The Indigo Twins

The Indigo Twins
Misteri pemuda yang di ikuti kingkong 9



"Ayo habiskan setelah itu berangkat ke sekolah, ingat hati-hati nanti yang mau bantuin Reno jangan sampai kalian bertiga terluka" kata bunda.


"Siap Bun" jawab kami.


Kami melanjutkan memakan sarapan pagi.


"Gimana kalau kita pakai mobil aja pas melakukan pelarian ini, sumpamanya kalau pakai motor nanti pas kita berada di dalam keadaan terdesak kita akan ketangkap sama orang tua Reno" kata ku.


"Aku sih setuju aja tapi masalahnya siapa yang mau menyetir mobil, aku gak tau menahu tentang hal itu" kata Alisa.


"Aku bisa kok" jawab Angkasa.


"Nah Angkasa bisa tuh, boleh ya Bun kita pakai mobil aja" tintah ku.


"Boleh tapi hati-hati jangan ngebut ya sa, kalau ada apa-apa tinggal hubungi bunda sama ayah biar kita bisa langsung bantuin kalian" jawab bunda.


"Sip Bun, aku sudah selesai ayo kita berangkat ke sekolahan aja" ajak ku.


Keduanya mengikuti ku berdiri, kami menyalami punggung tangan ayah, bunda, kakek dan juga nenek.


"Hati-hati ya ndok" kata nenek.


"Iya nek" jawab kami.


"Kami berangkat dulu assalamualaikum" kata ku.


"Wa'alaikum salam eh ini bekalnya bawa, habisin ya" kata bunda menyerahkan bekal.


Kami mengambil bekal itu dan memasukkannya ke dalam tas.


"Buat Reno mana Bun" kata Alisa.


"Ini kamu bawa juga nanti kasihkan pada Reno" kata bunda.


"Siap Bun" jawab Alisa.


Kami masuk ke dalam mobil, Angkasa melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang.


"Apa saja yang kamu lihat dalam mimpi itu za?" tanya Angkasa.


"Aku melihat semuanya, aku juga tau kalau selama ini mbk Reni tidak kembali ke dalam alamnya melainkan dia masih di kurung dalam botol kaca kecil dan di letakkan di dalam lemari kaca yang ada di dalam rumah kuno, rumah itu ada di dalam hutan yang gelap" jawab ku.


"Kasihan mbk Reni kita harus tolongin dia" kata Alisa.


"Itu harus nanti setelah Reno dan Rani berhasil kita keluarkan dari dalam rumah yang penuh dengan kegelapan itu, baru deh kita akan bantuin mbk Reni biar terbebas dari dalam botol dan bisa kembali ke dalam alamnya" jawab ku.


"Kamu tau gak di mana rumah kuno itu?" tanya Angkasa.


"Aku ingat rumahnya hanya saja aku lupa jalan menuju desa tempat tinggal Ki Suryo, coba aja kita tanya Reno nanti mungkin saja dia tau di mana desa itu berada" jawab ku.


"Iya nanti aku yang akan tanyain" kata Alisa.


Mobil terus melaju di atas atap sudah ada Tiger dan mbk Hilda.


Mobil berhenti di parkiran, kami keluar dari dalamnya.


"Ayo kita langsung ke taman saja, kita lihat apakah Reno sudah sampai di sana atau belum" ajak Alisa.


"Iya ayo" jawab ku.


Kami berlari menuju taman sekolah.


"Gak ada siapapun di taman ini yang artinya Reno masih belum sampai" kata Angkasa saat sampai di sana.


"Kita tungguin saja dulu, pasti sebentar lagi Reno akan datang kok" jawab ku.


"Apa orang tua Reno sudah tau ya tentang rencana kita ini?" tanya Alisa.


"Kalau menurut ku dukun itu pasti sudah tau dari kingkong yang mengikuti Reno" kata Angkasa.


"Biarin aja dia tau, dia pikir dia akan terus jadi dukun yang berjaya, tak akan aku biarkan hal itu terjadi, suatu saat nanti dia pasti akan merasakan dampaknya karena telah melakukan hal yang tidak benar selama ini" geram Alisa.


"Kalian tau gak di dalam lemari kaca itu banyak sekali botol-botol kaca yang artinya sudah ada banyak korban yang berjatuhan karena Ki Suryo" kata ku.


"Wah kita harus bisa buat Ki Suryo berhenti, bisa-bisa akan ada banyak nyawa yang melayang kalau kelakuannya tidak segera di hentikan" jawab Alisa.


"Itu harus, kita harus buat dia berhenti tapi bagaimana caranya?" tanya ku.


"Nanti kita pikirkan setelah rencana membebaskan Reno dan Rani selesai" jawab Angkasa.


Tak ada lagi percakapan setelah itu kami hanya sedang fokus menunggu Reno dengan perasan yang tidak tenang, pikirkan buruk itu terus saja bergentayangan.


"Hai semua" sapa suara familiar.


Kami semua menoleh ke arahnya yang tengah membawa tas besar.


"Alhamdulillah akhirnya kamu datang juga kami sampai dag dig dug takut usaha mu di ketahui oleh mama papa mu" syukur Alisa.


"Enggak kok mama sama papa gak tau tentang rencana ku, jadi kita aman sekarang" jawab Reno.


"Kamu nanti bawa saja tas mu ini ke dalam mobil ku, aku nanti akan anterin kamu" kata Alisa.


"Iya" jawab Reno.


"Kita ngapain ini?" tanya Angkasa.


"Bahas strategi, ren gimana bentuk rumah mu, kamu punya fotonya gak?" tanya ku.


Reno mengeluarkan hp ia menunjukkan foto rumahnya.


Kami bertiga melihatnya dengan teliti.


"Pasti ada satpam yang menjaganya tak mungkin gak ada" kata Alisa.


"Memang ada satu satpam namanya pak Beni dia itu baik banget sama aku, dia gak mungkin sama seperti mama dan papa" jawab Reno.


"Gimana cara masuk ke dalam rumah mu apa ada pintu belakangnya?" tanya ku.


"Ada kalian masuk saja dari pintu belakang, tak lama dari itu akan ada jalan yang berkurang sedang yang terhubung dengan ruangan yang menjadi tempat Rani di sekap selama ini" jawab Reno.


"Kita lewat pintu belakang saja, nanti kita bahas posisi dan strategi detailnya setelah istirahat saja, sudah mau bel nih kita balik ke kelas dulu takut di hukum sama pak Abi" kata ku.


"Iya ayo ren aku anterin kamu ke mobil" ajak Alisa.


Aku dan Angkasa masuk ke dalam kelas sedangkan Alisa dan Reno melangkah menuju parkiran.


"Nah kamu tarok aja di bagasi, aku mau ke kelas dulu mbk Hilda jagain ya" kata Alisa saat sampai di parkiran.


"Iya sana kalian masuk saja ke dalam, mbk dan Tiger yang akan jaga di sini nanti setelah istirahat mbk akan temuin kalian" jawab mbk Hilda.


"Siap kita tunggu di taman ayo ren" ajak Alisa.


Keduanya berjalan di koridor mereka harus berpisah karena kelas yang memang berbeda.


"Sampai jumpa" kata Reno.


"Sampai jumpa juga nanti langsung ke taman ya" jawab Alisa.


"Iya aku akan langsung ke sana" kata Reno.


Alisa lalu melangkah menuju kelasnya dengan wajah yang cemberut ia begitu malas harus bertemu dengan teman sekelasnya yang begitu menyebalkan.


"Bismillahirrahmanirrahim ya Allah ku mohon hari ini saja jangan buat mood ku berantakan, kau buat semua teman-teman ku bisu satu hari ini saja kalau bisa selamanya biar mereka tidak menganggu ku terus" keinginan Alisa.