
Aku mengerucutkan bibir ku."Tapi sa aku pengen banget ke sana, aku pengen lihat seperti apa yang nikah itu, aku udah lama gak pernah ke kondangan"
"Ayo kita ke sana, mereka gak akan ngapa-ngapain kita kok" aku terus berusaha membuat Angkasa mau ikut ke sana bersama ku.
Angkasa melihat jika aku ingin sekali ke sana, ia bingung harus melakukan apa, karena kalau nekat datang ke sana, takutnya makhluk-makhluk hitam itu membahayakan kami.
"Za apa itu" tunjuk Angkasa ke arah belakang pelaminan.
Pelaminan itu menghadap ke arah barat, di sebelah kanan pelaminan adalah rumah pak lurah sedangkan kami berada di sebelah kiri pelaminan yang sepi dan gelap, tak ada satupun orang yang melihat kami, apalagi kegelapan malam membuat kami tak terlihat oleh siapapun.
"Gak ada apa-apa, apa yang kamu lihat?"
"Tadi aku lihat kayak ada orang yang ngelambai-lambain tangannya" jawab Angkasa yang merasa aneh pada gangguan itu.
"Apa mungkin itu orang yang mau minta tolong sama kita?"
"Enggak mungkin za, dia pasti makhluk halus, kita saat ini berada di desa gaib, gak mungkin itu manusia sama seperti kita, pasti itu makhluk halus yang ingin buat kita masuk ke dalam jebakannya" jawab Angkasa.
Aku melihat ada tangan seseorang yang seperti berusaha untuk membuka jendela namun tak kunjung bisa.
"Enggak sa, kayaknya itu memang orang yang ingin minta tolong, ayo kita ke sana, kita harus lihat siapa dan kenapa dia minta tolong"
"Tapi za-
Belum sempat Angkasa menyelesaikan ucapannya aku malah langsung berlari menuju jendela yang ada di samping rumah pak lurah.
Angkasa mengejar ku dari belakang.
Aku hendak membuka jendela itu, dengan cepat Angkasa menepisnya.
"Jangan, itu bukan manusia, dia bisa ngebahayain kita" marah Angkasa yang sangat khawatir kalau aku akan kenapa-napa.
"Enggak akan sa, aku gak akan kenapa-napa, kamu jangan khawatir berlebihan kayak gitu"
"Bagaimana aku gak khawatir, di sini ini alam gaib, banyak makhluk halus yang berkeliaran, aku gak mau kamu di celakai sama mereka" jawab Angkasa.
"Tapi sa-
"Sstt jangan berisik" Angkasa menutup mulut ku agar aku tak lagi membantah ucapannya.
Mmpp
Aku berusaha menyingkirkan tangan itu dari mulut ku namun sangat susah, tenaga ku tak sekuat tenaga Angkasa.
"Sstt diam, ada yang mendekat" bisik Angkasa di telinga ku.
Aku langsung diam tak lagi memberontak.
Angkasa menarik ku untuk masuk ke dalam semak-semak yang berjarak 1 meter dari jendela itu.
"Diam, jangan bergerak" aku pun tak jadi memberontak dan diam dengan menahan napas.
Makhluk berbulu hitam dan lebat celingukan seperti mencari seseorang di samping rumah pak lurah, namun tidak ada siapapun yang ia lihat.
"Kok tidak ada siapa-siapa, tapi barusan aku dengar ada suara seseorang di sini, kenapa saat aku ngecek ke sini malah gak ada?" bingung kingkong itu yang terus melihat ke kanan dan kiri yang kosong.
"Apa ini cuman perasaan aku saja, mungkin aja, aku lebih baik kembali saja ke depan, tidak akan ada yang ke sini juga" kingkong itu kembali ke depan.
Kami yang ada di dalam semak-semak itu bernapas lega saat kingkong itu pergi.
"Kamu sih berisik banget, untung aja kingkong itu gak sampai lihat kita, kalau dia sampai lihat kita, selamanya kita gak akan bisa keluar dari sini" marah Angkasa.
"Maaf, aku gak tau kalau akan ada kingkong itu ke sini"
Angkasa membalas dengan deheman."Ayo kita keluar dari sini, lebih baik kita pergi saja dari sini, di sini gak aman, banyak kingkong yang bisa dengan mudah nangkap kita dan buat kita kena masalah"
Aku mengangguk lalu kami keluar dari dalam semak-semak itu.
Kami hendak berjalan menuju ke tempat awal, yaitu semak-semak yang gelap dan sepi itu, di sana adalah tempat teraman yang bisa kami tempati.
"Tolong" teriakan lirih seseorang yang membuat langkah kami berhenti.
"Kok kayak ada suara orang minta tolong sa, kamu dengar juga kan?"
"Iya, tapi di mana, di sini gak ada siapapun" Angkasa melihat sekelilingnya namun tidak ada satu orangpun yang ia temukan.
Pandangan ku tertuju pada jendela yang berada di samping rumah pak lurah.
"Apa jangan-jangan dari dalam rumah ini ya?"
"Tapi siapa yang minta tolong kalau memang benar suara minta tolong itu dari dalam?" penasaran Angkasa pada sosok itu.
"Ayo kita lihat saja siapa yang minta tolong"
"Coba kamu buka jendela itu" titah Angkasa.
Aku mencoba membuka jendela itu namun tidak bisa.
"Enggak bisa, jendela ini di kunci dari dalam, kita gak bisa lihat siapa yang minta tolong itu?"
"Minggir dulu, biar aku yang akan buat dia keluar sendiri" aku pun mundur sesuai permintaannya.
Angkasa melempar batu ke arah jendela itu hingga pecah, kemudian kami masuk ke dalam semak-semak untuk bersembunyi.
"Siapa di sana?" seorang makhluk berbulu hitam melihat ke arah belakang rumah yang kosong, tidak ada siapapun yang ia temukan.
"Gak ada siapa-siapa di sini, kenapa jendela ini bisa pecah, siapa yang sudah berani mecahinnya?" kingkong itu masih mencari-cari pelakunya namun tetap saja tidak ia temukan.
Kingkong itu kemudian meninggalkan jendela saat tidak menemukan siapa-siapa.
"Hiks hiks hiks hiks"
Dari dalam semak-semak aku mendengar suara tangisan lirih seorang wanita yang sepertinya sangat ketakutan.
"Sa di dalam memang benar ada orang dan aku rasa orang itu tidak sama seperti kingkong itu" bisik ku.
"Iya, tapi siapa yang sudah berada di sana, apa mungkin Laras" Angkasa tiba-tiba teringat pada Laras yang hilang.
"Mungkin saja, ayo kita coba intip siapa yang berada di sana"
Kami dengan perlahan-lahan keluar dari dalam semak-semak.
Dengan berjinjit aku mencoba melihat isi di dalam kamar itu namun tidak bisa, jendela itu sangat tinggi meski sudah berjinjit tetap saja tidak bisa.
"Aku gak bisa lihat, aku ingin lihat ada apa di dalam, bagaimana caranya sa?"
Angkasa diam, ia mulai berpikir dengan melihat sekitarnya.
Tiba-tiba pandangan Angkasa jatuh pada batu bata yang berada di ujung bangunan rumah pak lurah.
"Dengan itu, kita tata batu-batu itu di sini biar kita bisa lihat siapa yang berada di dalam kamar ini" tunjuk Angkasa ke arah batu bata itu yang dapat membantu kami untuk bisa melihat isi di dalam kamar pojok itu.