The Indigo Twins

The Indigo Twins
Sepi dan sunyi



Motor terus melaju dengan kencang di jalanan yang sepi dan sunyi, sungguh jalanan ini nampak mengerikan sebab ada banyak rerimbunan pepohonan yang menghalangi cahaya matahari sehingga membuat jalanan ini tampak lebih angker.


"Ini di mana, kenapa aku merasa ada yang ngikutin" batin ku melihat ke belakang namun tidak ada siapapun.


"Semoga aja ini cuman perasaan aku aja" batin ku.


Angkasa yang mendengar suara hati ku hanya bisa diam dan terus melajukan motor.


Jalanan gelap dan menakutkan ini terus kami lewati, tiba-tiba aku melihat ada sebuah rumah yang terlihat dari kejauhan.


"Itu ada rumah, ayo kita hanya pada pemiliknya tentang rumah Andin"


Mereka yang mendengar dan melihatnya juga kembali bersemangat.


Reno dan Angkasa menambah kecepatan untuk bisa segera sampai di rumah itu.


"Akhirnya setelah sekian lama ada rumah warga juga yang aku lihat" senang Alisa dengan menyunggingkan senyum.


Saat motor berhenti di depan rumah itu seketika senyuman yang terukir di wajah Alisa langsung sirna.


"R-rumah k-kosong"


Terkejut kami saat melihat rumah itu tak berpenghuni, bangunnya yang indah dan kokoh kini sudah mulai hancur, sebagain atap yang ada hilang dan juga banyak tanaman-tanaman merambat yang memenuhi lantai rumah tersebut, tak cuman itu cat yang berada di tembok itu juga sudah mengelupas yang artinya rumah ini sudah di tinggal oleh pemiliknya puluhan tahun lamanya.


Kami masih diam dengan melihat ke arah rumah itu.


Wussshhhh


Tiba-tiba ada banyangan hitam yang masuk ke dalam rumah itu.


"Sepertinya berada di sini gak aman, ayo kita kembali lanjutin perjalanan, sebelum ada apa-apa"


Mereka mengangguk lalu kembali melajukan motor meninggalkan rumah terbengkalai itu.


"Baru aja aku senang karena ketemu sama rumah warga, gak taunya ternyata rumah itu rumah kosong, ada penunggunya lagi" syukur Alisa karena penghuni rumah tersebut tak mengganggunya.


"Sebenernya kita ini ada di mana, kenapa dari tadi kita jalan, masih aja gak ada satupun orang yang terlihat, dan juga pergi kemana sih Roy, kenapa hilang gitu aja, apa dia gak sadar kalau kita udah gak ngikutin dia lagi" Angkasa merasa aneh pada teman yang saat ini ia lewati.


"Ku rasa Roy gak sadar deh, kalau dia sadar dia pasti akan langsung berhenti dan nyariin kita" jawab Reno.


"Terus ini gimana, gak ada Roy di sini, hanya dia yang tau rumahnya Andin, sedangkan juga pada gak tau, masa kita hanya terus jalan tanpa tujuan kayak gini, apa mungkin kita tersesat ya" pikir Alisa bukan-bukan karena sungguh baru kali ini ia melewati tempat yang menyeramkan sekaligus aneh.


"Gak tau juga, kita jalan aja terus, mungkin rumahnya Andin itu berada di pedalaman, sehingga lama perjalanan ke sana"


"Tau gini lebih baik kita ke sini pas hari Minggu aja, kan enak waktu libur dan waktunya juga lebih banyak, kalau sekarang mah magrib kita pulang dari sini, lihat aja sampe sekarang kita malah belum nemuin rumahnya Andin itu, gimana nanti kalau sumpamanya kita beneran tersesat dan malam tiba, kita mau nginap di mana, di sekitar sini gak ada rumah" Alisa terus cemas memikirkan keadaannya saat ini.


"Iya juga, kalau kita tersesat semuanya pasti akan tambah runyam karena di sini gak ada permungkiman penduduk, dan di kanan dan kiri cuman ada pohon dan pohon" Reno juga sudah mulai merasa ketidaknyamanan seperti Alisa.


"Apa juga kembali aja, gak usah lanjutin perjalanan?" usul Angkasa.


"Jangan, kita tetap lanjutin perjalanan, udah kalian gak usah khawatir, aku yakin banget kok setelah ini akan ada rumah dan permungkiman penduduk, percayalah kalau tempat ini bukan alam gaib"


"Kenapa kamu seyakin itu, emang kamu tau kalau di sini ada permungkiman penduduk?" penasaran Alisa.


"Baiklah, kita tetap lanjutin perjalanan, jika matahari mulai terbenam kita masih belum nemuin rumah, baru kita kembali aja gimana, kalian setuju gak?" Angkasa meminta pendapat mereka semua.


"Iya, kami setuju" jawab mereka.


Aku melihat ke depan.


"Sa itu bukannya gadis pucat" tunjuk ku ke arah gadis pucat yang berdiri di bawah pohon dan di atasnya terdapat bendera berwarna putih.


"Kita tanyain aja pada dia, biar gak jalan terus" usul Alisa.


Kami setuju dan berhenti tepat di depannya.


Gadis pucat itu hendak berlari masuk ke dalam hutan.


"Andin tunggu" teriak ku.


Seketika gadis pucat itu berhenti dan berbalik menatap tak percaya ke arah ku.


"Andin, kenapa kamu tau nama ku?" Andin tidak pernah memberitahukan namanya pada kami sehingga ia merasa sangat penasaran kenapa aku bisa tau namanya.


"Kami mencari tau, kami juga tau kalau kamu itu temannya Roy, apa itu benar?"


Gadis pucat itu mengangguk."Iya, Roy memang teman ku"


"Andin di mana rumah mu, kenapa susah sekali kami temukan, apa kami tersesat atau salah jalan sehingga masih belum nemuin permungkiman penduduk?"


Gadis pucat itu menggeleng."Kalian tidak tersesat, tinggal ikutin jalanan ini saja, nanti kalian juga akan menemukan permungkiman penduduk, memang tempat tinggal ku berada di pedalaman sehingga jauh sekali dari kota"


"Cepat cari rumah ku lalu kembalilah ke kota, jangan sampai kalian berada di sini hingga matahari terbenam" peringatan gadis pucat.


"Kenapa demikian?" penasaran Angkasa.


"Karena kalian akan mendapatkan gangguan, jadi sekarang cepatlah cari apa yang kalian inginkan sebelum makhluk besar dan hitam itu bangun, kalau dia sampai bangun, dia tidak akan membiarkan kalian keluar dari sini semalaman" jawab gadis pucat lalu menghilang begitu saja.


"Kalau seperti itu ayo kita cari rumah Andin secepatnya, baru kembali ke rumah" ajak Reno.


"Iya" setuju kami.


Reno dan Angkasa kembali melajukan motor dengan kecepatan lumayan tinggi karena ingin segera sampai di rumah Andin karena waktu kami sudah tidak banyak lagi.


"Sa lebih cepat lagi, gak akan ada kendaraan lain kok di jalanan ini, kamu tidak usah khawatir nabrak orang"


Mendengar hal itu Angkasa semakin cepat mengemudikan kendaraannya, ia menguasai jalanan ini, ia tidak takut menabrak orang karena sungguh jalanan ini begitu sepi dan sunyi.


Alisa yang melihat motor Angkasa melaju dengan cepat merasa tegang."Ren cepat kejar Angkasa, kita gak boleh kehilangan jejaknya, udah cukup kita kehilangan Roy, jangan Angkasa juga"


"Iya, aku gak akan biarkan itu terjadi, kamu tenang aja" jawab Reno.


Reno mengebut untuk mengejar kami yang berada di depan, ia tidak mau kehilangan jejak kami.