The Indigo Twins

The Indigo Twins
Ke desa Ki Suryo



Selesai makan kami bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Ki Suryo.


"Rani kamu di sini saja ya, kakak mau ke rumah Ki Suryo, cuman sebentar kok" kata Reno.


"Iya aku akan di sini, awas jangan lama-lama" jawab Rani.


Reno mengangguk sambil tersenyum.


Kami masuk ke dalam mobil, Angkasa melajukan mobil itu dengan kecepatan normal.


"Kamu tau rumah Ki Suryo dari mana ren?" tanya Alisa.


"Aku dulu sempat di bawa ke sana sama mama dan papa, aku masih hafal banget jalannya" jawab Reno.


"Untung kamu masih ingat, gak kayak aku yang sudah melupakannya" kata ku.


"Ini ke sebelah mana lagi?" tanya Angkasa saat mobil di hadang dengan dua jalan yang berbeda arah.


"Ke kiri" jawab Reno.


Angkasa menurutinya, mobil terus masuk ke dalam desa, hingga mobil itu berhenti di depan kantor kepala desa.


"Berhenti di sini saja, titip aja mobil ini di sini, di sini aman kok" kata Reno.


"Iya, ayo turun, aku akan minta izin dulu sama kepala desanya" kata Angkasa.


Kami semua keluar dari dalam mobil.


"Permisi pak, saya ingin menintipkan mobil di sini, kami ada urusan sebentar di desa ini" kata Angkasa.


"Kamu tenang saja masalah mobil mu saya yang akan menjamin keamanannya, kalian tidak usah khawatir" jawab pak kades.


"Terimakasih pak, ayo kita langsung ke rumah Ki Surya saja" ajak Angkasa.


"Aku gak tau rumahnya, ren kamu masih ingatkan jalan menuju rumah Ki Suryo?" tanya ku.


"Masih kok, ayo ikuti aku" jawab Reno.


Kami semua mengikuti Reno dari belakang.


Langkah kami berhenti ketika melihat sebuah rumah yang sangat kuno, aku sangat mengenalinya.


"Nah itu rumahnya Ki Suryo" kata Reno.


Kami semua mengamati rumah itu dari kejauhan.


"Seram sekali rumahnya Ki Suryo, lihat noh ada banyak sekali penunggunya" kata Alisa bergidik ngeri.


Pasukan jin hitam dan wanita berdaster putih, hitam, merah memadati rumah Ki Suryo, banyak sekali makhluk-makhluk tak kasat mata yang menjaga rumah itu.


"Ini bagaimana cara kita untuk membebaskan mbk Reni, lihat itu banyak sekali penjaganya" kata Angkasa.


"Iya juga, kita tak bisa masuk dengan tangan kosong seperti ini, kita harus cari akal agar bisa masuk ke dalam tanpa ketahuan sama penjaga gaib Ki Suryo" sambung Alisa.


"Tapi aku merasa kalau mbk Reni tidak ada di rumah Ki Suryo yang ini, di dalam mimpi itu, aku melihat Ki Suryo menaruh botol yang berisikan mbk Reni di kemari kaca yang sekelilingnya di penuh kaca dan rumah itu berada di tengah-tengah hutan" kata ku.


"Kamu masih ingat gak jalan menuju ke sana?" tanya Angkasa.


"Seingat ku ada jalanan kecil di samping rumah Ki Suryo yang menuju ke hutan gelap itu, tapi anehnya jalanan itu tak ada, lihat tuh di samping rumah Ki Suryo tidak ada apapun" jawab ku.


"Terus bagaimana ini, masa iya kita diam saja di sini, bisa-bisa nanti mereka semua yang berada di rumah Ki Suryo sadar dong dengan keberadaan kita" kata Alisa.


Aku tak menjawabnya dan malah mengingat kembali mimpi itu.


Ku perhatikan lagi samping rumah Ki Suryo, mata ku menangkap pohon pisang yang sangat besar dan tinggi berada di sana.


"Iya tau, aku kok merasa aneh dengan keberadaannya di sana ya" jawab Alisa.


"Apa jangan-jangan jalanan itu di tutupi oleh pohon pisang itu" pikir ku.


"Sepertinya iya, ayo kita ke sana dan cek apakah benar atau tidak" jawab Angkasa.


Dengan hati-hati kami berlari mendekati pohon pisang itu.


"Nah kan benar, pantas saja jalanan ini tak dapat kita lihat dari sana, pinter juga Ki Suryo menanam pohon pisang di sini" kata ku saat melihat jalanan kecil di belakang pohon pisang.


"Ayo kita langsung ke sana, sebelum Ki Suryo melihat kita" ajak Reno.


Kami semua melangkah masuk ke jalanan yang sangat sempit dan banyak semak-semak.


Dengan bantuan senter hp sebagai penerang, kami berjalan masuk ke dalam hutan yang gelap, banyak suara-suara hewan-hewan yang terdengar di telinga kami.


"Gelap sekali hutan ini, kenapa aku merinding seperti ini" kata Alisa memegang erat lengan Reno.


"Kamu jangan takut, ada aku di sini" kata Reno menenangkan Alisa.


"Eh mana Tiger kenapa dia tidak terlihat?" tanya ku.


Tiba-tiba Tiger muncul di depan kami.


"Aku di sini, aku tadi bersembunyi takut genderuwo itu menyadari keberadaan ku dan kembali menyerang ku, kalian carilah rumah itu, nanti kalau ada kesulitan langsung panggil aku saja, aku akan langsung datang untuk membantu kalian" jawab Tiger.


"Baiklah" setuju kami.


Tiger menghilang, kami lalu kembali berjalan di tengah gelapnya hutan yang semakin mencekam.


Banyak tanaman berduri dan liar yang kami injak, tapi itu semua tak kami hiraukan, kami masih terus berjalan sampai pada akhirnya sinar matahari kembali di lihat dengan mata kepala kami.


"Itu rumahnya" tunjuk ku pada rumah kuno yang lebih seram dari rumah Ki Suryo.


"Eh tunggu di depan rumah itu kenapa ada banyak sekali makhluk-makhluk aneh yang menyeramkan berwarna hitam" kata Alisa.


"Kita bersembunyi dulu sampai keadaan aman, baru kita masuk ke dalam rumah itu" saran ku.


Kami bersembunyi di balik pohon dan semak-semak, mata kami melihat banyaknya makhluk-makhluk tak kasat mata yang berada di sana.


Makhluk paling tinggi, besar, dan sangat menyeramkan berjalan, entah kenapa mereka semua mengikutinya dari belakang.


"Mau kemana mereka, kenapa mereka berjalan ke arah selatan?" tanya Alisa pelan.


"Tidak tau juga, kita tunggu saja dulu" jawab ku pelan.


Rombongan para genderuwo itu terlihat seperti semut-semut kecil sangking banyaknya, kami bertiga ternganga melihatnya.


Kami masih terus memperhatikan mereka semua, hingga mereka semua tak terlihat lagi karena jarak memisahkan.


"Mereka semua sudah pergi, ayo kita langsung masuk saja ke dalam rumah kuno itu dan selamatkan mbk Reni sebelum mereka semua kembali dan menggagalkan usaha kita" ajak ku.


"Tunggu dulu za, gimana kalau kalian saja yang masuk ke sana, aku dan Reno biar tunggu di sini, kamu setuju gak" kata Alisa.


Aku merasakan sesuatu yang aneh, tiba-tiba aku menyadari maksud dari ucapan Alisa tersebut.


"Tidak setuju, kamu harus ikut ke dalam juga, kamu jangan diam aja di sini, ayo ikut ke dalam bareng kita" jawab ku.


Alisa mengerucutkan bibirnya.


"Aku takut za, nanti kalau semisal aku ikut kamu ke dalam dan ternyata di sana masih ada makhluk hitam itu bagaimana, aku juga yang akan repot, plis ya aku mau di sini saja" mohon Alisa.