The Indigo Twins

The Indigo Twins
Keanehan dari diri Ustadz Fahri 2



"Ustadz tau gak siapa mbah Gamik itu, kata mbk Hilda dia itu ibunya dukun beranak, apa itu benar tadz?" aku melirik ke arah Angkasa, aku merasa pertanyaannya agak sedikit aneh karena tadi dia sudah mendengar informasi ini dari mbk Hilda namun kenapa dia kembali bertanya.


"Apa yang terjadi sama Angkasa, kenapa dia nanya hal ini lagi, perasaan di luar dia udah dengar sendiri jawaban mbk Hilda, kenapa sekarang dia masih nanya lagi, apa yang udah terjadi padanya" batin ku yang merasa aneh pada Angkasa, saat ini aku tidak tau apa yang dia rencanakan sehingga terus bertanya ini itu pada Ustadz Fahri palsu.


Wajah Ustadz Fahri mulai meradang, namun terlihat jika ia sedang berusaha menahannya.


"Mbah Gamik itu adalah orang baik, awalnya dia hanya orang biasa yang tinggal di desa ini, dia penduduk asli di desa ini, namun satu kejadian merenggut segalanya" jawab Ustadz Fahri.


"Kejadian apa tadz?" penasaran Angkasa.


"Kejadian di mana dia di lecehkan oleh pak RT di desa ini, sehingga membuatnya bertapa di dalam hutan belantara tepatnya di dalam goa besar yang berada tak jauh dari dalam hutan yang berada di belakang rumahnya yang sekarang itu, dia ingin mendapatkan ilmu hitam untuk membalaskan dendamnya dan dendam itu benar-benar terbalaskan, pak RT dan seluruh anggota keluarganya tewas di buatnya, gak berhenti di sana, mbah Gamik membuat semua anak-anak laki-laki di desa ini mati, karena dia tidak mau kelak anaknya di perlakukan sama seperti dirinya" jeda Ustadz Fahri.


"Mbah Gamik juga memberikan ilmu hitam itu pada anaknya, agar dia tidak mudah di hancurkan oleh laki-laki bejat seperti yang ibunya alami" jawab Ustadz Fahri penuh penekanan.


Kami yang mendengar suara Ustadz yang pelan-pelan berubah menjadi nenek-nenek mulai sadar siapa sebenarnya yang ada di depan kami.


"Lalu mbah Gamik itu bisa meninggal kenapa dan kenapa juga dia masih gangguin orang-orang di desa ini?" Angkasa terus berusaha memancing Ustadz Fahri palsu agar ia mendapatkan informasi tentang mbah Gamik lebih banyak lagi.


"Mbah Gamik itu meninggal karena di kubur hidup-hidup oleh warga kampung setelah tau jika anak-anak lelaki mereka meninggal karena ulahnya, dan juga saat itu desa ini terkena penyakit kulit dan warga curiga pada mbah Gamik, mereka mengubur mbah Gamik hidup-hidup, padahal bukan mbah Gamik yang sudah melakukannya" jawab ustadz Fahri.


"Kalau bukan mbah Gamik siapa tadz yang udah menjadi dalang dari adanya penyakit itu?" Angkasa melihat wajah Ustadz Fahri yang memendam dendam yang sangat besar.


"Suresti, dia yang sudah nyebarin wabah penyakit kulit itu di desa ini, dan dia juga yang memiliki penawarannya, orang-orang pada beli penawarnya padanya dan nuduh mbah Gamik pelakunya, padahal Surestilah dalangnya" jawab Ustadz Fahri.


"Yang mbah Gamik inginkan saat ini itu apa tadz, kenapa dia masih gangguin orang-orang padahal kejadian itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu?" Reno yang melihat Angkasa terus bertanya mulai merasa ketakutan, ia hanya tak mau Ustadz Fahri palsu itu tau dan akan membahayakan dia dan juga yang lainnya.


"Mbah Gamik ingin di makamkan dengan layak, namun tetap tidak ada orang yang mau nurutin hal itu, dia sudah datengin orang-orang dan minta hal ini, tapi tetap saja tidak ada yang mau nurutin" tiba-tiba Ustadz Fahri palsu menangis, ia seperti merasa kisah ini adalah kisahnya sehingga dia merasa sangat sedih setelah ingat kejadian itu.


"Ustadz jangan sedih, nanti kami akan berusaha buat nurutin kemauan mbah Gamik agar beliau bisa kembali ke alam selanjutnya dan beristirahat di sana dengan tenang" jawab Angkasa.


"Kami pasti akan lakuin itu, Ustadz kenapa aku merasa aneh, katanya mbah Gamik berusaha minta tolong pada orang-orang agar mau makamin jasadnya dengan layak, tetapi kenapa dia gak datangin kita yang jelas-jelas bisa melihat makhluk halus, apalagi di desa ini kan ada Alisa sama Aliza yang bisa lihat makhluk halus juga, kalau mbah Gamik datengin mereka pasti mereka bakal nolongin dia, ya kan za" Angkasa melirik ke arah ku.


"I-iya" gugup ku saat mengatakan hal itu.


"Kamu gak usah pusingin hal itu, mbah Gamik gak datangin Aliza sama Alisa karena mereka masih kecil, dia merasa keduanya gak akan bisa nolongin dia, mangkanya dia gak minta bantuan pada mereka berdua" jawab Ustadz Fahri.


"Itu gak akan mungkin Ustadz Fahri, Alisa sama Aliza walaupun masih kecil gak akan nolak kalau ada orang yang minta bantuannya, ini rada-rada aneh, selangkah lagi aku akan tau siapa dia sebenarnya" batin Angkasa.


"Kenapa kamu diam?" lamunan Angkasa langsung buyar.


"Enggak kok tadz, aku cuman mikir apakah dulu itu Alisa sama Aliza gak berpetualang kayak sekarang apa enggak sehingga mbah Gamik gak minta tolong sama mereka itu aja" jawab Ustadz Fahri.


"Tadz kuburannya mbah Gamik itu di mana?" pernyataan itu membuat senyuman di wajah Ustadz Fahri terukir dengan indahnya namun terlihat menyeramkan.


"Makam mbah Gamik ada di belakang rumahnya, kalian ke sana saja besok, kalian harus makamin jasadnya mbah Gamik dengan layak, biar dia gak gangguin orang-orang di desa ini" tintah Ustadz Fahri.


"Baik tadz, kami pasti akan lakuin hal itu, besok kalau gak pagi ya siang kami yang akan ke rumah mbah Gamik, kami juga ingin sekali dia segera tenang di alam sana, kasihan dia, gak bersalah tapi tetap aja di bunuh sama warga-warga yang gak tau rasa kasihan itu" jawab Angkasa.


"Iya, aku juga sangat kasihan sekali padanya, kalian harus bisa makamin jasadnya dengan layak, karena itu keinginan terakhirnya" tintah Ustadz Fahri.


"Iya tadz, kami pasti akan ngelakuin hal itu, Ustadz gak mau ikut kami ke sana besok?" wajah Ustadz Fahri berubah menjadi ketar-ketir saat Angkasa menanyakan hal itu.


"Besok aku ada urusan, aku gak bisa ikut kalian ke sana, karena besok pagi-pagi sekali aku harus berangkat buat nyelesain urusan itu, aku sebenarnya pengen banget ke sana, tapi urusan ini gak bisa di tinggal" jawab Ustadz Fahri.


Angkasa menyunggingkan senyuman yang penuh kelicikan, dia lebih cerdik dari siapapun kalau dalam hal tipu menipu.