
Polisi itu mendekati pak RT."Pak RT jenazahnya pak Prapto mau di bawa kemana?"
"Bawa saja ke rumah saya, saya yang akan nanggung semuanya" jawab pak RT.
Polisi itu mengangguk mengerti."Pak RT kami mau membawa Angkasa dan Aliza ke rumah sakit, kami mohon maaf tidak bisa ke rumah pak RT" pamit bunda.
"Gak apa-apa bu, bawa saja Angkasa dan Aliza ke rumah sakit" jawab pak RT.
"Saya sekeluarga pamit dulu pak RT, assalamualaikum" pamit ayah.
"Wa'alaikum salam" jawab mereka semua.
"Ustadz, Dita ayo kita rumah sakit" ajak ayah.
"Enggak yah, saya tidak mau, saya mau ngurus jenazah pak Prapto saja, nanti kalau sudah selesai di makamin saya akan nyusul kalian ke sana" tolak Ustadz Fahri.
"Dita juga mau di sini om, nanti Dita akan ke sana bareng Ustadz Fahri" tambah Dita.
"Ya sudah kalian urus pak Prapto, kami mau ke rumah sakit dulu" mereka berdua mengangguk.
Ayah, bunda, Alisa dan Reno berangkat ke rumah sakit sedangkan Dita dan Ustadz Fahri berjalan menuju rumah pak RT
Jenazah pak Prapto di urus di rumah pak RT, selaku satu-satunya warga yang mau mengurusi kematian pak Prapto, beliau juga yang sudah mengurus jenazah dukun beranak yang menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit.
Selama ini tahlilan di adakan di rumah pak RT karena kalau di rumah mbah Gamik, akses menuju ke sana sulit, dan juga tak akan ada orang yang mau ikut mendoakan dukun beranak lewat tahlilan.
Ustadz Fahri dan Dita terus mengikuti warga menuju rumah pak RT yang sudah mulai terlihat.
Orang-orang yang berada di sana langsung berbisik-bisik saat tau kalau pak Prapto meninggal dunia.
Tim kepolisian meletakkan jenazah pak Prapto di lantai depan rumah pak RT.
Orang-orang yang berada di sana langsung menjauh dari jenazah pak Prapto yang mengeluarkan bau busuk.
"Busuk sekali"
"Kenapa jenazah pak Prapto busuknya luar biasa"
"Apa dia kebanyakan dosa hingga saat meninggal bau busuk kayak gini"
Suara-suara nyinyiran warga terus terdengar di telinga Ustadz Fahri.
Warga tidak terlalu srek pada pak Prapto karena mereka masih benci, jengkel, geram pada dukun beranak selaku istrinya, dan juga mbah Gamik mertua pak Prapto yang sudah membuat warga sengsara selama ini dengan cara membunuh anak-anak mereka dengan ilmu hitamnya satu persatu.
"Bapak-bapak minta tolong jenazah pak Prapto langsung di mandikan saja" titah pak RT.
Dengan ragu-ragu warga yang berjenis kelamin laki-laki mendekati jenazah pak Prapto, mereka menggopong jenazah pak Prapto dan meletakkan beliau di pemandian yang sudah di siapkan.
"Ustadz" teriak Dita yang berlari memeluk Ustadz Fahri.
"Ada apa Dita, kenapa kamu teriak?" panik Ustadz Fahri saat melihat tubuh mungil Dita yang bergetar hebat.
"Dita, katakan ada apa?" Dita mendongak menatap ke arah Ustadz Fahri.
"Aku lihat pak Prapto" bisik Dita di telinga Ustadz Fahri.
"Di mana?" Dita melihat sekeliling dan tempat di mana ia melihat penampakan pak Prapto yang begitu seram.
Ustadz Fahri melihat ke arah pohon pisang itu, namun tidak ada siapapun.
"Kamu beneran lihat pak Prapto?" Dita mengangguk cepat dengan wajah yang pucat karena takut.
"Iya, tadz aku beneran lihat pak Prapto, dia itu serem banget, aku takut tadz" Dita kembali memeluk Ustadz Fahri.
"Sudah Dita kamu jangan takut, ada saya di sini" Ustadz Fahri terus menenangkan Dita yang masih sangat takut pada apa yang barusan ia lihat.
Pak RT yang berada di sana mendengar apa yang barusan Dita alami.
Pak RT mendekati 3 orang yang memandikan jenazah pak Prapto.
Mereka yang melihat pak RT masuk ke dalam tempat pemandian terkejut.
"Ada apa pak RT?" Badrul yang tengah memandikan jenazah pak Prapto terkejut saat melihat pak RT.
"Sebelum di bilas, siramkan air garam pada jenazah pak Prapto agar beliau tidak jadi hantu" titah pak RT yang membawa garam itu dan memasukkannya ke dalam tong yang berisikan air.
"Baik pak RT" jawab mereka.
Pak RT kemudian keluar dari dalam pemandian.
Badrul yang melihat wajah pak Prapto merasa merinding saat pak RT menyuruhnya dan teman-temannya untuk menyiram jenazah pak Prapto dengan air garam agar tidak menjadi hantu yang akan dapat membuat warga kembali takut seperti kejadian dukun beranak.
"Kenapa pak RT nyuruh kita nyiram air garam pada jenazah pak Prapto, apa beliau takut jenazah pak Prapto jadi hantu seperti istrinya?" pikir Hamid.
"Aku rasa iya, karena kan pak Prapto meninggal bunuh diri, bisa aja beliau jadi hantu" jawab Badrul.
"Kita harus siramin jenazah pak Prapto dengan air garam yang banyak agar dia gak jadi hantu dan ganggu orang-orang seperti istrinya" usul Selamet.
"Iya, kalau perlu kuburannya kita siram pake air laut yang asin biar pak Prapto gak jadi hantu" setuju Badrul.
"Nanti habis ini kita langsung ambil air laut aja biar desa kita aman" ajak Hamid.
"Iya" mereka berdua setuju lalu kemudian melanjutkan memandikan jenazah pak Prapto.
Setelah di sabuni jenazah pak Prapto di bilas, lalu di sirami dengan air garam yang sudah Badrul tambahkan dengan garam lagi agar pak Prapto tidak jadi hantu dan mengganggu orang-orang, baru setelah itu mereka menyiram jenazah pak Prapto dengan air yang khusus untuk bilas.
Jenazah pak Prapto kemudian di kafani lalu akan di sholati.
"Dita kamu di sini ya, saya mau sholat jenazah dulu" titah Ustadz Fahri.
"Enggak tadz, aku gak mau" rengek Dita tak mau jauh-jauh sama sekali dari Ustadz Fahri.
"Enggak akan ada apa-apa kok Dita, kamu diam di sini, kamu gak usah takut" bujuk Ustadz Fahri berharap Dita mau mengizinkan dia untuk ikut sholat jenazah.
"Enggak, aku gak mau, aku gak mau" rengek Dita yang tetap tidak mau Ustadz Fahri pergi kemana-mana.
Ustadz Fahri bingung, ia kehabisan akal untuk membujuk Dita."Kamu gak usah takut Dita, ini masih siang kok, pak Prapto gak bakal datangin kamu"
"Tapi walaupun masih siang barusan aku lihat pak Prapto" jawab Dita.
"Itu bukan pak Prapto Dita, itu makhluk halus lain yang nyamar jadi dia" Dita diam, ia mulai sadar kalau ucapan Ustadz Fahri ada benarnya juga.
"Masa iya yang tadi aku lihat di sana bukan pak Prapto" Dita masih tidak yakin sepenuhnya.