
"Nanti kita cari tau aja za, kalau masalah kenapa kalian gak bisa lihat nenek-nenek itu saat di meja makan itu karena pengelihatan kalian tak setajam Dita, mungkin Dita masih anak-anak sehingga pengelihatannya lebih tajam dari pada kita" jawab Ustadz Fahri.
"Oh wajar aja kalau kemarin cuman Dita saja yang dapat melihat nenek-nenek misterius itu" Angkasa manggut-manggut mendengar penjelasan Ustadz Fahri.
"Tadz sekarang Reno bisa lihat makhluk halus juga, ada apa sama dia tadz, kenapa dia bisa lihat makhluk halus sama kayak kita?"
"Iya tadz, kenapa dengan aku, apa yang udah terjadi sama aku, kenapa aku bisa lihat makhluk-makhluk aneh dari kemarin" Reno merasa jika ada perubahan di dalam dirinya.
"Saya juga tidak bisa mastiin kenapanya, saya cuman menduga kamu bisa melihat makhluk halus karena kamu sering berdampingan dengan kita yang bisa melihat makhluk halus, bisa aja mata batin kamu terbuka dengan sendirinya" jawab Ustadz Fahri.
"Sama kayak Dita mungkin ya mata batinnya terbuka dengan sendirinya"
"Iya, sebelas dua belas sama Dita" jawab Ustadz Fahri.
"Tadz aku gak mau lihat makhluk halus, tadz bisa gak nutup mata batin ini?" tintah Reno.
"Bisa aja, emang kenapa kamu ingin mata batin itu di tutup?" penasaran Ustadz Fahri.
"Hantu-hantu itu serem tadz, aku gak mau lihat mereka, apalagi di ganggu sama mereka" jawab Reno.
"Awal-awal memang kayak gitu ren, tapi dengan seiring waktu berjalan kamu gak akan takut lagi sama hantu, kalau menurut aku jangan di tutup ren, karena nanti kamu bisa bantu kami kalay ada kasus-kasus yang berhubungan dengan hantu-hantuan, kita kadang-kadang kesulitan kalau ada kasus besar kayak tadi itu, untung saja ada banyak yang bantuin dan misterinya bisa di selain dalam waktu yang lumayan singkat meski banyak kejadian tak terduga" saran Angkasa.
"Iya juga, ya udah deh aku biarin aja" Reno merasa saran Angkasa ada benarnya juga.
"Kalian udah nemuin tersangkanya?" kami mengangguk kompak.
"Iya tadz, tersangkanya udah di temuin dan sekarang mereka sudah mendekam di penjara" jawab Angkasa.
"Syukurlah kalau seperti itu, sebentar-sebentar kok kalian pulang, kalian gak ke rumah sakit jenguk Roy, dia kan masih belum pulih" heran Ustadz Fahri.
"Roy meninggal tadz, kami baru aja pulang dari pemakamannya"
Ustadz Fahri langsung terkejut."Innalilahi wa innalilahi roji'un, kenapa Roy bisa meninggal, apa yang sudah terjadi padanya?"
"Kami rasa Roy udah gak bisa nahan rasa sakit itu sehingga dia mengembuskan napasnya di rumah sakit, gak cuman Roy dan Andin saja yang pergi Elfa juga sama, kami gak bisa nyelamatin dia"
Ustadz Fahri mengerutkan alis."Elfa, Elfa siapa?"
"Itu anak yang gak sengaja lihat kejadian Andin di bunuh, sehingga para pelakunya itu ngurung Elfa di dalam toilet hingga dia tak dapat tertolong lagi" jawab Reno.
"Ya Allah, kasihan sekali dia, dia gak bersalah, tapi harus ikut di celakain sama pembunuhnya Andin itu" shock Ustadz Fahri yang tau hal itu.
"Sekarang pelakunya sudah di amankan tadz, aku jamin mereka gak akan keluar dari sel tahanan selama beberapa tahun ke depan ini" feeling Angkasa.
"Semoga aja setelah mereka keluar dari dalam penjara mereka gak akan ngelakuin kejahatan lagi" harapan Ustadz Fahri.
"Amin"
Ustadz Fahri melirik jam tangannya."5 menit lagi gusdur akan berbunyi, saya mau ke makam dukun beranak itu, kalian tunggu saja di sini, kalian gak usah ikut"
"Baik tadz, kami akan tetap di sini, kalau ada apa-apa bilang aja sama kami biar kami datang ke sana buat bantuin Ustadz" jawab Reno.
"Wa'alaikum salam" jawab kami.
Ustadz Fahri keluar dari dalam rumah dengan membawa kendi.
Aku mengerutkan alis melihat kendi itu."Kenapa Ustadz Fahri bawa kendi segala, buat apa kendi itu?"
"Enggak tau juga, kita tanyain aja setelah pulang dari sana" jawab Angkasa.
Aku melihat ke kanan dan kiri, aku merasa ada yang kurang."Ren di mana Alisa, kenapa dia gak ada di sini, dia pulang bareng kamu kan?"
"Iya, dia memang pulang bareng aku cuman setelah nyampe rumah dia langsung masuk ke dalam kamarnya, mungkin dia masih sedih karena kepergian Roy" jawab Reno.
"Itu pasti, Alisa pasti sedih banget kehilangan temannya, udah di tinggal sama Dava ke Amerika kini di tinggal Roy untuk selamanya, nyesek juga jadi Alisa" gak kebayang Angkasa pada nasib Alisa.
"Gak nyangka sih Roy bakal meninggal, aku kira dia gak akan pergi dan kita nanti bisa punya teman lagi, eh gak taunya dia juga nyusul Andin sama Elfa ke alam sana"
"Ini sudah terjadi, gak usah sedih, sana kamu balik ke dalam kamar gih, setelah itu ke meja makan, kamu harus makan lagi, nanti malah pingsan lagi seperti tadi" suruh Angkasa.
"Gak akan aku pingsan lagi, dah aku mau ke kamar dulu bye" aku melangkahkan kaki menuju kamar ku dan meninggalkan mereka berdua.
Angkasa melirik Reno yang manyun."Kenapa, apa yang kamu pikirin?"
"Gak ada, cuman lagi gak mood aja" jawab Reno.
"Halah, gak mood konon, bilang aja kamu cemburu karena Alisa terus aja mikirin Roy dan Roy"
"Ya iyalah, masa aku gak cemburu sama sekali, kamu lihat kan betapa sedihnya Alisa saat Roy di nyatakan meninggal dunia, kalau aku yang meninggal akan kah dia sesedih itu?"
"Ya enggak tau, jangan nanya aku"
Tiba-tiba orang yang bersangkutan muncul di depan mereka.
"Loh kok kalian masih ada di sini" terkejut keduanya.
"Kami masih belum kembali, kami ke sini cuman buat bilang terima kasih udah berjuang buat nyelesain kasus kami" jawab Andin.
"Iya sama-sama kok, udah sekarang kalian pergi saja, istirahat yang tenang, para pelakunya sekarang udah di tahan, kalian gak usah gentayangan lagi" suruh Angkasa.
"Eh tunggu, kenapa ada anak kecil itu, siapa dia?" penasaran Reno pada sosok anak kecil yang bersembunyi di belakang Roy.
Anak kecil itu keluar."Ini Khalisa adek aku, kalian udah dengar ceritanya dari Tias kan"
"Oh jadi ini yang namanya Khalisa, ternyata sebelas dua belas sama adek aku" Reno memperhatikan Khalisa yang memang sebaya dengan Rani dan Dita.
"Hai kak aku Khalisa" senyum gadis mungil dan lucu itu.
"Hai" jawab keduanya yang membalas senyuman Khalisa.
"Pantesan aja Roy merasa sangat kehilangan adiknya, ternyata adiknya memang selucu dan seimut ini" batin Angkasa.