
Reno berjalan mencari keberadaan Fendy.
"Mana Fendy ya, kenapa gak kelihatan, biasanya dia ada di balkon" Reno mencari keberadaan Fendy untuk menjalankan tugasnya.
"Ck mana si Fendy, kenapa pas di butuhin gak nongol-nongol" kata Reno terus mencari keberadaan Fendy.
Pandangan Reno tertuju pada seseorang yang saat ini tengah ia cari-cari.
"Itu dia anaknya" kata Reno yang melihat Fendy yang tengah berjalan hendak masuk ke dalam kelas.
"Fendy" teriak Reno.
Fendy langsung berhenti dan melihat ke arah Reno yang memanggilnya.
Reno berlari mendekati Fendy.
"Ayo ikut dengan ku, ada hal yang mau aku tanyain" ajak Reno.
"Hal apa?" tanya Fendy.
"Udah kamu ikut aja nanti kamu juga akan tau" jawab Reno.
Fendy pun setuju, Reno membawa Fendy ke belakang sekolah yang sepi.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini, apa yang ingin kamu tanyain sebenarnya?" tanya Fendy yang sudah sangat penasaran.
"Aku cuman ingin nanya tentang Andin Prayoga sama Jihan Fahira Andini, kamu kenal kan sama mereka" jawab Reno.
"Iya aku kenal, emang ada apaan kamu nanya tentang mereka berdua?" tanya Fendy.
"Pokoknya ada deh, kamu gak perlu tau" jawab Reno.
"Hal apa yang ingin kamu tanyakan tentang mereka berdua, sampai-sampai kamu bawa aku ke sini?" tanya Fendy.
"Begini aku cuman ingin tau di mana rumah mereka, kamu tau gak?" tanya Reno.
"Kalau Andin Prayoga aku gak tau rumahnya, tapi untuk Jihan Fahira Andini aku tau" jawab Fendy.
"Di mana rumahnya" tak sabaran Reno yang ingin segera tau di mana rumah Jihan Fahira Andini.
"Di samping rumah aku, dia tetangga ku" jawab Fendy.
"Kalau dia tetangga kamu, kamu pasti tau dong dia pergi kemana selama ini sehingga dia gak masuk sekolah selama 8 hari?" tanya Reno.
"Iya, aku tau dia gak sekolah kenapa" jawab Fendy.
"Emang dia bolos sekolah kenapa?" tanya Reno.
"Dia itu di jodohin sama orang tuanya, tapi dia gak mau, dia ngambek mangkanya gak mau sekolah, gitu ceritanya" jawab Fendy.
"Di jaman sekarang masih ada perjodohan" terkejut Reno yang mendengar alasan Jihan Fahira Andini tidak masuk sekolah.
"Ada, tapi gak banyak yang masih melakukan tradisi itu" jawab Fendy.
"Andin itu di jodohin sama siapa kok segak mau itu dia sampai-sampai dia bolos sekolah selama 8 hari?" tanya Reno.
"Namanya bukan Andin tapi Jihan" jawab Fendy.
"Iya Jihan, Jihan mau di jodohin sama siapa, kenapa dia kayaknya gak mau banget, apa calon suaminya itu tua, jelek, udah punya bini banyak sehingga Jihan gak mau sama dia ya kan" dugaan Reno.
Bugh!
Fendy menendang perut Reno.
"Arrrrgghh"
Teriak Reno memegangi perutnya.
"Kenapa kamu nendang aku?" tanya Reno tak percaya.
"Enak aja kamu bilang aku tua, jelek, banyak bininya" tak terima Fendy.
"Oh jadi Jihan itu di jodohin sama kamu" tak menyangka Reno.
"Iya" jawab Fendy.
"Hahahaha"
Tawa Reno hingga sakit perut ketika tau segalanya.
"Jangan ketawa" teriak Fendy yang merasa sangat panas ketika Reno menertawainya.
"Iya-iya aku gak akan ketawa lagi" jawab Reno berusaha menahan tawanya.
"Tapi beneran kamu di jodohin sama Jihan?" tanya Reno.
"Iya, aku memang di jodohin sama Jihan, tapi dianya gak mau sama aku" jawab Fendy yang galau brutal akhir-akhir ini.
"Tapi kenapa Jihan gak mau sama kamu, kamu gak jelek-jelek amat sih?" tanya Reno.
"Katanya aku ngeselin, mangkanya dia gak mau sama aku" jawab Fendy.
"Kalau begitu kamu harus berubah biar Jihan mau sama kamu" saran Reno.
"Caranya berubah gimana, ajarin dong" kata Fendy.
"Iya nanti aku akan ajarin, tapi gak sekarang karena aku masih ada tugas, nanti setelah tugas ku selalu aku akan bantuin kamu buat dapetin hati Jihan agar dia mau di jodohin sama kamu" jawab Reno.
"Aku tunggu loh ya, kamu harus bisa bantuin aku" kata Fendy.
"Iya, kamu tenang aja, aku pergi dulu bye" jawab Reno.
Reno pergi meninggalkan Fendy.
"Aku sekarang udah tau kalau Jihan Fahira Andini bukanlah gadis pucat itu, tapi kalau untuk Andin Prayoga nanti aku akan coba cari tau lagi tentang dia, semoga aja dialah orang yang aku cari-cari" kata Reno.
"Sekarang itu aku harus ke taman buat ngasih tau mereka tentang hal ini" kata Reno.
Reno berjalan menuju taman.
Aku dan Angkasa berjalan mendekati kelas Andin Sanjaya yang berada di sebelah kelas yang tadi kami masuki.
Kini kami berdua tengah berdiri di depan kelas 10 B5.
"Sa kita mau nanya sama siapa?" tanya ku.
"Sama teman-temannya, sama siapa lagi" jawab Angkasa.
"Kamu aja yang nanya ya" tintah ku.
"Iya" jawab Angkasa.
Aku tersenyum mendengar jawaban itu.
"Ayo ikut aku masuk ke dalam" ajak Angkasa.
"Iya ayo" jawab ku.
Kami berdua melangkahkan kaki hendak masuk ke dalam kelas 10 B5 itu, baru satu langkah kami menginjakkan kaki tiba-tiba.
"Berhenti"
Teriakan itu membuat langkah kami terhenti.
"Kamu gak boleh masuk ke sini" kata anak yang bername tag Ririn.
"Aku, kenapa aku gak boleh masuk ke dalam?" tanya ku terkejut.
"Kamu itu gila, kamu gak boleh masuk ke dalam" jawab Ririn.
Aku mengerutkan alis karena tak mengerti.
"Gila, kenapa dia bilang aku gila" batin ku merasa aneh.
Aku diam sambil berpikir tiba-tiba aku mengerti apa yang Ririn maksud.
"Aku ngerti sekarang, dia pasti nganggep aku gila karena aku bisa lihat makhluk halus" batin ku.
"Dia gak gila, dia waras, kalau dia gila, dia gak akan berada di sekolahan ini melainkan di rumah sakit" jawab Angkasa.
Ririn tersenyum mengejek.
"Kalau dia waras kenapa dia ngomong sendiri, kadang ketawa-ketawa sendiri, itu semua ciri-ciri orang gila" kata Ririn.
"Iya, dia itu gila, kamu jangan mau temenan sama Alisa" kata Rika.
"Alisa, jadi dia ngira aku Alisa, pantas saja" batin ku.
"Terserah kalian deh, ayo za kita pergi dari sini" ajak Angkasa yang sudah marah namun ia menahannya.
"Loh kok pergi, kita kan belum nanya tentang-
"Udah ayo kita pergi aja, gak usah nanya sama mereka, masih ada banyak kok orang yang pasti kenal sama dia" kata Angkasa.
Aku yang mendengar ucapan Angkasa tak bisa apa-apa lagi selain mengikutinya.
"Ya udah sana pergi, gak usah datang ke sini lagi, dasar orang gila" kata Ririn setengah berteriak.
Angkasa langsung menghentikan langkahnya.
"Udah gak usah di ladenin, gak guna juga, ayo kita pergi dari sini" ajak ku berusaha menenangkan Angkasa.
Angkasa mengangguk lalu kembali berjalan.