The Indigo Twins

The Indigo Twins
Suara gamelan di tengah malam



Angkasa merasakan keanehan di sepanjang perjalanan karena tidak menemukan makhluk halus satupun.


gong


gong


gong


Tiba-tiba Angkasa mendengar suara gamelan yang di tabuh di tengah malam.


"Kok ada suara gamelan di tengah malam kayak gini?" Angkasa merasa aneh ketika mendengar suara gamelan itu.


gong


gong


gong


"Kenapa aku merasa suara gamelan itu gak jauh, feeling ku mengatakan suara gamelan itu berasal dari desa ini, aku harus cari asalnya"


Angkasa tak jadi pulang ke rumah, dia berjalan mencari asal bunyi gamelan yang sangat dekat itu.


Semakin Angkasa melangkah ke sebelah selatan semakin dekat pula suara gamelan itu.


Tiba-tiba langkahnya berhenti di depan rumah pak Jarwo, orang paling kaya di desa ini.


Rumah pak Jarwo sangat besar mengalahkan rumah ku dan rumahnya pak RT.


"Ada apa di rumah ini, kenapa banyak suara-suara orang yang bersorak gembira, apa ada perayaan?" semakin penasaran Angkasa.


"Aku harus cari tau" Angkasa mendekati rumah pak Jarwo, ia tidak masuk ke dalam rumah itu dan hanya mengintip dari pagar untuk melihat keadaan di dalam.


Terlihat banyak sekali orang-orang, entah itu laki-laki maupun perempuan yang berada di halaman rumah pak Jarwo.


Kebanyakan perempuan-perempuan yang berada di sana mengenakan pakaian kebaya seperti orang-orang jaman dahulu.


"Kenapa rumah ini rame banget, ada acara apa, kenapa aku gak tau dan gak ada berita apa-apa yang aku dengar, apa karena aku berada di rumah sakit sehingga tidak dengar ada perayaan di rumah pak Jarwo?"


Pandangan Angkasa tiba-tiba tertuju pada gadis-gadis yang berada di dalam area halaman rumah pak Jarwo.


"Eh kenapa mereka semua ngenakan pakaian jaman dulu, dan kenapa pula mereka yang menjadi pagar ayunya, emang ada apa di rumah pak Jarwo, apa akan ada orang yang mau nikah ya" pikir Angkasa, kebayangkan sebelum hari H ada yang namanya lek melek, di sebut lek melek karena terjadi di malam hari, bisa selesai sampai jam 12 ataupun jam 3 malam.


Biasanya di lek melek banyak orang yang datang untuk abhubu yaitu uang atau barang yang di sumbangkan pada tuan rumah hajatan yang harus di kembalikan dengan jumlah yang sama saat orang yang memberikan sumbangan mengadakan hajatan.


Wussshhhh


Tiba-tiba Angkasa melihat bayangan hitam yang masuk ke dalam kamar yang ada di rumah itu.


"Kenapa makhluk halus itu masuk ke dalam" terkejut Angkasa.


"Ini gak beres, aku harus cari tau besok ada apa yang terjadi dengan rumah pak Jarwo"


"Sekarang aku harus pulang dulu, karena besok aku harus ke rumah mbah Gamik, aku tidak mau ngantuk ketika nyari rumahnya mbah Gamik" Angkasa berjalan pulang menuju rumah kembali.


Suara gamelan dan riuh di dalam rumah pak Jarwo terus terdengar, namun Angkasa tidak mempedulikan hal itu karena saat ini ia ingin segera sampai di rumah.


Setelah sampai di rumah Angkasa masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


"Nak Alisa bunda kamu di mana?" bu Hanung mendekati ku saat di perjalanan menuju masjid m


"Ada di luar kota bu, emang kenapa ibu nyariin bunda?"


"Itu, ibu cuman mau bilang kalau sekarang itu ada anaknya pak Jarwo yang akan nikah, barang kali bunda kamu punya hutang" jawab bu Hanung.


"Iya nanti Aliza akan bilang pada bunda"


"Ibu emang pak Jarwo itu punya anak, kenapa Alisa gak pernah tau anaknya?" merasa aneh Alisa karena selama ini dia tidak pernah tau anak pak Jarwo, orang yang paling kaya di desa ini.


"Iya, sekarang yang nikah itu anaknya pak Jarwo yang terakhir, namanya Indri, dia itu gak tinggal di desa ini, dia berada di kota selama ini, mangkanya jarang ada orang yang tau padanya" jawab bu Hanung.


"Oh gitu pentesan aja Alisa gak tau" Alisa terus berjalan bersama kami menuju masjid.


"Mbk Indri itu calonnya orang mana bu?"


"Itu anaknya pak Sabeni, orang kaya di desa sebelah itu, katanya sih Indri itu di jodohin, biasa pak Jarwo itu memang masih memeluk tradisi jaman dulu, mangkanya sampai sekarang dia masih nerapin perjodohan pada anak-anaknya" jawab bu Hanung.


"Pantes aja rumahnya pak Jarwo rame banget tadi malam, ternyata memang akan ada orang yang mau nikah" batin Angkasa.


"Kapan acara H-nya bu?" Alisa ingin hadir di acara pernikahan mbk Indri.


"Hari ini, tapi pak Jarwo mengadakan pesta selama 7 hari 7 malam, biasa orang kaya, nanti kalian bilangin ya sama bunda kalian" jawab bu Hanung.


"Iya bu"


Kami terus berjalan, tak ada lagi percakapan di antara kami hingga pada akhirnya kami sampai di masjid juga.


Kami menunaikan sholat subuh berjamaah di dalam masjid ini, setelah selesai kami bergegas pulang ke rumah.


"Ustadz ayo kita langsung ke rumahnya mbah Gamik"


"Sekarang za, ini masih gelap loh?" heran Ustadz Fahri yang melihat suasana sekitar yang masih gelap namun aku malah terlihat ingin segera ke rumah mbah Gamik.


"Iya tadz, aku mau sekarang juga karena aku takut bunda dan ayah pulang, kalau mereka sampai pulang kita gak akan bisa pergi ke rumah mbah Gamik, karena ayah dan bunda pasti akan melarang keras kita ke sana"


"Ya sudah kalau seperti itu kita siap-siap saja, nanti kita kumpul di ruang tamu" kami mengangguk lalu masuk ke dalam kamar masing-masing untuk bersiap-siap.


Aku membawa perlengkapan yang aku butuhkan dan menaruhnya di dalam tas ku, setelah selesai aku pun turun ke bawah.


"Ayo kita berangkat"


"Sarapan dulu za, karena kalau gak sarapan kita bisa gak fokus nyari rumahnya mbah Gamik" ajak Angkasa.


"Baiklah, ayo kita sarapan dulu" kami semua duduk di meja makan dan mulai menyantap makanan.


"Masalah restoran gimana ini, kita mau ke rumah mbah Gamik, saya hanya takut kita balik dari sana kemalaman" Ustadz Fahri memikirkan nasib restoran jika kami meninggalkannya dan malah ingin ke rumah mbah Gamik yang ada di tengah-tengah hutan.


"Ustadz tak perlu khawatir, aku udah bilang sama mbk Kiki untuk handle restoran karena kami gak akan bisa ke sana hari ini dan dia bersedia kok"


"Saya tenang kalau seperti itu" lega Ustadz Fahri.


Kami melanjutkan sarapan sebelum berangkat ke rumah mbah Gamik yang berada di tengah-tengah hutan.