The Indigo Twins

The Indigo Twins
Misteri suara minta tolong 2



Aku terus menghadap ke arah lain, aku tidak mau melihat dia lagi, rasa penasaran memang sudah hilang namun kini berganti dengan rasa penyesalan karena terlalu penasaran.


Angkasa agak sedikit mempercepat laju mobil agar menjauh dari wanita seram itu.


"Siapa dia ya, kenapa dia berdiri di sana?" penasaran Alisa ketika mobil menjauh dari wanita itu.


"Kayaknya dia meninggal gak wajar deh sehingga gentayangan dan malah cegat kita di sana" sahut Reno.


"Tapi masalahnya dia meninggal di mana dan untuk apa dia berdiri di sana, apa dia orang di desa Kamboja juga?" dugaan Alisa.


"Enggak tau, kita biarkan aja dulu, dia juga gak bilang apa-apa, kita anggap saja dia adalah hantu yang mau gangguin kita, kita jangan pikirin dia dulu, biar gak jadi masalah kedepannya"


"Iya, nanti kalau dia datangin kita lagi, kita langsung tanyain apa yang dia inginkan dari kita" setuju Angkasa.


Reno dan Alisa mengangguk setuju, Angkasa terus melajukan mobil menuju sekolahan.


Mobil membentang jalanan yang luas dan padat, banyak sekali pelajar-pelajar dan juga pekerja-pekerja yang melintas di jalanan raya.


Tak berselang lama dari itu mobil berhenti di parkiran, kami semua turun dari dalam mobil, kami masuk ke dalam sekolahan, lalu mencari kelas masing-masing karena sebentar lagi bel akan berbunyi.


Teeet


Bel berbunyi dengan nyaring, anak-anak masuk ke dalam kelas masing-masing, begitu juga dengan aku dan Angkasa, kami masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku masing-masing.


tap


tap


tap


Terdengar suara derap kaki yang mendekat, kebisingan yang terjadi di dalam kelas seketika langsung berakhir karena telinga mereka semua mendengar suara seseorang yang di pastikan adalah seorang guru yang akan masuk ke dalam kelas.


Seorang bu guru cantik masuk ke dalam kelas ku, ia langsung duduk di bangku kebesarannya, aku merasa asing dengan guru itu, karena sebelumnya aku tidak pernah di ajari olehnya.


"Selamat pagi anak-anak" sapanya dengan senyuman manis dan ramahnya pada kami semua.


"Selamat pagi bu" jawab mereka semua kecuali aku dan Angkasa.


Pandangan kami berdua tertuju pada seorang wanita yang wajah dan bajunya penuh dengan darah-darah yang mengalir, bau anyir menyeruak dan itu semua hanya dapat di dengar oleh kami berdua, wanita itu berdiri di samping bu guru cantik yang baru mengajar sekarang.


"Sa siapa wanita itu, kenapa dia ikutin bu guru" bisik ku di telinga Angkasa, aku benar-benar penasaran sekali pada wanita itu yang wajahnya seram dan sangat menakutkan.


"Mana aku tau, tapi dia kok gak asing ya, di mana ya kita ketemu sama dia?" Angkasa merasa tak asing dengan sosok perempuan yang mengikuti bu guru itu.


Sosok itu tak henti-hentinya menatap ke arah kami, dia sepertinya tau kalau kami dapat melihatnya.


Aku berusaha mengingat-ingat siapa sosok wanita yang mengikuti bu guru, aku juga merasa tidak asing dengan wajahnya.


"Sa dia sosok yang tadi pagi berdiri di depan gapura, kamu ingat kan sama hantu yang tadi cegat kita saat kita akan ke sekolah?"


"Aduh iya, dia memang orang yang sama, kenapa dia ikutin bu guru itu, siapa dia sebenarnya, dan juga kenapa dia cegat kita di sana, apa yang dia inginkan?"


"Aku gak tau, kita nanti setelah istirahat coba cari tau tentang dia, biar gak penasaran seperti ini"


Angkasa mengangguk setuju, kami saat ini berusaha tetap tenang seperti tidak ada yang terjadi dengan bu guru dan juga sosok perempuan yang seram itu.


Kami berlagak layaknya anak-anak biasa yang tidak melihat keberadaan hantu itu agar tidak di bilang aneh oleh orang-orang yang ada di dalam kelas ini.


"Perkenalkan nama saya Dinda Kirana, kalian bisa panggil bu Dinda" bu guru itu memperkenalkan dirinya di depan kami semua.


"Baik bu" jawab kami semua.


"Sekarang kalian buka halaman 36, udah mau ujian ya, kita agak ngebut sedikit karena takut materinya ada yang gak di pelajari, nanti kalian akan jawab apa kalian soal yang keluar belum di ajarin"


"Iya gak apa-apa bu"


Pelajaran di mulai, aku tak fokus sama sekali dengan pelajaran yang bu Dinda terangkan, pandangan ku hanya terus tertuju pada sosok wanita misterius yang begitu mengerikan, sosok itu tidak berpindah sedikitpun, dia masih berada di tempat yang sama, seperti tak ada niatan untuk pergi sama sekali.


"T-tolong aku" titah sosok wanita itu dengan mendekati kami.


Kami berdua menelan ludah pahit saat dia berdiri tepat di hadapan kami, bau anyir darah tercium menyeruak, perut ku terasa mual saat mencium bau darah yang bersalah dari tubuh wanita misterius yang saat berdiri di hadapan kami.


Aku dan Angkasa menundukkan pandangan, sosok seram itu terus mengamati kami, kami tidak bisa berbuat banyak, yang bisa kami lakukan hanya diam dan berusaha tetap tenang meskipun keadaan tidak mendukung.


"Kenapa dia berdiri di depan aku segala, apa dia gak mikir kalau kami lagi ketakutan, apa yang sebenarnya dia inginkan, kenapa dia malah berdiri di sini" batin ku ketar-ketir saat hantu itu masih tidak kunjung pergi dari hadapan kami.


Semua orang yang berada di kelas ini tidak sadar dengan keberadaan sosok seram itu, mereka terus fokus ke pelajaran sedangkan jantung kamu cenat cenut karena sosok itu tak kunjung pergi ataupun berpindah tempat sedikitpun.


Aku menatap ke arah sosok perempuan itu.


"Kenapa dia masih belum pergi, kenapa dia menyiksa ku seperti ini, apa yang dia inginkan, aku tau dia ingin minta tolong, tapi tak bisakah dia mengutarakan niatnya nanti saja" batin ku yang ketakutan.


Keringat-keringat dingin bercucuran di wajah ku saat hantu seram itu masih diam di tempat, ia tidak ada niatan untuk pergi sama sekali.


Pelajaran terus berlangsung, selama pelajaran berlangsung aku tidak fokus sama sekali, telinga ku tidak mendengarkan apapun yang bu Dinda terangkan.


"Ayo cepat istirahat, aku sudah tidak tahan lagi, aku rasanya mau muntah, aku tidak bisa berada di titik ini, aku mohon pergilah dari sini, jangan ganggu aku, kalau kau mau minta bantuan nanti saja" batin ku yang sudah tidak tahan dengan bau darah yang terus menyengat itu.


Keringat-keringat dingin terus bercucuran, aku merasa pusing dan mual saat terus menerus mencium bau darah, aku sebisa mungkin menahannya, karena tidak mungkin aku izin di tengah pelajaran hanya karena ingin pergi dari sosok perempuan itu.


Teeet


Akhirnya bel yang kami tunggu-tunggu berbunyi dengan nyaring, aku benar-benar lega saat mendengar suara bel yang aku tunggu-tunggu sejak tadi.


Bu Dinda menutup buku dan mengakhiri pelajaran, anak-anak maju untuk bersalaman dengannya.


Aku dengan gemetaran beranjak dari tempat duduk ku dan menyalami punggung tangan bu Dinda.


Aku tercekat saat mencium bau kembang kuburan saat mencium tangan bu Dinda, aku menatap tak percaya ke arahnya.


"Kenapa kamu natap saya seperti itu?"


"Enggak bu, enggak apa-apa" aku tersenyum menyembunyikan segalanya, aku tidak mau dia menganggap ku aneh.


Bu Dinda kemudian melangkah keluar dari dalam kelas, sosok seram itu mengikutinya dari belakang, aku bernapas lega saat sosok itu kini pergi juga.


Aku kembali ke tempat duduk ku, jam kedua saat ini tidak ada gurunya, otomatis kelas menjadi ramai dan tak terkendali.


Angkasa melirik ku yang sedari tadi diam."Kenapa za, kenapa kamu tiba-tiba diam, apa yang terjadi?"


"Kamu tau gak sa, aku barusan nyium bau kembang saat bersalaman dengan bu Dinda"


Angkasa mengerutkan alis."Bau kembang, kok aku gak nyium apa-apa?"


"Tapi kenapa saat aku salaman sama dia, aku malah nyium bau kembang kuburan, makin ke sini kok aku makin merasa curiga sama dia, sebenarnya dia siapa dan kenapa ada sosok perempuan seram itu yang ikutin dia dari tadi?"


"SOSOK PEREMPUAN" tercekat mereka bertiga.


Kami menghadap ke belakang, kami sedari tadi tidak sadar kalau mereka bertiga mendengarkan obrolan kami.


"Sosok perempuan apa yang kalian maksud?" penasaran Roki.


"Kalian salah dengar, gak ada sosok perempuan apapun kok"


"Kamu jangan boong za, jelas-jelas kami dengar ada sosok perempuan yang kamu bilang barusan, jadi kalau kalian masih boong itu percuma" jawab Roki.


Aku menatap ke arah Angkasa untuk meminta pendapatnya.


"Bagaimana ini?"


"Enggak tau za, apa kita bilang aja sama mereka yang sebenarnya?" bisik Angkasa di telinga ku.


"Sekiranya mereka dapat di percayai enggak?"


"Mana aku tau"


Braak!


"Woy, kenapa malah bisik-bisik tetangga" Roki menggeplak meja dan membuat kami berdua kaget.


"Jangan berisik napa, nanti ada guru yang masuk ke sini!" omel Fikram pada kami semua.


"Y" itulah balasan yang keluar dari mulut Roki.


"Siapa sosok perempuan yang kalian maksud, cepat bilang sama kami?" Dimas sudah sangat penasaran pada sosok perempuan yang tak sengaja ia dengar.


"Kami akan bilang tapi kalian harus jaga rahasia ini baik-baik" syarat Angkasa.


"Iya, kalian tenang aja, kami gak akan bocorin kok, kami ini anak yang amanah" jawab Byan.


"Kami itu tadi lihat ada sosok perempuan yang seram banget tengah ikutin bu Dinda, Aliza bilang saat dia salaman sama bu Dinda, dia mencium bau kembang kuburan, kami saat ini penasaran sekali dengan siapa bu Dinda sebenarnya dan siapa sosok perempuan seram itu" jelas Angkasa.


Mereka bertiga sontak diam, mereka benar-benar terkejut mendengar penjelasan itu.


"Kok bisa ada sosok perempuan yang ikutin bu Dinda" terkesiap Roki.


"Itu masalahnya, kami curiga kalau kematian sosok perempuan itu ada hubungannya dengan bu Dinda" jawab Angkasa.


••••••


Jangan lupa dukungannya, kalau updatenya dikit maklumin ya karena saat ini ada kakak sepupu saya yang meninggal kemarin usia kecelakaan, kronologis kematian dan segalanya akan saya ceritakan di novel yang berjudul (Kampung Hantu) cerita itu akan luncur pada bulan puasa, sebenarnya mau luncur awal bulan ini, tapi gak jadi karena takut gak bisa update, bukan karena konfliknya yang gak ada, cuman waktunya yang sedikit. novel yang akan luncur pada bulan puasa itu adalah kisah nyata yang di alami oleh orang-orang di dekat saya, saya ambil povnya dari orang yang bersangkutan tak mengubah sedikitpun inti cerita, hanya saja alurnya yang di permak agar lebih menarik.


Novel yang satu itu benar-benar serem, saya yang dengar ceritanya dari emak aja 3 hari 3 malam gak bisa tidur, ini sebenarnya cerita emak saya pada tahun 80an atau gak 90an tapi tetap berlanjut sampai saat ini, kalian tunggulah novel itu luncur, saat ini saya tengah mengantongi 45 lebih konflik nyata, novel itu akan menjadi novel terpajang dan akan lama tamatnya.


Kenapa sekarang up-nya dikit Thor? karena saya takut, tadi malam saya semalaman gak tidur karena merinding, jadi maklumin ya, jangan lupa dukungannya, tanpa dukungan kalian, cerita ini gak akan naik! terimakasih