
Kemal mengepal kuat tangannya, ia memberikan tatapan tajam pada Angkasa, wajah Kemal di penuhi dendam dan kemarahan yang berkobar.
Angkasa melihat ke arah wanita itu yang pelan-pelan menjauhi mereka, wanita melakukannya dengan sepelan mungkin agar tidak ada satu orang pun di antara mereka yang sadar dengan tindakannya.
"Bagus, dia sudah mulai menjauh, mereka tidak akan mencelakai dia lagi, usaha ku membuat mereka panas akhirnya berhasil" batin Angkasa.
"Apa kamu mau melihat dengan mata kepala mu sendiri kalau kami itu hebat!" tantang Kemal.
"Tentu saja, aku ingin melihatnya dengan mata kepala ku sendiri, bukan omongan mu saja, aku tidak akan percaya kalau kau tidak menunjukkannya pada ku"
Ustadz Fahri menatap tak percaya ke arah Angkasa, kali ini ia merasa kalau sudah cukup Angkasa meremehkan mereka, Ustadz Fahri benar-benar khawatir kalau mereka bertiga melakukan apa yang sangat ia takutkan.
"Baiklah kalau seperti itu, kau akan melihat bagaimana kami menghabisi orang" jawab Kemal yang menyetujui tantangan Angkasa.
"Tujukan, aku ingin lihat"
Kemal melirik ke sampingnya."Dia mana wanita itu!"
Mereka berdua langsung sadar kalau wanita yang akan mereka bunuh sudah tidak ada di sana.
Wanita itu menjadi panik saat mereka mencari-cari dirinya, ia yang akan hendak keluar dari sana dengan melewati pintu belakang tercekat saat mata mereka bertiga jatuh padanya.
"Gawat, aku harus pergi dari sini" batin wanita itu yang tercekat.
Wanita itu hendak keluar dari jendela yang pecah, mereka bertiga berlari mendekatinya yang akan segera melarikan diri.
"Jangan pergi, kau jangan coba-coba pergi dari sini kalau kau tidak mau mati di tangan ku!" hardik Kemal yang melihat wanita itu akan melarikan diri.
Wanita itu menjadi panik saat mereka mendekatinya dengan memegang pisau, ia benar-benar takut saat melihat senjata tajam itu.
Kemal dengan memegang pisau hendak menusuk pisau itu ke arah wanita itu tiba-tiba.
Bruk!
Kemal langsung ambruk saat Angkasa melemparnya dengan balok kayu, balok kayu itu mengenai kepala bagian belakangnya dan berhasil membuat Kemal jatuh pingsan.
Pandangan Edi dan Romi menatap ke arah mereka berdua yang masih tampak santai setelah membuat Kemal jatuh pingsan.
"Kau!" geram Edi karena sejak tadi mereka terus menghina dia dan juga teman-temannya.
"Kenapa, kenapa kau menunjuk ke arah ku!" tampak tenang Angkasa, ia tidak merasa panik atau takut sedikitpun walaupun mereka tengah memegang pisau.
"Kau harus di kasih pelajaran, sudah membuat bos kami seperti ini, kau malah berlagak kayaknya orang tidak punya dosa!" marah Romi.
"Itu adalah permulaan, kau dan seluruh teman-teman mu akan menderita setelah ini, kalian semua itu sudah membuat hantu terompah dan orang-orang yang tidak berdosa meninggal dengan sadis, kalian harus di hukum yang seberat-beratnya, biar kalian tidak berbuat hal yang keji seperti ini!"
"Kami tidak mau, kami tidak mau berhenti, karena dengan begini kami bisa kaya dalam waktu sekejap, tanpa harus bekerja keras seperti orang-orang!" ngeyel Romi.
"Kau memang kaya, kaya dosa, semua harta mu itu tidak berguna, karena harta-harta mu adalah harta panas, memang kau di dunia ini akan merasakan yang namanya senang, tapi setelah di akhirat saya jamin kau akan merasakan yang namanya sengasara!"
"Kau jangan kebanyakan omong, jangan sok-sokan ceramah, walaupun kau Ustadz, tapi kau tidak pantas di sebut Ustadz, lebih baik kau pergi saja dari desa ini, sejak kedatangan mu desa ku menjadi tidak senyaman dulu, itu semua terjadi gara-gara kamu!"
"Itu tidak ada masalahnya dengan saya, desa kalian bisa seperti ini karena kalian sendiri, kalau bukan kalian yang sudah melakukannya desa ini tidak akan seperti ini, jangan menuduh orang yang bukan-bukan kalau kalianlah pelakunya, saya minta kalian menyerahkan pada polisi, jika kalian mau selamat!"
"Itu tidak akan pernah terjadi, kami tidak akan pernah menyerah pada polisi, percuma kalian menyuruh kamu menyerah karena itu tidak akan pernah terjadi"
"Silahkan, silahkan kau datang ke kantor polisi dan laporin kami, kami tidak takut!"
wiu wiu wiu wiu wiu
Suara sirine polisi tiba-tiba terdengar di telinga mereka semua.
Mereka berdua yang ada di dalam rumah kosong menjadi panik saat mendengar suara sirine polisi.
"Gawat, polisi, kita harus pergi dari sini" panik Romi yang kalang kabut saat mendengar suara sirine poois itu.
Belum sempat mereka pergi para polisi sudah mengepung rumah kosong itu.
Pak Heru masuk ke dalam rumah kosong dengan memegangi senjata apinya.
"Jangan bergerak!"
Sontak mereka berdua langsung mengangkat tangannya, wajah mereka menjadi panik ketika melihat polisi di depannya.
"Letakkan senjata kalian!"
Mereka terpaksa menurut, karena mereka tidak mau polisi itu menembaknya.
"Pak Abu, pak Jerry, ringkus mereka!"
"Baik komandan"
Mereka berdua meringkus ketiga penjahat itu dan membawanya masuk ke dalam mobil polisi dan akan membawanya ke kantor polisi, sementara wanita itu juga di bawa ke kantor polisi untuk menjadi saksi atas kejahatan mereka.
Aku dan yang lain langsung menemui Angkasa dan Ustadz Fahri yang ada di depan rumah kosong.
Kami semua mengamati mobil polisi yang pelan-pelan meninggalkan rumah kosong untuk membawa para perampok itu ke tempat yang tepat untuk mereka yaitu penjara.
"Mereka sudah di amankan, ayo kita pulang ke rumah, ini sudah malam" ajak Ustadz Fahri.
Kami semua mengangguk, kami berjalan meninggalkan rumah kosong yang amat angker dan menakutkan itu.
Tiba-tiba langkah kami terhenti ketika melihat hantu terompah yang masih berdiri di tempat yang sama, ia seperti menunggu kedatangan kami.
"Mereka sudah di penjara, mereka tidak akan ganggu masyarakat lagi, seperti kesepakatan yang sudah kita buat, kamu harus pergi dari desa ini setelah mereka berhasil di tangkap"
"Baik, aku akan pergi dari desa ini, aku tidak akan mengganggu mereka lagi, terima kasih kalian semua sudah mengamankan mereka" jawab hantu terompah dengan nada yang serius, pandangannya lurus ke depan tanpa berkedip.
Kami semua mengangguk kompak dengan perasaan hati yang tenang karena setelah ini hantu terompah tidak akan mengganggu desa ini lagi.
Wussshhhh
Hantu terompah menghilang, ia berubah menjadi asap dan tak lagi kami lihat.
"Dia sudah pergi, ayo kita balik ke rumah" akal Angkasa.
Kami semua pulang ke rumah, suasana desa kembali seperti semula, tidak lagi mencekam seperti tadi setelah hantu terompah benar-benar pergi dari desa ini.