
Craangg!
Tiba-tiba telinga kami mendengar suara pecahan yang sangat keras dari dalam rumah.
"Suara apa itu?"
"Kenapa berasal dari dalam?"
"Apa mungkin di dalam memang ada orang?"
Pertanyaan-pertanyaan itu terus mereka ajukan karena rasa penasaran yang telah memuncak.
"Kayaknya suara pecahan itu memang berasal dari dalam rumah deh"
"Apa kita masuk aja ke dalam, karena takutnya ada apa-apa sama pak Prapto" usul Angkasa.
"Ayo kita masuk ke dalam, kita harus pastikan kalau pak Prapto baik-baik saja" jawab Ustadz Fahri.
Alisa membuka pintu yang ternyata tidak di
kunci."Pintunya gak di kunci, ayo kita masuk"
Alisa membuka pintu rumah mbah Gamik.
Kami langsung menutup hidung saat mencium bau busuk yang menyengat saat pintu terbuka dengan lebar.
"Kenapa ada bau sebusuk ini?"
"Berasal dari mana bau busuk ini?"
Kami merasa tak kuat mencium bau busuk yang semakin lama semakin menyengat saja.
"Ayo kita cek ke dalam, saya rasa bau busuk ini berasal dari sana" ajak Ustadz Fahri.
Ustadz Fahri masuk ke dalam rumah itu di susul oleh kami semua.
Banyak ukiran-ukiran kuno yang memenuhi dinding rumah mbah Gamik.
Kami mencari asal bau busuk yang semakin menyengat itu.
"Pak Prapto"
Terkejut kami yang melihat pak Prapto gantung diri, tubuhnya di kerumuni lalat-lalat yang menyebabkan bau busuk yang sangat menyengat.
"Cepat turunkan pak Prapto" Angkasa, Ustadz Fahri dan Reno menurunkan pak Prapto dan meletakkan beliau di kursi panjang yang ada di ruang tamu.
"Tadz apakah pak Prapto masih hidup, coba Ustadz cek denyut nadinya" Ustadz Fahri mengecek denyut nadi pak Prapto.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un, pak Prapto sudah meninggal" aku menutup tak percaya saat pak Prapto ikutan pergi menyusul dukun beranak dan juga mbah Gamik.
"Ya Allah" terkejut ku yang masih shock.
"Kenapa pak Prapto gantung diri, dia punya masalah apa sampai-sampai ngelakuin tindakan ini?" tak menyangka Alisa pada ulah pak Prapto yang benar-benar gila.
"Itu masih belum di ketahui, tapi menurut prediksi saya pak Prapto sudah meninggal sekitar 9-10 hari yang lalu" jawab Ustadz Fahri.
"Mungkin itu arwahnya pak Prapto yang kamu lihat" jawab Angkasa.
"Bau banget tau, aku gak kuat berada di sini lama-lama" Alisa terus menutup hidungnya namun bau busuk yang berasal dari tubuh pak Prapto itu terus menyengat.
"Kamu harus tahan sa, karena kita ke sini bukan hanya mau ketemu pak Prapto tetapi mencari tau ada apa di dalam rumah ini, ayo kita mulai nyari hal-hal penting yang kemungkinan besar tersimpan di rumah ini, teruntuk jenazah pak Prapto kita biarkan saja dulu di sini"
Mereka mengangguk lalu mulai mencari hal-hal penting yang berada di dalam rumah ini.
Di rumah ini ada tiga kamar, yang paling dekat dengan ruang tamu di tempati oleh mbah Gamik, kamar yang tengah di tempati dukun beranak dan pak Prapto sedangkan kamar yang paling pojok di jadikan tempat untuk melakukan ritual-ritual tertentu atau bisa di sebut kamar khusus.
Ustadz Fahri dan Dita masuk ke dalam kamar mbah Gamik, mereka akan memeriksa kamar itu berharap dapat menemukan sesuatu yang berguna.
Mereka berdua memeriksa apakah di dalam kamar mbah Gamik ada benda-benda penting dan berbau mistis atau tidak.
Mereka mencari keberadaan Laras di dalam kamar itu karena mereka curiga kalau Laras di culik oleh mbah Gamik.
"Kok gak ada apapun di sini tadz, kemana Laras, kenapa gak ketemu juga, apa jangan-jangan Laras memang gak ada di sini?" Dita sudah mencari keberadaan temannya sedari tadi namun tetap saja tidak ketemu.
"Saya juga tidak tau Dita, tapi saya yakin kalau Laras memang ada di sini, ayo kita cari lagi, kita harus bisa nemuin dia dan bawa dia pulang, pak Rahmat dan bu Romlah pasti sedang nunggu kedatangan dia" jawab Ustadz Fahri.
Dita mengangguk patuh dan kembali mencari keberadaan Laras di dalam kamar ini.
Mereka mencari kemana pun namun keberadaan Laras tetap tidak mereka temui.
"Gak ada tadz, di sini gak ada Laras, kamar ini kosong, gak ada apapun, percuma kita nyari dia, karena dia gak ada di sini" Ustadz Fahri diam ia merasa aneh saat tidak menemukan Laras di kamar orang yang di curigai adalah dalang utamanya.
"Kok bisa gak ada ya, di mana mbah Gamik nyembunyiin Laras, apa dia gak naruh Laras di sini, kalau gak di sini di mana lagi, tidak mungkin dia nyembunyiin Laras di tempat lain, pasti di rumah ini" yakin Ustadz Fahri.
"Tadz itu buku apa, kenapa terbuka terus?" penasaran Dita pada buku yang berukuran sedang yang berada di meja yang terbuka karena di tiup angin.
Ustadz Fahri mendekati buku itu, ia membuka halaman demi halaman yang terdapat di buku itu.
"Tulisan apa ini tadz, kenapa kayak tulisan bahasa Jepang?" Dita tidak mengerti pada tulisan yang ada di dalam buku itu.
"Ini ana caraka, memang jarang orang bisa membacanya lantaran huruf-huruf ana caraka berbeda dengan huruf bahasa Indonesia pada umumnya, kalau ingin tau dan bisa membaca tulisan ini, maka harus mengenal huruf, bunyi dan tanda baca agar bisa tau artinya satu persatu huruf yang terdapat di dalam ana caraka ini" jawab Ustadz Fahri.
"Bagaimana caranya tau huruf-huruf ana caraka tadz?" Dita mulai penasaran karena ia ingin tau arti semua tulisan di buku itu.
"Harus mempelajarinya, ini adalah aksara Madura, agak susah untuk di pelajari, saya saja tidak tau apa arti tulisan-tulisan di buku ini" jawab Ustadz Fahri.
"Yah percuma kita nemuin buku itu kalau pada akhirnya gak berguna tadz" kecewa Dita.
"Ya mau bagaimana lagi, saya memang tidak bisa baca tulisan di buku ini, namun saya akan simpan buku ini, barang kali akan di perlukan kedepannya" jawab Ustadz Fahri.
"Ayo tadz kita keluar, aku lama-lama sesak berada di dalam kamar ini" ajak Dita.
"Iya ayo" keduanya keluar dari dalam kamar mbah Gamik.
Bau busuk yang berasal dari tubuh pak Prapto terus menyengat.
"Busuk banget, aku gak kuat, ayo kita nunggu di luar aja tadz" ajak Dita.
Ustadz Fahri setuju lalu keduanya keluar dari dalam rumah dan duduk di teras.