akan cari pelakunya"


"Ayo kita keluar, kita harus beri tau karyawan kalau restoran terpaksa tutup untuk 3 hari ke depan"


Mereka berdua mengangguk lalu ikut keluar bersama ku.


"Gimana non, masalah restoran ini gimana"


"Untuk masalah restoran terpaksa Aliza tutup dalam waktu 3 hari ke depan, karena banyak kerusakan dan tidak memungkinkan untuk buka, nanti kalau restoran sudah kembali normal seperti semula, Aliza akan beri tau di grup"


"Baik non"


"Mbk mas boleh pulang, tunggu informasi kapan masuknya ya"


Mereka semua mengangguk lalu membubarkan diri dari restoran dan pulang ke rumah masing-masing.


Aku menatap ke arah restoran yang kacau balau.


"Ayo kita pulang" ajak Angkasa yang di balas anggukan oleh ku.


"Mau pulang, restoran tutup" jawab Angkasa.


"Kok tutup, emang ada apaan?" kaget Reno.


"Lihat, ada orang yang sudah ngerusak restoran, untuk sementara restoran terpaksa di tutup, karena banyak alat-alat di restoran yang rusak"


Reno melihat ke arah restoran yang hancur parah."Siapa yang sudah berani rusakin restoran, perasaan waktu itu restoran baik-baik aja"


"Pasti ada orang dengki, ayo kita pulang lagi" ajak Angkasa.


Kami semua kembali pulang ke rumah, di perjalanan aku menghubungi bunda.


"Bun restoran rusak parah, banyak meja dan kursi yang patah, kaca dan piring banyak yang pecah"


"Bunda nanti sore akan pulang lagi ke desa, bunda mau lihat keadaan restoran, kamu tunggu bunda di sana"


"Baik bun"


"Bunda tutup dulu, di sini bunda lagi banyak pelanggan"


Aku mengangguk kemudian bunda menutup panggilan.


"Apa kata bunda?"


"Bunda bilang dia akan pulang lagi ke desa, dia mau lihat keadaan restoran"


Angkasa tidak lagi bertanya dan terus melajukan motor kembali ke desa.


Setelah beberapa saat akhirnya kami sampai di rumah.


"Loh kok kalian pulang lagi?" terkejut Alisa yang tengah berada di teras rumah bersama mbk Indri.


"Ada orang dengki yang udah rusakin restoran, bunda nanti sore bakal pulang lagi ke sini, dia mau lihat keadaan restoran"


"Siapa yang sudah berani rusakin restoran!" mulai emosi Alisa.


"Aku juga gak tau sa, om lagi berusaha nangkap pelakunya kita tunggu saja informasi dari om"


"Sialan orang itu, kalau sampai aku ketemu sama dia, akan aku hajar dia, biar dia tau rasa, berani-beraninya dia nyari masalah sama aku, dia gak mikir konsekuensinya apa, nyesel deh aku gak ikut ke restoran bareng kalian" omel Alisa.


"Besok aja bareng bunda kita ke sananya, bunda bilang akan pulang, mungkin isya' bunda akan sampai di sini"


"Rusak parah ya za?" Alisa mengejar ku yang masuk ke dalam kamar.


"Iya, restoran kacau balau, semua meja, kursi, piring serta kaca hancur berkeping-keping dan berserakan di mana-mana"


"Sekiranya siapa yang sudah berani hancurin restoran" geram Alisa.


"Orang yang dengki, siapa lagi kalau bukan dia"


"Kamu punya musuh sehingga ada orang yang ngelakuin ini semua?" introgasi Alisa yang membuat ku langsung menatap ke arahnya.


"Enak aja nuduh aku, aku gak pernah punya musuh, kamu palingan yang punya"


"Eh enggak, aku gak pernah punya musuh, terus kalau di antara kita gak ada yang punya, siapa doang orang yang patut kita curigai?"


"Pak Jarwo, pak Tejo, dua orang itu yang saat ini jadi ancaman bagi kita, aku ngerasa salah satu di antara mereka yang sudah berani ngerusak restoran"


"Jadi mereka bilang keroknya, aku harus hajar mereka" Alisa melangkah keluar dari dalam kamar ku dengan perasaan kesal.


Dengan cepat aku menarik tangannya."Jangan, kamu jangan main hajar mereka, kita masih belum tau, aku cuman curiga saja sama mereka"