The Indigo Twins

The Indigo Twins
Makhluk hitam itu tidur nyenyak



Angkasa terus melajukan motornya, aku melihat ke kanan dan kiri yang sudah sepi karena kami sudah masuk ke dalam jalanan yang di kanan dan kirinya terdapat pepohonan yang menjulang tinggi.


Semak-semak belukar dan banyak sekali tanaman-tanaman hijau yang berada di kanan dan kiri ku.


"Kok kita masuk ke dalam jalanan yang kayak di desa, apa rumah Andin itu berada di pedesaan?"


"Kayaknya iya deh za, liat aja di sini semuanya pohon dan pohon doang, aku merasa Andin itu selama ini hidup di desa, mangkanya dia jarang bergaul sama kayak kamu" jawab Angkasa.


Aku diam tak menjawab karena saat ini tatapan mata ku jatuh pada seorang gadis pucat yang berdiri di dekat pohon besar dengan senyuman manisnya.


Untuk pertama kalinya aku melihat dia tersenyum, biasanya dia selalu menangis dan lari saat aku bertanya terkait kematiannya.


"Itu bukannya gadis pucat" tunjuk ku ke arahnya yang masih diam di tempat.


"Iya dia memang gadis pucat itu, jadi benar dia memang tinggal di sekitar sini, lihat itu dia kayak nungguin kedatangan kita" jawab Angkasa.


"Untung kita ketemu sama Roy, kalau tidak, mungkin kita gak bakal tau kalau dia tinggalnya di pedesaan juga kayak kita"


"Iya" jawab Angkasa.


Aku kembali melihat ke depan dan mendapati jika Roy sudah hampir tak terlihat.


"Sa cepat kejar Roy, kita gak boleh kehilangan jejaknya"


Angkasa mengangguk lalu mengejar Roy yang semakin menjauh.


Roy terus melajukan motornya dengan tenang, sedangkan kami terus mengejarnya dari belakang.


Roy masuk ke dalam gapura besar dan tinggi.


"Sa berhentiiii"


Angkasa langsung mengeram mendadak ketika mendengar teriakkan ku.


"Ada apa za?" penasaran Angkasa yang sudah di buat jantungan oleh ku.


"Lihat" tunjuk ku ke arah pohon beringin yang berada di sebelah kanan yang jaraknya sekitar 1 meter dari gapura.


Angkasa melihat apa yang aku lihat."Gawat, kenapa dia ada di sini, gimana kalau dia gangguin kita"


Reno menghentikan laju motornya, ia merasa aneh pada kami yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan.


"Ada apaan, kenapa kalian berhenti di tengah jalan kayak gini?" penasaran Reno.


Kami diam, tidak ada yang menjawab.


Alisa mengerutkan alis melihat kami yang tiba-tiba diam.


"Apa yang kalian lihat?" penasaran Alisa.


"Itu" kami menunjuk ke arah pohon beringin yang terdapat makhluk berbulu hitam yang biasa kami sebut kingkong tengah duduk di depan pohon beringin dalam keadaan tertidur.


"Arrrrgghh" teriak Alisa, dengan cepat Reno membawanya ke dalam pelukannya agar tak membuat makhluk berbulu hitam dan lebat itu bangun.


"Ssstt jangan berisik" Reno menempelkan satu jarinya di bibirnya.


Alisa langsung mengangguk dan menutup mulutnya.


Aku melihat ke arah kingkong itu yang masih berada di alam mimpinya, tubuhnya tak bergerak sama sekali meski Alisa berteriak senyaring itu


"Gimana ini, kenapa dia ada di sini, aku takut dia gangguin kita, apa aku minta Tiger usir dia" Alisa meminta pendapat mereka.


"Jangan, kita jangan gangguin dia, dia itu lagi tidur, kalau di ganggu aku hanya takut dia marah dan neror kita yang bukan-bukan" larang Angkasa.


Alisa melihat ke arah kingkong itu yang tidur nyenyak."Terus gimana ini, kita gak bisa lewat kalau gak usir dia"


"Sepertinya dia gak menyadari keberadaan kita deh, ayo kita masuk aja, mudah-mudahan dia gak bangun"


"Iya, ayo kita kejar Roy lagi, loh kemana Roy, tadi dia ada di depan kita" terkejut Angkasa saat tak menemukan Roy.


Mereka semua mengangguk lalu kembali melajukan motor.


Aku melihat ke arah kingkong itu yang masih berada di alam mimpi.


"Syukurlah dia gak bangun"


"Mudah-mudahan dia gak bangun sampai kita keluar dari dalam desa ini" harapan Angkasa.


"Amin"


Reno menambah kecepatan agar motornya sejajar dengan motor kami."Tadi Roy pergi kemana, kalian ada yang liat gak?"


"Enggak, aku gak lihat Roy pergi kemana, kita cari aja dulu, semoga aja kita bisa nemuin dia lagi" jawab Angkasa.


"Gimana ini, masa kita masih harus nyari keberadaan Roy, bisa magrib kita balik dari sini" Reno takut sekali jika waktu siang terbuang karena mencari keberadaan Roy yang tiba-tiba menghilang.


"Sa kamu telpon Roy, dan bilang kalau kami kehilangan jejaknya"


Alisa mengangguk lalu menekan nomor Roy.


tutt


tutt


tutt


Telepon Roy berdering, namun Roy tidak mengangkatnya ia masih terus melajukan motornya tanpa sadar kalau kami tidak ada di belakangnya.


"Gimana sa?"


"Gak di angkat, aku rasa Roy masih nyetir sehingga dia gak dengar kalau hpnya bunyi" jawab Alisa.


"Terus ini gimana, masa kita jalan tanpa arah gini" ucap Reno.


"Enggak tau, gimana dong?" Alisa merasakan kekhawatiran yang sama seperti yang lainnya.


"Apa kita kembali aja ke jalanan awal biar gak tambah tersesat?" saran Angkasa.


"Jangan, kita udah berada di titik ini, kita jangan kembali ke jalanan awal lagi, percuma kita pergi diam-diam dari genderuwo itu kalau pada akhirnya kita gagal mau nyari rumah Andin"


Reno terus memajukan motornya."Terus gimana dong za, masa kita terus jalan gini?"


"Kita terus jalan aja, nanti kalau ketemu sama rumah warga, kita turun dan tanyain rumah Andin, pasti mereka ada yang tau keberadaan rumah Andin"


Mereka semua setuju lalu terus melajukan motor meski di kanan dan kiri masih ada pohon dan pohon.


Tak ada satu rumah pun yang kami lihat saat ini.


Alisa merasa aneh pada jalanan ini."Za kamu ngerasa aneh gak sih?"


"Aneh gimana?"


"Aneh, masa dari tadi kita jalan masih gak ada satu rumah pun yang terlihat" jawab Alisa.


"Mungkin keberadaan warga jauh dari gapura, mangkanya masih belum kita lihat"


"Mungkin aja, tapi masa iya dalem banget dan herannya kenapa gak ada warga yang terlihat, kemana mereka semua, kenapa gak ada yang berkeliaran, apa mungkin jalanan ini jalanan gaib" terkejut Alisa yang takut sekali jika hal itu terjadi.


"Kalau jalanan ini jalanan gaib, berati Roy juga gaib, udah deh kamu jangan overthinking dulu, kita terus jalan lagi aja, aku yakin kok pasti ada rumah setelah ini"


Alia diam tak lagi berbicara.


Reno dan Angkasa terus melajukan motornya di jalanan yang sepi dan sunyi ini.


Meskipun Alisa diam, ia masih merasa sangat khawatir kalau apa yang ia takutkan akan terjadi.


"Semoga saja jalanan ini bukan jalanan gaib, aku gak mau masuk ke alam gaib, karena kata Aliza di sana ada banyak hantunya, iih aku gak mau ketemu sama mereka" batin Alisa yang begidik ngeri.