
Alisa langsung duduk di bangkunya.
"Pagi anak-anak" kata Bu Resa.
"Pagi Bu" jawab mereka.
"Begini ibu sudah meminta pendapat dari kepala sekolah tentang kelas ini dan beliau setuju" kata Bu Resa.
"Pendapat apaan Bu, jangan yang aneh-aneh loh" kata Roy.
"Gak aneh kok, ibu itu cuman mau mengubah tempat duduk kalian, bagaimana setuju gak?" tanya Resa.
"Tidak sama sekali, kami tidak setuju tentang hal itu" jawab Roy.
"Gak ada penolakan, kalian harus di pindahkan biar kelas ini tidak menjadi amburadul seperti ini" tegas Bu Resa.
"Kami gak Bu"
"Jangan pindahin kami"
"Kami mohon Bu"
Suara anak-anak yang tidak setuju tentang apa yang Bu Resa inginkan.
"No no no, kalian harus setuju, ibu mulai ya" kata Bu Resa.
"Pertama itu Alisa Qieansyah dan Dava Alifikri Salfanza" kata Bu Resa.
Mereka berdua mengguncangkan tangan.
"Kalian duduk di sana" suruh Bu Resa.
"Kedua Roy Hodgson dan Andita" kata Bu Resa.
Dengan langkah malas Roy berpindah tempat sesuai yang Bu Resa inginkan.
Satu-persatu anak-anak di pindahkan sesuai dengan apa yang Bu Resa rencanakan tadi pagi.
Alisa duduk bersama Dava, ia begitu kurang nyaman karena Dava terus saja memperhatikannya.
"Bisa gak, gak usah ngeliatin aku terus-terusan?" tanya Alisa.
"Gak bisa" jawab Dava di sertai senyuman manis.
Alisa menatap malas pemuda itu.
"Terserah deh" pasrah Alisa.
"Kalau di lihat-lihat Alisa lucu juga, hmm menarik" batin Dava.
Pelajaran di mulai dengan tenang tak ada gangguan apapun suasana kelas kembali damai tentram dan nyaman.
Bel istirahat berbunyi.
Aku dan Angkasa langsung mendatangi taman untuk memakan bekal.
"Eh kembaran kamu dan Reno kemana kok gak kesini?" tanya Angkasa.
"Entah, lagi asik di kelas mungkin" jawab ku.
Reno berjalan menghampiri kami berdua yang sedang asik makan
"Eh itu Reno" tunjuk Angkasa.
"Ren Lisa sama kamu gak?" tanya ku.
"Enggak tuh" jawab Reno.
"Kemana dia sebenarnya, masa nyasar" pikir Angkasa.
"Dia lelet pastinya, bentar lagi juga dia nyampe, kita tungguin aja dulu" jawab ku.
"Aku mau pergi Dava, aku gak mau di sini, jangan hadang jalan aku" teriak Alisa.
"Gak boleh chubby" jawab Dava menoel gemas pipi Alisa yang sedang kesal dengan sikapnya.
Alisa menepis tangan Dava yang sudah berani menyentuh pipinya.
"Iiih jangan pegang-pegang najis" kata Alisa.
"Jangan marah-marah comel" jawab Dava.
"Bodo, aku mau pergi" kata Alisa.
Alisa mendorong tubuh Dava kasar lalu berlari meninggalkan Dava yang jatuh akibat dorongannya.
"Damn it" pekik Dava.
Dava berdiri lalu mengejar Alisa yang semakin menjauh.
Alisa berlari sekencang mungkin untuk menghindari pemuda gila itu, dengan cepat Alisa memasuki taman, di sana sudah ada 3 temannya.
Alisa berlari dan langsung bersembunyi di belakang tubuh ku.
"Allahu Akbar" kaget ku
"Kenapa sa?" tanya ku.
Alisa menyipitkan mata.
"Tolongin aku dari manusia gila itu" tunjuk Alisa ke arah Dava yang celingukan mencari keberadaannya.
"Woyyy" teriak ku dengan tatapan ganas yang tak pernah ku tunjukan pada dunia.
Dava menoleh kearah suara keras, dia tersenyum manis melihat gadis yang berteriak ke arahnya, Dava berjalan menghampiri kami.
"Lisa" sapa Dava tersenyum manis kearah ku yang sedang melototinya.
"Siapa kau, kenapa kau ganggu dia?" tanya ku dengan nada ganas pada Dava yang sedang tersenyum manis.
Alisa keluar dari persembunyiannya sambil tersenyum manis.
Seketika senyuman manis Dava langsung menghilang saat dia melihat dua makhluk yang sama bentuknya berdiri di hadapannya.
"K-kalian" seketika suara Dava terbata-bata.
"Ya kami kembar" jawab kami berbarengan.
Dava begitu terkejut mendengar hal itu.
"Liza, Liza dia itu gangguin aku dari tadi, aku sampai telat datang ke sini gara-gara dia" cepu Alisa.
Dava terlihat takut melihat tatapan mata ku yang sedari tadi terus saja memelototinya.
"Siapa kamu, kenapa gangguin saudaraku?" tanya ku.
"Aku Dava, teman sekelas Alisa, aku gak gangguin dia kok, cuman dianya aja yang salah menyimpulkan" jawab Dava.
Angkasa menatap Dava tak berkedip, lintasan demi lintasan tentang kehidupan Dava terlihat di mata Angkasa.
"Apa kamu bilang aku salah menyimpulkan, jelas-jelas kamu yang gangguin aku terus, sampai aku tidak bisa datang ke sini, untung aku punya cara yang sangat cemerlang" bantah Alisa.
Dava biasa saja menanggapi Alisa, dia berdiri tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Dava hendak berbicara tiba-tiba-
"Dava Alifikri Salfanza, putra sulung keluarga Salfanza, ayah Dava bernama Devan Salfanza yang meninggal saat Dava berumur 10 tahun, mama dava yang bernama Celina gerla Alogenzo menikah lagi dengan teman dari om Devan yang bernama Tio pakerlimo, mereka berdua menjalin hubungan gelap di belakang om Devan hingga melahirkan seorang anak yang berusia sekitar 3 tahunan di atas Dava, saat hamil 2 bulan, tante Celina beralasan pergi ke Belanda untuk bertemu dengan orang tuanya yang menetap di sana untuk waktu yang cukup lama, tetapi itu semua hanya lah alasan semata, tante Celina tidak menemui orang tuanya, dia malah asik bersenang-senang dengan om Tio, tante Celina hanya beralasan saja untuk mengelabui om Devan agar tak curiga dengannya, hingga beberapa bulan setelah itu, tante Celina melahirkan seorang anak laki-laki bernama Arga pakerlimo dari hubungan gelapnya dengan om Tio, Arga sedari kecil di asuh oleh om Tio sang ayah, setiap bulan tante Celina pasti menjenguk anak dan kekasihnya yang ada di Belanda, beberapa tahun kemudian, saat Dava berusia sekitar 10 tahun om Devan meninggal dunia karena serangan jantung, om Devan bisa meninggal lantaran mengetahui rahasia besar tentang istri dan temannya yang ternyata selingkuh di belakangnya hingga membuahkan seorang anak di dalam hubungan gelap mereka" jeda Angkasa.
"Setelah beberapa bulan kemudian, keluarga besar Salfanza tau jika menantunya ternyata berselingkuh di belakang anaknya, kakek dan nenek Dava mengusir tante Celina, tetapi tante Celina tidak bodoh, ia memang pergi dari masion mewah suaminya dengan membawa Dava, tante Celina membawa Dava hanya dengan tujuan untuk mendapatkan harta warisan yang di tinggalkan oleh Devan, dia menjadikan Dava sumber uangnya saja, setelah pengusiran itu, tante Celina dan om Tio menikah dan hidup bahagia, tetapi Dava tak di perhatikan sama sekali, dia selalu di banding-bandingkan oleh mama kandungnya sendiri, sehingga Dava memiliki dua sikap yang tidak di ketahui oleh dunia, di sekolahan dia menjadi anak yang super duper nakal, bandel dan sebagainya, tetapi saat berada di rumah dia selalu mendapatkan perlakuan tak baik dari kakak tiri dan ayah tiri serta ibu kandungnya, keluarga pakerlimo itu menjadikan Dava sebagai babu semata, terkadang mereka menyiksa Dava karena Arga membuat berita-berita bohong yang selalu membuat Dava tersiksa bagaikan di neraka, sehingga Dava memiki sikap dingin dan cuek ketika berada di rumah, itulah cerita singkat kehidupan Dava" kata Angkasa menceritakan segala yang dia ketahui tentang patahan-patahan kehidupan Dava yang ada di benaknya.
"Kenapa dia tau segalanya, perasaan aku tidak pernah cerita apa-apa pada mereka tentang kehidupan yang aku jalani" batin Dava terkejut.