The Indigo Twins

The Indigo Twins
Sosok yang sama



Aku melangkahkan kaki ku memasuki ruangan pendingin untuk memeriksa apa saja yang sudah habis.


Dengan membawa catatan, aku mencatat setiap bahan makanan yang hampir habis.


"Semuanya sudah ku catat, waktunya keluar" kata ku.


Aku melangkahkan kaki ku keluar dari dalam ruangan pendingin.


Tiba-tiba aku melihat ada seseorang yang berdiri di dekat dinding.


Aku langsung menghentikan langkah ku dan melihat ke arahnya.


"Dia bukannya gadis pucat yang tadi aku lihat di sekolahan, kenapa dia berada di sini, siapa dia sebenarnya" batin ku.


"Siapa kau?" tanya ku.


Gadis pucat itu diam dengan tatapan kosong.


"Tolong aku" jawab gadis pucat dengan suara serak.


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya ku.


Belum sempat gadis pucat itu menjawab tiba-tiba.


"Za" panggil seseorang dari belakang ku.


Aku langsung menoleh untuk melihat siapa yang sudah memanggil ku.


"Kenapa?" tanya ku.


"Kamu udah nyatet semuanya kan?" tanya Angkasa.


"Udah" jawab ku.


"Ayo keluar, di sini dingin" ajak Angkasa.


"Tunggu sa" cegah ku.


"Kenapa?" tanya Angkasa.


"Loh kemana gadis pucat itu, kenapa dia ngilang" kata ku ketika tidak melihat gadis pucat itu yang berdiri di dekat tembok.


"Gadis pucat?" tanya Angkasa dengan mengerutkan alis.


"Iya gadis pucat" jawab ku.


"Gadis pucat yang mana?" tanya Angkasa.


"Gadis pucat yang tadi siang kita temui saat di sekolah, barusan aku lihat dia di sini" jawab ku.


"Kemana sekarang, kenapa gak ada?" tanya Angkasa yang tidak menemukan sosok yang aku temui.


"Gak tau, dia ngilang gitu aja" jawab ku.


"Kok aneh, dia ngomong minta bantuin gak?" tanya Angkasa.


"Iya, tapi dia belum ngasih tau aku harus bantuin dia dengan cara apa" jawab ku.


"Misterius sekali dia, besok kita cari dia di sekolahan, aku yakin dia pasti ada di sana, ayo kita keluar" ajak Angkasa.


Aku mengangguk lalu keluar bersama Angkasa.


"Sebenarnya dia siapa sih sa, kok misterius banget" kata ku penasaran.


"Apa dia anak yang juga bersekolah di sekolahan kita?" tanya ku.


"Aku juga gak tau, tapi kalau melihat dari seragam yang ia kenakan sih iya, aku merasa dia memang bersekolah di sekolahan kita" jawab Angkasa.


"Kalau benar dia satu sekolahan dengan kita, pertanyaannya kenapa dia bisa meninggal?" tanya ku.


"Itu yang aku bingungkan, besok aja kita cari tau siapa dia, pasti ada yang kenal" jawab Angkasa.


Aku mengangguk mendengar hal itu.


"Sekarang kita kerja lagi, masalah gadis pucat itu besok aja, dia pasti akan muncul di sekolahan" kata Angkasa.


"Iya" jawab ku.


Aku kembali berkerja seperti semula.


"Za Alisa masih belum kembali?" tanya Ustadz Fahri.


"Belum kayaknya tadz, bentar lagi mungkin dia akan kembali" jawab ku.


"Hai aku kembali" kata Alisa menghampiri kami.


"Apakah kalian mencari ku?" tanya Alisa.


"Hehe maaf tadi itu kita kena macet, jadi lama, ini tadz semuanya sudah aku beli, ada lagi yang perlu aku beli?" tanya Alisa.


"Ada, banyak malahan, tapi nanti setelah restoran tutup baru kita beli" jawab ku.


"Emang ada pasar di jam 12, restoran kan tutupnya jam 12" kata Alisa.


"Khusus hari ini aku akan tutup jam 4, karena bahan makanan udah menipis, nanti kita belanja di kebun, gak jauh kok dari sini" jawab ku.


"Aku ikut, aku mau beli buah-buahan yang banyak" kata Alisa.


"Iya, sekarang cepat kerja lagi, sebentar lagi restoran akan aku tutup" kata ku.


"Oke" jawab Alisa.


Mereka semua kembali bekerja seperti semula.


Penghujung hilir mudik datang bergantian, kami melayani pengunjung dengan sangat baik sampai pada akhirnya aku harus terpaksa menutup restoran karena bahan makanan yang sudah habis.


"Ayo katanya mau belanja" kata Alisa.


"Iya, ayo kita ke kebun, kita pilih semua sayur-sayuran yang sudah habis, di sana itu lengkap dan pastinya sayuran ataupun buah-buahan akan lebih fresh kalau beli di kebunnya langsung" jawab ku.


"Iya ayo, aku sudah tidak sabar untuk memilih buah mana yang mau aku beli" kata Alisa.


"Ayo kita langsung ke sana" ajak Angkasa.


Mereka mengangguk lalu masuk ke dalam mobil yang di setir oleh Ustadz Fahri.


Mobil terus melaju keluar dari kota yang padat penduduk.


Saat di perjalanan tak sengaja Alisa melihat seorang gadis pucat yang berdiri di dekat pohon yang ada di pinggir jalan dengan tatapan kosong.


"Itu bukannya gadis pucat yang tadi kita temui di sekolahan" kata Alisa.


"Mana?" tanya ku.


"Itu" tunjuk Alisa pada gadis pucat yang masih berdiri di tempat tanpa pergerakan.


"Iya, dia memang gadis pucat yang sama yang kita temui saat berada di sekolah" kata Angkasa.


"Ngapain dia berada di sana, tadi ada di ruangan pendingin, sekarang malah berada di sana?" tanya ku penasaran.


"Aku rasa dia ngikutin kita deh, tapi gak berani mendekat karena ada Tiger" jawab Alisa.


Tiger berada di atas atap bersama ketiga makhluk tak kasat mata lainnya.


"Tapi buat apa dia ngikutin kita?" tanya Reno.


"Apalagi kalau bukan minta bantuan" jawab Angkasa.


"Kalian gak ada yang kenal sama gadis pucat itu?" tanya ku.


"Enggak ada, dia kayaknya bukan dari anak IPA, mungkin aja dia anak IPS" pikir Angkasa.


"Kok aku gak kenal ya sama dia, kalau memang dia anak IPS" kata Alisa.


"Beda kelas mungkin sama kamu, mangkanya kamu gak kenal sama dia" jawab ku.


"Mungkin aja sih" kata Alisa.


"Kamu coba cari tau siapa dia, mungkin aja ada yang kenal dengannya" kata ku.


"Iya, aku akan coba cari tau, tapi sebenarnya dia itu meninggal kenapa sih, kok masih pake seragam sekolah?" tanya Alisa.


"Itu yang aku bingungkan, kita harus selidiki, aku merasa dia meninggal dengan cara yang tidak wajar, sehingga dia masih bergentayangan dan ngikutin kita" jawab ku.


"Besok kita cari tau" kata Angkasa.


"Nyari taunya gimana?" tanya Alisa.


"Dia kan udah meninggal" kata ku.


"Terus-terus" tintah Alisa.


"Dia pasti gak akan masuk sekolah, nah tugas kita cuman nyari anak yang tidak hadir, baru kita selidiki, pasti dia ada di antara banyaknya anak yang tidak hadir itu" jawab ku.


"Bagaimana caranya kita nyari tau, masa kita tanya satu-satu kelas yang ada di sekolahan untuk tau siapa saja anak yang tidak hadir" kata Alisa.


"Gini aja kita cuman ambil absensi saja, di setiap kelas kan punya absensi, dan absensi itu berada di kantor, nanti saat semua anak dan guru-guru pulang, kita menyelinap masuk ke dalam kantor untuk mengambil absensi, baru deh kita akan tau siapa aja yang gak masuk sekolah" jawab ku.


"Tapi siapa yang mau ngambil absensi?" tanya Alisa.


"Kamu, siapa lagi" jawab kami semua kompak.


"Kok aku sih" kata Alisa.