
Sosok itu diam, ia menundukkan pandangannya lalu menggelengkan kepalanya.
"Kalau bukan bu Dinda, kenapa kamu ikutin bu Dinda kemana-mana?"
"Dia bukan orang yang sudah nabrak aku, tapi dia juga terlibat, karena dia yang sudah bikin aku kayak gini" jelas sosok itu.
"Maksud kamu?" kami bertiga tambah tak mengerti setelah mendengar penjelasannya.
Sosok itu tak menjawab dan malah hilang begitu saja dari hadapan kami.
"Loh kok pergi, kemana sosok itu?"
"Aaah sudah selangkah lagi kita tau siapa dia sebenarnya, tapi mengapa dia malah pergi gitu aja" pekik Angkasa.
"Tau, kenapa dia malah ninggalin misteri seperti ini, gak tau orang lagi penasaran banget apa" tak habis pikir Reno.
"Dia bilang apa, kenapa kalian semua pada kesal?" Roki yang tak bisa melihat dan mendengar apa yang sosok itu bicara sangat penasaran melihat tingkah kami yang kesal.
"Sosok itu bilang kalau bu Dinda itu bukan pelaku yang sudah nabrak dia, tapi ada hubungannya, yang jadi masalah hubungannya itu apa, dia juga bilang kalau bu Dinda yang sudah bikin dia seperti ini, apa yang ia bilang buat kita tambah penasaran bukan, dan dengan teganya dia malah ngilang gak tau kemana, mangkanya kami jadi kesal"
"Jadi intinya bu Dinda itu ada hubungannya dengan kematian sosok perempuan itu" menyimpulkan Roki.
"Iya, tapi gak tau ada hubungannya dari sebelah mananya, karena sosok itu gak mau ngasih tau, sedangkan kita harus cari tau dari mana tentangnya, sementara kita gak tau seluk beluknya"
Roki, Byan, Reno dan juga Dimas terdiam, mereka juga sama-sama bingung harus mulai penyelidikan dari mana.
Aku melirik ke arah Angkasa yang diam dengan melihat sesuatu sehingga matanya tak berkedip.
"Kamu lihat apa sa, kok serius banget?"
"Lihat itu" tunjuk Angkasa ke arah jendela.
Kami semua melihat ke arah jendela yang Angkasa tunjuk.
Ada tulisan di kaca yang di tulis dengan darah dan itu yang berhasil membuat dunia Angkasa teralihkan.
"Jalan merpati, apa maksud tulisan itu"
"Feeling ku mengatakan kalau kita di suruh datang ke jalanan itu, dan yang nulis itu semua pasti sosok itu" jawab Reno.
"Aku juga punya feeling kayak gitu" sahut Dimas.
"Nanti habis pulang sekolah kita ke jalan merpati, kita cari tau ada apa dengan jalanan itu sehingga sosok itu nyuruh kita ke sana" usul Angkasa.
"Iya, kami setuju" jawab yang lain.
"Ren sana kamu balik ke kelas, nanti bu Dinda curiga, kamu masih belum waktunya istirahat, kita bahas ini lagi di taman, kami akan tunggu kamu sama Alisa di sana"
"Iya, aku balik ke kelas dulu, kalian tunggu saja di taman" jawab Reno.
"Iya" balas kami.
Reno kembali masuk ke dalam kelas dan mengikuti pelajaran dengan baik, sosok itu sudah hilang, ia tidak menampakkan dirinya lagi yang membuat hati Reno lega.
"Ayo kita ke taman, kita tunggu Reno sama Alisa di sana saja"
Tiba-tiba aku menghentikan langkah dan berbalik menghadap ke arah mereka bertiga yang masih diam di tempat.
"Loh kenapa kalian masih diam, ayo kita ke taman, kita tunggu Alisa sama Reno di sana"
"Za di taman itu angker, kami gak mau ke sana" jawab Roki.
"Terus kemana dong, hanya taman itu yang pas buat kita bahas ini semua, kalau di kantin bakal ada banyak anak-anak yang akan dengar, pasti di antara mereka ada yang ngadu ke bu Dinda, bisa berabe nantinya" bingung Angkasa.
"Kita ke belakang sekolah aja, di sana juga sepi, gak ada orang di sana, karena tempat itu selalu di jadiin tongkrongan sama kami, lebih baik kita bahas di sana saja, di sana aman kok" ajak Byan.
"Iya ayo kita ke sana, nanti aku akan kabarin Alisa sama Reno biar mereka berdua ke sana juga"
Mereka semua setuju lalu kami berjalan menuju belakang sekolah.
Di belakang sekolahan itu sepi dan sunyi, di hadapan kami hanya ada satu pohon yang berukuran besar, tak ada lagi pohon yang berada di sana.
Kami duduk di sana, ada kursi panjang yang berada di sana, aku melirik ke kanan dan kiri ku, sungguh tak ada satupun orang yang ku lihat, tempat itu benar-benar sepi.
"Sepi banget di sini, pantesan kalian betah berada di sini"
"Iyalah, kita kan nyari tempat yang sepi dan sekiranya buat pikiran tenang, dan tempat itu hanya ada di sini, kalau di tempat lain jelas gak ada" jawab Roki.
"Kalian se geng cuman bertiga?" penasaran Angkasa.
"Iya, kita cuman bertiga aja, gak terlalu banyak anggota, kita ini sudah kawan dari sejak TK, SD, SMP, hingga SMA, gak pernah pisah walaupun badai menerjang" jawab Dimas.
"Kuat juga" salut Angkasa.
"Oh ya Byan kamu kan sering lewat di jalan merpati, di sana itu desa apa gimana, kok kamu milih jalanan itu agar bisa nyampe di rumah lebih cepat?"
"Di sana masih kota, cuman ujung jalan merpati itu hutan, di dalam hutan itu ada jalanan setapak yang hanya bisa di lalui oleh motor, mobil gak bisa lewat, mereka berdua pada gak mau kalau di ajak lewat di sana, karena di sana agak sedikit seram, apa lagi saat masuk ke dalam hutan itu, beh seramnya minta ampun" jelas Byan.
"Kok kamu masih nekat lewatin jalan itu kalau memang di sana seram?"
"Gak ada cara lain lagi, jadi aku terpaksa lewat di sana, biar nyampe ke rumah lebih cepat" jawab Byan.
"Oh gitu, nanti kita coba cari tau apa maksud sosok itu nyuruh kita ke sana, aku yakin sekali pasti ada tujuan tertentu yang ingin ia beri tau kan pada kita"
"Itu jelas za, tapi sekiranya apa ya yang sudah buat bu Dinda terlibat dalam kecelakaan yang terjadi pada sosok itu" bingung Angkasa.
"Itu masalahnya, apa sebenarnya hal yang membuat bu Dinda di nyatakan sebagai orang yang bersangkutan dalam hal ini sementara bukan bu Dinda yang sudah nabrak sosok itu"
"Ciri-ciri sosok itu kayak apa, barang kali aku kenal sama dia, coba kalian jelasin" titah Byan.
"Kulitnya putih, rambutnya hitam, wajahnya itu gak terlalu jelas karena banyak darah, tapi di dagunya ada tahi lalatnya"
"Dari ciri-ciri yang kamu sebutkan barusan, dia kayak orang yang selau bareng bu Dinda" jawab Byan.
"Apa mungkin dia teman bu Dinda?" dugaan Dimas.
"Kalau menurut feeling ku memang iya" jawab Angkasa.