
Teet
Suara bel berbunyi dengan sangat keras.
Seketika aku yang berada di dalam kelas langsung menyunggingkan senyum karena pada akhirnya penantian ku kini sudah usia.
"Ayo sa kita langsung ke parkiran, kita harus ke rumah Andin setelah ini" ajak ku.
Angkasa mengangguk lalu kami berlari menuju parkiran dengan semangat.
"Loh kok tumben kalian duluan yang berada di sini" aku merasa tak wajar saat melihat Alisa yang biasanya selalu datang paling belakang kini sudah berada di parkiran.
"Dia gak masuk ke kelas sejak tadi" jawab Tiger.
"Gak masuk kayak gimana, kamu bolos?"
"Enggak za, aku gak bolos, cuman diskors dari sekolah ini" jawab Alisa.
"DISKORS, kok bisa"
Aku begitu terkejut mendengar jawaban Alisa.
"Kamu diskors kenapa sa?" penasaran Angkasa yang juga merasa kaget.
"Aku diskors karena di tuduh dorong Hani dari atas tangga, padahal enggak" jawab Alisa.
"Kenapa kamu gak coba jelasin sama bu Riska kalau Hani jatuh dari tangga itu bukan karena kamu"
"Gak mempan za, aku tadi itu sampe berantem sama bu Riska cuman karena aku membela diri, tapi semuanya percuma, bu Riska tetap gak dengarin aku sama sekali, dia lebih memihak pada Hani dan geng nenek lampirnya itu, aku kan kesel jadinya, arrrrgghh pengen ku cabik-cabik tubuhnya itu, dasar kepala sekolah gak berguna, pilkis lagi" geram Alisa pada bu Riska.
"Hani, Hani yang mana, kamu kenal sama dia?"
"Enggak, aku gak kenal sama dia, dia itu satu kelas sama Andin, aku aja baru lihat dia tadi doang, tapi entah kenapa gengnya itu membuat berita bohong yang membuat aku diskors dari sekolahan ini" jawab Alisa.
"Berapa hari kamu diskors?" penasaran Reno.
"3 hari, gimana ini, kalau diskors aku gak akan bisa ikut nyelidiki gadis pucat itu, aku kan pengen tau seperti apa dia dan segala kejadian yang menimpanya sehingga dia bisa meninggal" Alisa ingin sekali ikut menyelidiki kasus gadis pucat yang penuh misteri ini.
"Ya mau bagaimana lagi, kita gak bisa bantu kamu, suruh siapa kamu ngelawan bu Riska, diskors kan jadinya" jawab Roy.
"Jadi kamu ngelawan bu Riska"
"Iya, suruh siapa dia ngeselin, ya udah aku lawan aja dia, dia juga sama-sama manusia" jawab Alisa.
"Pantas aja diskors, rupa-rupanya ngewalan guru" Angkasa merasa wajar jika Alisa diskors dari sekolahan ini.
"Ya mau gimana lagi, dia itu guru macam apa coba, masa main hukum orang tanpa bukti kayak gini, aku kan geram, ya udah aku lawan aja dia, biar dia tau rasa, dia pikir aku ini takut padanya, enggak sama sekali" Alisa masih geram pada bu Riska yang ingin ia hajar itu.
Aku begitu terkejut mendengar keberanian Alisa yang sungguh tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
"Za bantuin aku dong, aku pengen sekolah, aku gak mau diskors, ini semua bukan salah aku, aku gak bersalah, tapi guru tak berguna itu malah hukum aku, kan gak adil namanya" mohon Alisa yang berharap aku dapat membantunya.
"Iya aku nanti akan cari tau kenapa Hani bisa jatuh dan siapa pelakunya, biar hukuman kamu di berhentikan"
"Iya sa, kami gak akan tinggal diam kok, kalau kami tau kamu salah, kami mungkin gak bakalan bantuin kamu, tapi di sini kamu gak salah, maka dari itu kami akan berusaha buat nyari bukti kejadian sebenernya yang telah menimpa Hani" Reno juga tak terima jika Alisa diskors dari sekolahan ini walaupun dia tidak bersalah.
"Aakkh makacih, sayang deh sama kalian" terharu Alisa karena teman-temannya pada membelanya.
"Iya, ayo kita ke rumah Andin, Roy kamu tau kan di mana rumah Andin, kamu gak lupa kan sama jalannya?"
"Enggak, aku gak lupa, ayo kalian ikut aku, aku akan bawa kalian ke rumah Andin" jawab Roy.
Kami semua mengejar motor Roy yang melaju terlebih dahulu.
"Ayo sa kejar motor Roy, jangan sampai kita kehilangan jejaknya"
Angkasa mengejar motor Roy di tengah padatnya kendaraan bermotor yang berada di kanan dan kirinya.
"Ren kamu bisa lihat makhluk halus dari kapan?" penasaran Alisa sehingga ia kembali bertanya.
Reno tidak menjawab, ia terus fokus menyetir motornya.
"Reno kenapa sih, kok diam aja, apa dia gak dengar ya" batin Alisa yang merasa aneh.
"Ren kamu kenal gak sama Hani?" sekali lagi Alisa bertanya namun tidak ada jawaban dari pihak Reno.
"Kok Reno masih diam aja, ada apa dengannya, kenapa dia berubah gini, apa aku ngelakuin kesalahan sehingga buat Reno diam dan gak mau jawab pertanyaan aku" batin Alisa.
"Reno kamu kenapa?" cemas Alisa karena Reno tidak mau bicara dengannya.
"Ren kamu marah sama aku?" Reno tetap diam, ia tidak menjawab dan terus mengemudikan kendaraannya.
"Ren, jawab dong, kenapa kamu diam aja, aku punya salah apa sama kamu, kenapa kamu diamin aku kayak gini" Alisa merasa tak nyaman ketika orang yang selalu ceria kini menjadi pendiam.
"Ren katakan kamu kenapa, apa yang terjadi sama kamu, kenapa kamu berubah" penasaran Alisa pada sikap Reno yang tiba-tiba berubah padanya.
"Reno kenapa diam aja, apa yang membuatnya diam kayak gini, kenapa aku merasa gak enak gini" batin Alisa.
"Aku harus buat Reno bicara lagi sama aku" batin Alisa.
"Ren kamu jawab pertanyaan aku, kamu jangan diam aja, apa mungkin kamu bukan Reno teman aku, melainkan hantu" tebak Alisa.
"Enak aja kamu bilang aku hantu, mana ada hantu kayak aku" jawab Reno dengan nada judes.
Alisa langsung tersenyum ketika mendengar Reno menjawab pertanyaannya."Nah gitu dong, kamu jangan marah sama aku, aku minta maaf kalau aku punya salah, aku gak mau kamu berubah"
Reno menghela napas."Aku gak marah sama kamu"
"Terus kenapa kamu malah diam aja saat aku nanya ini itu, pasti kamu marah sama aku, ya kan" pikir Alisa.
"Enggak sa, aku gak akan marah sama kamu, mana mungkin aku marah sama kamu, aku cuma malas bicara doang" jawab Reno.
"Boong, kamu boong, aku tau kalau kamu boong, pasti ada yang kamu sembunyiin dari aku kan, ayo ngaku" tintah Alisa.
"Enggak, aku gak boong, udah deh jangan banyak omong, nanti ke tabrak gimana" jawab Reno.
"Iya deh, aku gak akan ngomong lagi" Alisa pun diam, ia benar-benar tak lagi berbicara ini itu.
Reno tersenyum karena pada akhirnya sifat diamnya itu membuat orang yang ia cintai tak nyaman.
"Aku kira Alisa gak akan berusaha buat aku kembali, ternyata gak sama sekali, Alisa maaf ya, aku bukannya malas ngomong, tapi ada sesuatu yang aku sembunyiin agar kamu tidak tau" batin Reno.
Reno terus melajukan motornya menuju rumah Andin.