
Tak berselang lama dari itu sholat jenazah selesai di lakukan.
Saatnya telah tiba untuk mengantarkan Andin ke tempat pengistirahatan terakhirnya.
Kami berlima ikut mengantarkan jenazah Andin ke pemakaman umum yang ada di desa ini.
Sepanjang perjalanan aku dapat melihat dengan jelas gerak gerik makhluk halus yang berusaha untuk mengganggu kami, namun kami tidak menggubrisnya dan terus berjalan menuju pemakaman umum.
Beberapa menit kemudian akhirnya kami sampai di pemakaman umum, jenazah Andin di masukkan ke dalam liang lahat dan di tutupi oleh tanah.
Saat pelan-pelan tubuh Andin di tutupi oleh tanah tangis Roy kembali pecah.
"Andin" panggilnya lirih.
Angkasa dan Reno yang berada di dekat Roy terus mengusap punggung Roy yang tak kuasa menahan tangisnya saat Andin orang yang selama ini bersamanya tidak akan dapat ia lihat kembali.
"Yang sabar ya Roy"
"Iya Roy, kamu harus sabar, aku yakin kamu bisa lewatin ini semua" keduanya terus berusaha menguatkan Roy yang rapuh.
Roy berusaha untuk tegar menghadapi ini semua.
Setelah beberapa saat akhirnya pemakaman Andin selesai di lakukan.
Kami semua kembali ke rumah Andin.
"Ayo anak-anak kita pulang, besok kalian harus sekolah" ajak pak Heru.
"Iya om, om tunggu di mobil aja, kami mau pamit pada orang tua Andin dulu" jawab Alisa.
Pak Heru mengangguk lalu berjalan mendekati mobil patroli bersama rekan-rekannya.
"Ini siapa yang mau pamitan sama orang tuanya Andin?" tangan mereka langsung menunjuk ke arah Roy.
Roy langsung menghembuskan napas."Ya udah, ayo kita dekati mereka" ajak Roy dengan lemas.
Kami senang mendengar hal itu lalu dengan cepat mengikuti Roy.
"Permisi tante" ekspresi tante Dara langsung berubah saat melihat Roy di yang kini hadapannya.
"Ngapain kamu ada di sini, saya kan sudah bilang, jauhi Andin, jangan dekati dia, lihat sekarang Andin pergi dan itu semua gara-gara kamu" kami terkejut mendengar ucapan tante Dara yang melimpahkan segala kesalahannya pada Roy.
"Saya udah berusaha tante, sebelum Andin meninggal saya memang sudah berusaha buat ngindarin dia, namun apa yang terjadi, Andin malah di jahatin sama orang lain ketika saya tidak ada di dekatnya"
"Jadi kamu nyalahin saya begitu?" nada suara tante Dara tiba-tiba langsung meninggi.
Roy diam ia tidak menjawab."Kamu sudah berani nyalahin saya, saya ini ibu kandungnya Andin, saya tau betul tentang Andin, saya merasa sejak Andin berpacaran dengan kamu dia menjadi kayak gini, dia pasti di bunuh sama musuh mu, kamu kan anak geng motor yang banyak sekali musuhnya"
Kami semakin shock ketika tau kebenaran ini.
"Saya memang anak geng motor tante, namun saya yakin sekali jika Andin meninggal bukan karena di bunuh sama musuh dari geng saya melainkan ada orang yang memang berniat jahat padanya jauh sebelum saya datang di kehidupannya" yakin Roy.
"Halah kamu alasan saja, sekarang kamu berusaha untuk membela diri, jelas-jelas ini semua terjadi gara-gara kamu, kalau kamu tidak berpacaran dengan anak saya, dia tidak akan meninggal, saya tidak akan kehilangan anak saya, Andin meninggal itu gara-gara kamu, kamu adalah orang yang patut di salahkan dalam hal ini" teriak tante Dara.
Roy tertawa paksa."Tante nyalahin saya, tante harus instrospeksi diri, tante itu orang tua yang sudah merawat dan melahirkan Andin, namun tante tidak tau apapun tentangnya, karena tante terus saja sibuk dengan harta, harta dan harta, tante tidak pernah sama sekali merhatiin Andin, dia itu butuh kasih sayang tante, bukan harta tante" tegas Roy.
"Tante di mana ketika Andin butuh bantuan, tante di mana ketika Andin terluka, apa tante menolongnya?"
"Tidak, jawabannya tetap tidak!"
"Tante tidak pernah melihat jika Andin selama ini haus akan kasih sayang, tapi tante tidak peka, tante hanya terus sibuk dengan pekerjaan tante, tanpa melihat jika anak tante sudah tidak pernah tersenyum, bahkan dia tidak tau bagaimana caranya tersenyum" Roy mengatakan hal itu dengan penuh penekanan.
Ucapan Roy itu menusuk tajam ke dada tante Dara.
"Tante coba ingat-ingat apakah Andin tersenyum, apakah tante melihat senyumannya?" tante Dara diam.
"Tidak bukan, itu tandanya dia sudah kehilangan dirinya sebelum mengenal saya, saya ini selama ini terus berusaha buat dia kembali seperti dulu, tapi tante tidak ngerti apa yang menjadi kebahagiaan Andin"
"Tante ingin Andin bahagia bukan?" tante Dara tiba-tiba bungkam.
"Iya kan?"
Tante Dara masih diam.
"Tante ingin Andin bahagia, namun tante tidak pernah tau apa yang menjadi kebahagiaannya, tante malah merenggut kebahagiaan Andin dengan cara menyuruh dia untuk ninggalin saya, apa salah saya tante, saya memang anak geng motor namun saya tidak akan merusak anak tante, saya hanya ingin memberikan warna di kehidupannya yang gelap gulita karena orang tuanya terus gila pada harta" teriak Roy penuh penekanan.
Plak!
Tamparan keras itu mendarat di pipi Roy.
Roy menatap tak percaya ke arah tante Dara.
"TUTUP MULUT MU" teriak tante Dara.
"Kenapa saya harus diam tante, kenapa saya harus diam?"
"Kamu jangan seolah-olah menyalahkan saya dari kematian Andin ini"
"Jika tante tidak mau di salahkan, siapa lagi, SIAPA LAGI YANG HARUS DI SALAHKAN!"
"Di sini itu memang tante yang salah, tante itu gagal menjadi orang tua yang baik!" tegas Roy tak main-main.
Plakkk!
Sekali lagi tamparan keras mendarat di pipi Roy.
"Diam kamu, kamu itu orang baru di dalam kehidupan Andin, kamu jangan sok pintar, saya ini yang sudah melahirkan dan merawat Andin, jadi saya tau seperti apa anak saya"
"Tante memang orang yang sudah melahirkan dan merawat Andin namun tante bukan orang yang menjadi tempat sandaran Andin ketika Andin butuh bantuan, tante hanya ibu yang tidak tau apa-apa tentang anaknya, apa tante tidak bisa berpikir kalau meninggalkan anak gadis seorang diri di dalam rumah itu bahaya, apa tante tidak memikirkan jika Andin ketakutan saat di malam hari, apa tante tidak bisa berpikir ke arah sana hah!"
Roy menatap ke arah tante Dara."Tante Andin ketakutan, dia butuh dekapan tante, namun tante tidak mengerti"
"TUTUP MULUT MU, kamu itu hanya biang kerok yang datang di kehidupan Andin, dia itu tidak butuh kamu, dia lebih butuh orang tuanya dari pada anak berandalan seperti kamu"
"Tante saya menang anak berandalan, saya memang nakal, tapi saya tulus mencintai anak tante, saya tulus mencintainya tante"
"Andin tidak butuh cinta mu, pergi kamu dari sini, jangan pernah kembali ke sini lagi, kamu sudah buat anak saya mati, kamu yang sudah bunuh dia, saya benci pada mu"
"Saya tidak membunuhnya, saya tidak membunuhnya, saya hanya mencintainya, saya hanya mencintainya tidak lebih" teriak Roy dengan menendang tembok sekuat tenaga untuk melampiaskan unek-uneknya selama ini.
"Roy, Roy, kamu tenangin diri kamu, kamu jangan kayak gini" Reno dan Angkasa terus berusaha menenangkan Roy yang melukai dirinya sendiri hanya karena kejadian ini.
"Lepasin, jangan cegah aku"
"Roy, kamu tenangin diri kamu, aku tau kamu terluka, tapi gak gini juga, ini namanya melukai diri sendiri, kamu harus sadar" teriak Angkasa yang memegang erat tangan Roy yang terus meninju dinding itu hingga tangannya berdarah-darah.
"Pergi kalian dari sini, jangan pernah datang ke sini lagi" usir tante Dara.
"Ayo kita pergi dari sini" ajak Angkasa.
Angkasa dan Reno menyeret paksa Roy dari sana.