
Alisa yang melihat senyuman menyeramkan milik sosok nenek-nenek itu langsung membenamkan wajahnya pada punggung Reno.
"Kenapa sa?" tanya Reno.
"Ada hantu" jawab Alisa.
Setelah mendengar jawaban itu Reno tak lagi bertanya dan malah menambah kecepatan agar bisa segera keluar dari dalam jalanan desa.
"Reno ngebut sa, kita harus ngebut juga, kita harus sampai di sekolahan secepatnya" kata ku yang melihat Reno menyalip kami.
Angkasa tidak menjawab dan malah menambah kecepatan mengejar Reno.
Sebelum keluar dari dalam jalanan desa aku melihat ke belakang dan mendapati jika sosok nenek-nenek itu sudah pergi dari sana.
"Syukurlah dia tidak ngikutin aku lagi" batin ku merasa sangat lega.
Aku kembali menghadap ke depan.
Angkasa terus melajukan motor dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Setelah beberapa saat ngebut-ngebutan di jalan akhirnya motor berhenti di parkiran.
"Akhirnya nyampe juga" kata Alisa.
Aku turun dari motor dan mendapati kelima makhluk halus itu yang sudah berada di parkiran.
"Aku kira kalian pada keliling kampung, gak taunya ada di sini" kata Alisa.
"Iya, kami ke sini lebih awal karena kami ingin tau seperti apa gadis pucat yang kalian maksud itu" jalan mbk Hilda.
"Kalian lihat di mana gadis pucat itu berada?" tanya ku.
"Enggak, kami gak ketemu sama dia meski udah berkeliling di sekolahan ini, kami rasa dia itu takut pada kami, mangkanya gak mau menampakkan diri" jawab mbk Gea.
"Kalau seperti itu kalian lebih baik tetap diam di sini saja, jangan kemana-mana, kalau nantinya kami kesulitan saat menyelidiki gadis pucat itu, kami akan langsung panggil kalian" kaga ku.
"Tapi za kami ingin ikut nyelidiki gadis pucat itu juga" kata mnk Santi.
"Jangan mbk, kalau kalian ikut bisa-bisa gadis pucat itu gak akan mau nampain diri" larang Alisa.
"Ya udah deh kami gak akan ikut, tapi kalau ada kesulitan langsung panggil kami aja" kata mbk Gea.
"Iya, kami pasti akan langsung panggil kalian" jawab ku.
"Sekarang kalian bebas, kalian boleh kemana aja, tapi saat kami panggil harus langsung datang, oke" kata Alisa.
"Oke" jawab mereka.
"Ayo kita ke Ustadz Fahri aja, kita jagain restoran, di sini biar Tiger sama White aja yang jaga" kata mbk Santi.
"Iya juga, lebih baik kita ke sana saja" setuju mbk Hilda.
"Iya, kalian tunggu kami di resto aja, nanti kami juga akan ke sana" kata Alisa.
Mereka mengangguk lalu menghilang dari hadapan kami.
"Tiger, White kalian tunggu di sini ya, jangan masuk ke dalam, karena gadis pucat itu pasti akan lari kalau kalian ikut masuk" kata ku.
"Iya, kita gak akan masuk, sana kalian masuk ke dalam sebelum gerbangnya di tutup" suruh Tiger.
Kami mengangguk lalu masuk ke dalam sebelum bel berbunyi, sementara Tiger dan White berjaga di parkiran.
Ketika kaki ku menginjak sekolahan mata ku langsung mencari keberadaan gadis pucat yang dari kemarin terus mengikuti ku.
"Mana dia, kenapa gak kelihatan" batin ku.
Angkasa melihat ku yang celingukan mencari sesuatu.
"Apa yang kamu cari?" tanya Angkasa.
"Iya juga, kita harus cari dia" kata Alisa.
"Mau nyari di mana, di sini itu luas,
mana mungkin kalian bisa nemuin hantu itu" kata Reno.
"Benar juga kata Reno, terus giaman ini, kita mau nyari gadis pucat itu di mana?" tanya Alisa.
"Gini aja dari pada nyari keberadaannya, lebih baik kita cari tau siapa murid yang gak masuk sampai sekarang, baru setelah itu kita selidiki dia, aku yakin sekali di antara mereka pasti ada gadis pucat itu" jawab ku.
"Caranya?" tanya keduanya.
"Kemarin kita udah bahas ini masa kalian lupa" kata ku.
"Dengan cara nyuri absen kan" kata Reno ingat pada pembahasan kemarin saat berada di mobil.
"Iya, kalian berdua gih sana nyuri absen di kantor" suruh ku.
"Za di kantor itu ada banyak guru, dan juga pasti semua absen yang ada di kantor pada sekertaris ambil, kalau kita mau ngambil sebaiknya nanti setelah pulang sekolah, karena semua absen akan kembali di kumpulkan menjadi satu di kantor" usul Alisa.
"Kalau nyurinya pulang sekolah, bisa lama kita berada di sekolahan ini, kita kan masih harus urus restoran, masa kita tinggalin restoran gitu aja" kata ku.
"Kita titip aja pada Ustadz Fahri, beliau pasti mau kok, beliau juga ngerti kenapa kita gak bisa urus restoran saat siang hari, baru setelah malam kita bisa ambil alih kembali, aku yakin Ustadz Fahri pasti mau kok" saran Alisa.
"Ya udah nanti aku akan coba telpon Ustadz Fahri, mudah-mudahan beliau mau handle restoran selama kita nyelidiki gadis pucat itu" setuju ku.
"Iya kamu telpon gih sekarang sebelum bel bunyi, jangan nunggu nanti" suruh Alisa yang tak sabaran.
Aku mengeluarkan ponsel ku dan menekan nama Ustadz Fahri.
"Assalamualaikum tadz" kata ku saat panggilan terhubung.
"Wa'alaikum salam ada apa Aliza?" tanya Ustadz Fahri.
"Begini tadz kami ingin nyelidiki gadis pucat itu, ceritanya kami mau nitip restoran pada Ustadz, apa Ustadz bisa handle beberapa hari ini, tapi cuman siangnya aja tadz, kalau malam kami akan ambil alih kembali" jawab ku.
"InsyaAllah saya bisa, kalian urus saja masalah hantu itu, masalah restoran biar saya yang handle" setuju Ustadz Fahri.
"Makasih tadz, kami usahakan secepatnya kami akan selain masalah gadis pucat itu" kata ku.
"Iya sama-sama, gak usah buru-buru juga, selesain dengan pelan-pelan aja, karena saya lihat kasus yang akan kalian hadapi ini agak berat" kata Ustadz Fahri.
"Iya sih tadz, karena kasusnya berhubungan dengan sekolahan ini" jawab ku.
"Pelan-pelan aja selidikinya, jangan lupa hati-hati, jangan sampai kalian kena masalah saat nyelidiki kasus hantu itu" peringatan Ustadz Fahri.
"Siap tadz, kami akan terus hati-hati" jawab ku.
"Saya tutup dulu ya Aliza, soalnya ada banyak pesanan" kata Ustadz Fahri.
"Iya tadz" jawab ku.
"Assalamualaikum" salam Ustadz Fahri.
"Wa'alaikum salam" jawab kami.
Setelah mendengar jawaban ku Ustadz Fahri kemudian menutup sambungan telepon.
"Gimana?" tanya mereka.
"Ustadz Fahri mau kok handle restoran" jawab ku.
Mereka langsung senang mendengar berita gembira itu.
"Bagus kalau gitu, untung aja masih ada Ustadz Fahri di rumah, kalau enggak, kita pasti akan kalang kabut ngehadapi kasus hantu itu dan juga restoran" kata Alisa yang tidak dapat membayangkan jika hal itu ia alami.