
Jenazah Roy sudah selesai di makamkan, tangisan masih belum berhenti.
Satu persatu anggota geng Arashka dan orang-orang terdekat Roy memberikan bunga pada makam Roy yang membuat makam tersebut penuh dengan bunga hingga tanah tak dapat terlihat walau sedikitpun.
Pihak keluarga Roy satu persatu pergi meninggalkan pemakaman umum ini, kini di sini hanya tinggal Alisa, kak Tias, Reno dan juga anggota geng Arashka saja
Alisa dengan air mata yang mengalir meletakkan bunga yang tadi ia beli di dekat batu nisan Roy.
"Roy tadi kamu minta ini kan, lihat aku udah bawakan bunga mawar putih ini untuk mu, semoga kamu tenang di sana, istirahat dengan tenang, sekarang kamu udah gak akan sedih lagi karena di sana ada Andin dan juga Elfa" Alisa menyeka sedikit air mata yang mengalir.
Kak Tias yang melihat mawar putih itu teringat pada seseorang."Tadi Roy minta kamu buat beli bunga ini?"
Alisa mendongak menatap ke arah kak Tias."Iya kak, tadi aku tinggalin Roy di rumah sakit sendirian karena dia minta aku buat beli bunga mawar ini, tapi pas aku sampai di sana, Roy udah sekarat"
Wajah kak Tias langsung layu."Kak kenapa Roy minta aku buat beli bunga mawar ini, apa kakak tau artinya?"
"Mawar putih ini adalah bunga yang setiap hari Roy berikan pada Khalisa, dia sangat menyayangi adiknya, walaupun Khalisa udah meninggal, tapi dia gak pernah lupa buat ngasih bunga ini padanya" jawab kak Tias.
Alisa pun mengerti kenapa Roy memintanya membeli bunga mawar putih itu meski keadaannya sedang sakit.
"Yas, kita pulang dulu, kita tunggu kamu di markas" kak Tias mengangguk lalu kemudian Daniel dan geng Arashka lainnya meninggalkan pemakaman ini.
"Roy, kenapa kamu pergi, kamu tidak kasihan pada kami, bagaimana nasib kami kalau kamu pergi" teman Roy yang bernama Gilang terus menangisi kepergian Roy, ia memeluk batu nisan Roy.
"Gilang ayo kita pergi" ajak Aldi.
"Aku gak mau pergi, aku mau sama Roy, aku mau di sini, kalian pergi aja" tolak Gilang yang terus menangisi Roy namun sayangnya tak ada air mata yang terjatuh hanya teriakannya saja yang terus terdengar.
"Udah ayo kita ke markas, kalau kamu kangen sama Roy, nanti malam datang ke sini lagi, temenin dia barang kali dia takut" ajak Gabriel.
Gilang langsung berhenti berteriak-teriak dan langsung bangun."Aku tidak mau, kalau malam-malam datang ke sini seperti halnya dengan mencari masalah, di sini itu kuburan, kalau ada penampakan gimana, ayo kita pergi dari sini saja"
Gabriel tersenyum saat usahanya berhasil membuat Gilang mau pergi dari pemakaman ini.
Geng Arashka keluar dari pemakaman ini."Sa ren aku duluan ya, soalnya aku mau ke markas dulu" pamit kak Tias.
"Iya kak, gpp pergi aja" jawab Reno.
Kak Tias kemudian keluar dari pemakaman ini dan menyusul teman-temannya.
Alisa masih terus menatap ke arah batu nisan Roy, sesekali air mata mengalir tanpa aba-aba.
Reno yang melihat orang yang ia cintai kacau juga merasa sedih."Sa ayo kita pulang, ini udah sore, nanti keburu malam di jalan"
"Aku gak mau pergi ren, aku mau di sini aja" jawab Alisa.
Reno menghembuskan napas."Sa Aliza pingsan, kita harus cek keadaan dia"
Mendengar hal itu Alisa langsung bangun dan menatap ke arah Reno dengan terkejut."Pingsan, kenapa bisa pingsan, apa yang udah terjadi sama Aliza?"
"Aku juga gak tau, ayo mangkanya kita ke dia, kita lihat dia kenapa" jawab Reno.
"Ya udah ayo" keduanya berjalan keluar dari dalam pemakaman umum ini.
"Gimana dok, apa yang terjadi pada Aliza, kenapa dia bisa pingsan?" khawatir Angkasa yang takut ada sesuatu yang terjadi pada ku.
"Pasien baik-baik saja, pasien bisa jatuh pingsan karena tidak makan dan juga kurang tidur" jawab dokter itu.
"Jadi Aliza gak makan seharian ini, kenapa aku gak merhatiin hal itu" batin Angkasa.
"Tapi dia gak apa-apa kan dok?" dokter itu tersenyum, ia melihat jika Angkasa masih sangat khawatir takut ada apa-apa dengan ku.
"Tidak mas, pacarnya gak apa-apa, dia baik-baik saja, masnya tidak usah khawatir, saya tinggal dulu ya mas, kalau butuh apa-apa tinggal panggil saya aja atau suster-suster yang berjaga di sini" jawab dokter itu.
"Iya dok" dokter itu keluar dari dalam ruangan IGD.
"Za bangun, buka mata kamu" tintah Angkasa.
Aku menggeliat, lalu pelan-pelan membuka mata dengan memegangi kepala."Sa di mana aku ini, kenapa aku ada di sini?"
"Kamu di puskesmas, tadi kamu tiba-tiba pingsan saat di pemakaman Roy, mangkanya aku bawa kamu ke sini" jawab Angkasa.
Aku duduk dari tidur ku."Za apa benar kamu gak makan seharian ini sehingga kamu bisa pingsan?"
"Lupa, dari kemarin aku gak makan, kemarin pas pulang dari rumah Andin aku capek banget, ya udah aku langsung tidur aja"
"Seharusnya paginya kamu itu makan, biar gak sakit" suruh Angkasa.
"Tadi pagi kan kita sibuk buat nyari Elfa, gak sempet aku makan, dan tadi siang kita dapat kabar kalau Roy meninggal"
"Ya udah sekarang kamu makan, aku udah beliin buat kamu" Angkasa memberikan bakso pada ku.
"Gak ah sa, aku gak mau makan, aku udah kenyang"
"Gak ada penolakan, sekarang kamu harus makan, kalau kamu gak mau makan aku akan telpon ayah sama bunda biar mereka marahin kamu" ancam Angkasa.
"Iih kenapa kamu beraninya ngacem sih"
"Bodo yang penting kamu makan, ayo aku suapin, buka mulut cepetan" dengan sangat terpaksa aku membuka mulut ku lalu Angkasa memasukkan makanan itu ke mulut ku.
Angkasa melihat wajah ku yang sangat terpaksa memakan makanan itu."Kamu itu harus makan, biar gak sakit, kamu mau nyusul Elfa sama Roy dan Andin apa sehingga nyiksa diri kayak gini?"
"Enggaklah, aku masih mau hidup, gak mau mati dulu"
"Ya udah mangkanya kamu harus jaga kesehatan, karena masih ada kasus yang belum kita selesain" jawab Angkasa.
"Kasus apa, emang ada kasus lagi?"
Angkasa langsung mengerutkan alis."Masa kamu lupa sih?"
"Sumpah aku gak inget sama sekali, emang kasus apaan?"
"Itu loh kasusnya dukun beranak sama nenek-nenek misterius itu, mereka berdua kan masih belum kita selesain" jawab Angkasa.
"Oh masalah kasus itu, nanti kita selesain aja biar mereka gak gangguin kita dan juga warga-warga setempat"