The Indigo Twins

The Indigo Twins
Memeriksa kamar dukun beranak



Reno dan Alisa masuk ke dalam kamar dukun beranak.


Saat pintu di buka Alisa tiba-tiba langsung merinding saat ada angin yang tiba-tiba keluar dari dalam kamar tersebut.


Alisa menelan ludah pahit ketika angin itu berhasil membuat bulu kuduknya berdiri semua.


"Kok aku merinding ya ren" Alisa mengusap kedua pundaknya dengan terus melihat sekeliling ruangan itu.


"Enggak ada apa-apa kok sa, kamu jangan takut, ada aku di sini, aku gak akan biarkan kamu terluka" Reno berusha menenangkan Alisa yang mulai merasakan takut, ia juga merasakan hal yang sama namun ia berusaha untuk menahannya.


"Ayo kita masuk aja, gak akan ada yang terjadi kok"


Keduanya melangkahkan kaki memasuki kamar tersebut.


"Serem banget kamar ini" Alisa semakin merinding saat menatap kamar yang begitu seram dan memiliki hawa tak nyaman itu.


"Kita kesampingkan dulu hal itu, ayo kita cari Laras, mungkin saja dia ada di sini, kita harus bisa temuin dia sebelum dia kenapa-napa dan bawa dia keluar dari sini" Alisa mengangguk.


"Iya ayo kita mulai" keduanya mulai mencari keberadaan Laras yang di curigai ada di dalam kamar dukun beranak ini.


Alisa membuka lemari dukun beranak yang terbuat dari kayu."Enggak ada apapun, semua isi lemari ini normal-normal aja, terus di mana mereka bawa Laras pergi, kenapa gak ada di sini, apa bukan mereka pelakunya"


Alisa berpikir keras ia masih belum tau dalang utama di balik misteri ini."Tapi aku yakin merekalah pelakunya, gak mungkin orang lain lagi, di desa hanyalah mereka yang bermasalah, tidak ada warga-warga lain yang masuk kartu merah seperti keluarga mereka"


"Sa kamu nemuin Laras gak?" teriak Reno yang mencari Laras di bawah kolom tempat tidur.


"Enggak, di lemari ini gak ada Laras" jawab Alisa.


"Lalu di mana Laras, kenapa di kamar ini gak ada, aku udah nyari kemana-mana, tetapi tetap sejak gak ada" bingung Reno yang masih tak bisa menemukan Laras.


"Apa mungkin bukan dukun beranak dan mbah Gamik yang sudah nyulik Laras?" pikir Alisa.


"Siapa lagi kalau bukan mereka sa, hanya mereka yang saat ini menjadi tersangka, masa ada orang lain lagi yang udah buat Laras dan warga-warga lainnya hilang selama ini" Reno merasa tidak yakin jika ada warga yang tersangkut paut dalam kasus hilangnya Laras dan juga warga-warga lainnya.


"Tapi masalahnya kenapa kita gak nemuin Laras di sini, masa iya Laras gak di kurung di sini, tapi aneh tau, mbah Gamik udah meninggal, dukun beranak udah meninggal, pak Prapto juga udah meninggal, masa iya mbah Gamik yang udah nyulik Laras, buat apa dia nyulik Laras, dia juga gak akan bisa dapat keuntungan" Reno pun terdiam, ucapan Alisa ada benarnya juga.


"Iya juga, lalu siapa sebenarnya dalang yang ada di balik ini semua, masa iya bukan mbah Gamik, pak Prapto dan dukun beranak dalangnya?" Reno masih kurang yakin jika mereka tidak ada sangkut pautnya dalam masalah ini.


"Gak tau juga, masalah ini agak rumit, karena masalah ini terjadi di jaman dulu, aku masih belum lahir mungkin, mbk Hilda aja gak tau tentang mbah Gamik, apalagi aku, dan sekarang ini kejadian serupa kembali terjadi, memang setiap tahun ada anak yang hilang, tapi bunda sama ayah gak ngizinin aku dan Aliza buat nyari mereka, karena pasti ayah dan bunda takut kami ikutan hilang" jawab Alisa.


Tiba-tiba Reno menghirup bau dupa di ruangan ini yang begitu menyengat.


"Sa kamu nyium bau aneh gak?" Alisa menghirup dan ternyata ada bau dupa yang masuk ke dalam hidungnya.


Tatapan Reno jatuh pada kemenyan yang ada di samping tempat tidur.


"K-kok kemenyan itu hidup, siapa yang udah bakar kemenyan itu" gagap Reno saat sadar akan keanehan itu.


"Arrrrgghh" teriak Alisa yang lari duluan dari kamar dukun beranak karena takut sosok dukun beranak muncul di sana.


"Sa tunggu" Reno mengejar Alisa yang keluar dari dalam kamar dukun beranak.


"Arrrrgghh"


Ustadz dan Dita yang mendengar suara teriakan keduanya bangun dari duduk karena terkejut.


"Ada apa, kenapa kamu teriak?" cemas Ustadz Fahri yang takut ada apa-apa pada keduanya.


"D-di dalam ada kemenyan yang tiba-tiba nyala sendiri, padahal gak ada yang ngidupin" jelas Reno dengan terbata-bata dan ngos-ngosan.


Ustadz Fahri mengerutkan alis."Kemenyan, di mana kalian nemu kemenyan itu?"


"Di dalam kamar dukun beranak tadz, di sana kami lihat ada kemenyan yang nyala sendiri" jawab Alisa.


"Apa kakak nemuin Laras di sana?" Alisa menggeleng cepat.


"Enggak, kami gak nemuin Laras, Laras gak ada di sana, kami sudah nyari dia kemana-mana tetapi tetap saja tidak ada juga" jawab Alisa.


Wajah Dita kembali cemas."Terus kalau Laras tidak ada di dalam kamar dukun beranak, ada di mana dia, apa jangan-jangan dia memang tidak ada di sini?"


"Kalau tidak ada di sini, berarti bukan mbah Gamik pelaku penculikan Laras ini" jawab Ustadz Fahri.


"Kalau bukan mbah Gamik siapa lagi tadz, hanya dia orang yang masuk kartu merah" Alisa mulai bingung pada misteri hilangnya Laras dan pelakunya yang tidak bisa di deteksi.


"Eh tunggu-tunggu, mbah Gamik bilang kalau dia nyuruh kita ke sini agar kita nyari jasadnya yang di kubur hidup-hidup di samping rumahnya, dia minta kita makamin jasadnya dengan layak, maksud dari hal itu apa, apa itu murni keinginannya ataukah ada maksud lain?" Reno teringat kejadian mengerikan yang terjadi tadi malam.


"Kayaknya ada maksud tertentu, tapi kita udah ngeledah rumahnya, namun tetap saja gak ada apa-apa, apa sebenarnya yang mbah Gamik inginkan, kenapa penuh misteri seperti ini" bingung Alisa.


"Saya juga masih belum tau, kita tunggu Aliza dan Angkasa ke sini, mereka harapan kita satu-satunya, kalau mereka nemuin Laras di rumah ini berati memang mbah Gamik pelakunya" jawab Ustadz Fahri.


"Iya, kita tunggu saja mereka kembali dulu, kita tunggu di sini aja, aku gak mau nunggu di dalam, mayatnya pak Prapto ngeri, iih serem" bergidik ngeri Alisa saat teringat pada mayat pak Prapto yang tergantung di seutas tali.


"Ya sudah kita tunggu di sini saja" mereka mengangguk lalu menungggu kedatangan ku dan Angkasa di teras rumah.


Mereka tidak ada yang berani menemani jenazah pak Prapto yang sudah membusuk.