The Indigo Twins

The Indigo Twins
Terguncang



Aku diam, mencerna baik-baik ucapan pak Selamet.


"Apa benar pak Jarwo jadi hantu, tapi masa belum di makamin sudah jadi hantu, aneh bener" batin ku setengah tidak percaya.


"Kalian sudah selesai yang mandiin jenazah pak Jarwo" mereka bertiga menggeleng kompak.


"Belum pak RT, sama sekali kami belum mandiin jenazah pak Jarwo" jawab Hamid.


"Sekarang kalian mandiin jenazah pak Jarwo, pasti sebentar lagi bakal ada warga yang bilang kalau kuburan sudah selesai di gali, maka dari itu kalian harus cepat-cepat mandiin jenazah pak Jarwo" perintah pak RT.


"Tapi pak RT...


Mereka bertiga saling memandang, wajah pak Jarwo yang menakutkan itu membuat mereka bergidik ngeri, sungguh mereka benar-benar sangat ketakutan ketika teringat pada penampakkan pak Jarwo.


"Kalian jangan takut, saya akan ikut bersama kalian, kalian tak perlu takut lagi" mendengar ucapan Ustadz Fahri mereka merasa sedikit tenang.


"Mari tadz kita ke pemandian" ajak Hamid dengan senang karena kalau ada Ustadz Fahri mereka tidak perlu takut lagi pada pak Jarwo.


Ustadz Fahri mengikuti mereka ke pemandian.


"Ren belikan garam" bisik Ustadz Fahri di telinga Reno.


"Baik tadz"


"Nanti antarkan ke sana ya" Reno mengacungkan jempol tanda setuju, kemudian Ustadz Fahri kembali berjalan mengikuti mereka sedangkan Reno berangkat membeli garam yang Ustadz Fahri minta.


Saat sampai di pemandian Ustadz Fahri melihat jenazah pak Jarwo yang masih melototkan matanya dengan tajam.


"Kenapa matanya pak Jarwo gak kalian tutup?"


"Kami sudah nutup tadz, cuman gak bisa, mata pak Jarwo terus saja melotot tajam seperti itu, padahal kami sudah berusaha buat nutupnya, tetapi tetap saja gak bisa" jawab Selamet.


Ustadz Fahri membaca basmalah terlebih dahulu, kemudian menutup mata pak Jarwo.


"Alhamdulillah, mata pak Jarwo akhirnya bisa di tutup" lega Hamid yang merasa tak terlalu takut, saat mata seram pak Jarwo sudah di tutup.


"Sekarang kalian cepat mandikan jenazah pak Jarwo, sebelum makin malam, saya akan tunggu kalian di sini"


"Baik tadz" jawab mereka semua.


Dengan semangat mereka mulai memandikan jenazah pak Jarwo, mereka ingin cepat-cepat menyelesaikan tugas itu.


Ustadz Fahri menatap sekeliling pemandian yang hanya ada 5 orang, 4 masih hidup, satunya sudah meninggal.


"Tidak ada apapun yang mencurigakan di sini, tadi mereka bilang kalau ada penampakan pak Jarwo di sini, tapi kenapa sekarang malah gak ada, apa mungkin dia sudah pergi" batin Ustadz Fahri.


"Zaki, aku harus kabarin Zaki, dia pasti belum tau tentang hal ini" batin Ustadz Fahri yang teringat pada Ustadz Zaki.


Ustadz Fahri mengeluarkan hpnya dengan terburu-buru, ia ngechat Ustadz Zaki berharap Ustadz Zaki melihatnya.


"Semoga saja Zaki liat dan datang kemari" batin Ustadz Fahri.


"Tadz ini garamnya, saya sudah belikan garam ini seperti yang Ustadz minta" Reno memberikan garam itu pada Ustadz Fahri.


Ustadz Fahri mengambil garam tersebut.


"Terima kasih ren"


"Sama-sama tadz, saya ke yang lain dulu tadz" pamit Reno.


"Iya sana, nanti saya bakal ke sana juga"


Reno meninggalkan Ustadz Fahri yang masih berada di pemandian.


"Pak tolong masukan garam ini ke tong itu, sebelum di kafani nanti di siram dulu pake air garam biar pak Jarwo gak jadi hantu"


"Baik tadz"


"Semoga saja pak Jarwo gak jadi hantu" harapan Hamid.


"Amin"


"Cepat sekarang kalian lanjutin mandiin pak Jarwo, ini sudah jam 10, bisa larut malam kalau gak segera di selesain"


"Baik tadz"


Mereka semua mempercepat proses memandikan jenazah pak Jarwo, mereka berusaha sebisa mungkin untuk bisa selesaim untuk mandiin jenazah pak Jarwo dalam beberapa menit, karena mereka masih merasa merinding saat teringat pada penampakkan pak Jarwo yang begitu seram.


Di luar aku Alisa, Reno dan Angkasa masih diam di tempat, kami tidak membahas apapun, karena tidak mau ada warga yang curiga kalau kami adalah orang yang nemuin mayat-mayat itu.


"Pak tolong siarkan kematian pak Jarwo di masjid, biar warga-warga pada tau kalau pak Jarwo sudah meninggal dan mereka bisa datang ke sini untuk bantu membantu" suruh pak RT pada pak Rahmat.


"Baik pak RT, saya yang akan ngumumin, pak RT di sini saja, saya akan kembali secepatnya" jawab pak Rahmat.


"Terima kasih pak"


"Sama-sama pak RT"


Pak Rahmat berangkat menuju masjid untuk menyiarkan kematian pak Jarwo.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa wabarakatuh, innalilahi wa innailaihi roji'un, telah meninggalnya pak Jarwo pada hari ini, mohon pada seluruh warga datang ke rumah pak Jarwo" siaran itu membuat semua orang yang mendengarnya terkejut.


Craangg!


Gelas yang mbk Indri pegang pecah berkeping-keping saat mendengar kenyataan pahit itu.


"Papa, papa meninggal, enggak mungkin, gak mungkin papa meninggal, itu pasti bohong" mbk Indri yang tengah terguncang terus berusaha meyakinkan dirinya kalau apa yang barusan ia dengar tidak benar.


"Indri kamu kenapa?" khawatir Ustadz Zaki saat melihat mbk Indri yang tiba-tiba lemas di dapur.


"Papa aku gak mungkin meninggal, mas bilang sama aku kalau siaran itu salah kan?" dengan air mata yang mengalir, mbk Indri menatap ke arah Ustadz Zaki.


"Mas, kenapa mas diam, katakan pada ku, siaran itu salah kan?"


"Itu benar Indri, Fahri kabarin saya barusan kalau pak Jarwo sudah meninggal"


Tubuh mbk Indri langsung kehilangan keseimbangan, dengan cepat Ustadz Zaki menangkapnya.


"Indri" khawatir Ustadz Fahri yang mendapati mbk Indri yang tiba-tiba lemas saat tau berita itu.


"Mas papa aku gak mungkin meninggal, itu salah, Ustadz Fahri salah hiks hiks"


Ustadz Zaki mengerti kalau mbk Indri pasti terpukul ketika mendengar berita itu.


"Kamu hanya sabar, masih ada saya di sini, kamu jangan merasa kalau kamu saat ini sendirian"


"Huhu papa, kenapa papa bisa meninggal, apa yang sudah terjadi sama papa" isakan tangis mbk Indri terdengar memilukan hati.


Ustadz Zaki membawa mbk Indri ke dalam pelukannya.


"Sstt jangan nangis, yang namanya kematian kalau sudah waktunya pasti akan terjadi, tidak ada satupun orang yang dapat menghindarinya, walaupun musibah ini berat, kamu harus bisa terima"


Mbk Indri menangis dalam pelukan Ustadz Zaki.


"Papa, kenapa papa ninggalin aku, papa maafin aku"


"Sudah jangan nangis, ayo kita susul Fahri dan yang lain, kamu mau lihat papa mu kan?"


Mbk Indri mengangguk."Mangkanya ayo kita berangkat ke sana, kamu ambil kerudung sana, saya tunggu di depan"


Mbk Indri mengangguk lalu berlari masuk ke dalam kamarnya sedangkan Ustadz Zaki menunggu mbk Indri di depan.