The Indigo Twins

The Indigo Twins
Nenek misterius menyapu taman



Di sisi lain.


Alisa berjalan di koridor dengan langkah tak semangatnya, ia benar-benar tak semangat untuk sekolah.


Ketika hampir sampai di kelasnya tiba-tiba langkah Alisa terhenti, ia teringat pada seseorang yang selalu berdiri di ambang pintu dan akan mengganggunya seharian.


Bulir-bulir bening tiba-tiba mengalir saat Alisa teringat pada Roy yang sudah tiada, ia benar-benar merindukan pemuda menyebalkan itu, namun kini pemuda itu sudah beristirahat dengan tenang di pengistirahatan terakhirnya.


"Roy" panggil Alisa lirih.


Rasanya ia tak sanggup untuk masuk ke dalam kelas, kelas itu akan menjadi hampa saat tak ada dirinya, alhasil Alisa berjalan menuju balkon sepi dan menangis di sana, ia tak apa-apa bolos sekolah hari ini karena sungguh keadaan saat ini tak bisa di ajak berkompromi.


"Roy kamu di mana, aku kangen banget sama kamu, kenapa kamu tega ninggalin aku huhu"


Alisa menangis di balkon sepi itu, ia benar-benar merindukan Roy.


Balkon itu benar-benar sepi, tidak ada siapapun di sana, hanya dia seorang yang berada di sana, Alisa bisa bebas melakukan apa saja di sana tanpa harus takut tindakannya di ketahui oleh orang lain.


"Roy" panggilnya lirih, ia masih sesegukan di balkon sepi itu.


Tanpa Alisa sadari ada seseorang yang berjalan mendekatinya dengan perlahan-lahan.


"Sudah jangan nangis, dia sudah tenang di alam sana, kamu harus ikhlasin dia"


Seketika tangisan Alisa terhenti, ia menatap ke arah laki-laki yang berdiri di hadapannya.


"Masih ada banyak orang yang sayang sama kamu, kamu jangan nangisin orang yang sudah pergi, percuma karena dia gak akan kembali"


"Siapa yang sayang sama aku, gak ada, gak ada satupun, semua orang pelan-pelan ninggalin aku, aku benci sama mereka"


Alisa bangkit dari duduk, dengan air mata yang mengalir dia meninggalkan pemuda itu yang masih berdiri di tempat.


"Aku mencintai mu sa"


Seketika langkah Alisa terhenti, ia berbalik dan menatap tak percaya ke arah pemuda itu.


"Aku mencintai mu" Reno mengulangi sekali lagi ucapannya, ia menatap ke arah Alisa yang masih tertegun.


Setetes air mata mengalir di wajah Alisa, Alisa mendekati Reno dengan sangat terkejut.


"Kenapa kamu gak bilang dari awal" dengan kesalnya Alisa memukuli dada Reno.


"Aku pengen bilang dari dulu, cuman keadaannya gak tepat, mangkanya aku pendem dulu" Reno menahan tangan Alisa yang terus memukuli dadanya.


"Aaaah gak tau" Alisa berbalik, ia hendak pergi dari sana.


Reno menarik tangan gadis itu untuk menghentikannya.


"Bagaimana?"


"Bagaimana apanya?" pura-pura tak tau Alisa.


"Mau tidak?"


"Tidak"


Seketika raut wajah Reno langsung berubah, ia menjadi galau brutal saat mendengar kata penolakan itu yang keluar dari mulut Alisa.


Reno melepaskan tangannya yang memegang tangan Alisa, Alisa menatap wajah Reno yang berubah menjadi sedih.


"Tidak bisa nolak maksudnya"


Dengan terkejut Reno menatap ke arah Alisa.


"Kamu-


"Iya"


Belum Reno menyelesaikan ucapannya, Alisa langsung lebih dulu menjawab.


Terbit senyuman di wajah Reno, saat kini apa yang ia pendam sudah ia keluarkan juga.


Alisa juga tersenyum, Reno menghapus air mata yang mengalir di pipi Alisa.


"Jangan nangis lagi, aku gak suka kamu nangis buat laki-laki lain"


"Iya gak lagi kok, sana balik ke kelas mu, jangan ada di sini"


"Enggak mau ren, aku mau di sini, aku gak mau masuk kelas hari ini"


"Ya udah aku biarin kamu bolos hari ini, tapi lain kali kamu gak boleh bolos lagi"


"Iya, enggak lagi kok, sumpah rasanya hari ini aku gak semangat buat sekolah, gak Aliza soalnya"


"Gak ada Aliza apa gak ada Roy" sindir Reno.


Alisa memukul Reno."Enggak ya, aku gak mau mikirin Roy lagi, lagian dia sekarang sudah pasti tenang di alam sana"


"Oh ya, tapi kalau gak mikirin Roy, kenapa kamu sampe nangis-nangis di sini"


Alisa tersenyum malu."Diam, jangan ungkit-ungkit lagi, mau aku putusin hah!"


"Baru juga jadian, masa udah putus aja" tak percaya Reno.


"Mangkanya gak usah nyebelin"


"Iya deh, gak lagi, kita ke taman yuk sa, sudah lama kita gak ke sana"


"Ayo"


Alisa dan Reno berjalan ke taman dengan bergandengan tangan, kedua sejoli itu kini sudah resmi berpacaran.


"Ren sejak kapan kamu suka sama aku, kenapa kamu gak bilang dari awal?"


"Udah lama, cuman gak berani aja bilang sama kamu, apa lagi waktu itu ada Dava, oh ya bagaimana dengan Dava, apa kamu beneran gak mau nungguin dia?"


"Aku hanya takut dia gak kembali ren, dari awal aku memang sudah bilang ke Dava kalau aku gak mau nungguin dia balik"


"Kalau itu keputusan kamu, aku gak bisa berbuat apa-apa, semua keputusan ada di tangan kamu, mau nungguin iya, gak mau ya sudah"


Langkah mereka tiba-tiba terhenti.


"Ren itu siapa?" tunjuk Alisa pada seorang nenek-nenek yang menyapu taman angker itu.


"Gak tau, aku gak pernah lihat dia selama ini, baru kali aku lihat dia, sebelum-sebelumnya kan kita gak pernah lihat kalau di sekolahan ini ada nenek-nenek"


"Apa mungkin itu bukan manusia?"


"Untuk mastiin, lebih baik kita samperin aja sa, kita tanyain langsung"


Alisa mengangguk setuju, mereka berdua mendekati nenek-nenek misterius yang tengah menyapu taman.


"Assalamualaikum nek"


Seketika aktivitas nenek-nenek itu terhenti, ia menatap ke arah Alisa dan Reno bergantian.


"Nenek siapa, kenapa nenek berada di sini?" penasaran Alisa, ia terus menatap wajah nenek-nenek yang tampak dingin dan serius.


"Jangan pacaran di sekolahan ini"


Mereka berdua tersentak, nenek-nenek itu benar-benar aneh menurut mereka.


"Kenapa nek, kenapa kami tidak boleh pacaran di sekolahan ini?"


"Penghuni sekolahan ini tidak mau kalau siswa maupun siswi di sini berpacaran, kalau kalian masih nekat pacaran di sekolahan ini, kalian akan lihat mala petaka apa yang datang" setelah mengatakan hal itu nenek-nenek misterius itu langsung menghilang tanpa aba-aba.


"Ya Allah" terkesiap mereka saat nenek-nenek itu ternyata bukan manusia.


"Reno" wajah Alisa langsung pucat, ucapan nenek-nenek itu terus terngiang-ngiang di benaknya.


"Sstt kamu jangan takut, ada aku di sini, tapi apa maksud nenek-nenek itu sebenarnya, kenapa dia larang kita pacaran, terus mala petaka apa yang akan datang kalau kita nekat pacaran di sini?" itu yang Reno bingungkan sedari tadi.


"Aku gak tau, coba kita tanya ke mbk kunti yang ada di pohon dekat lapangan, dia pasti tau jawabannya, dia sudah lama berada di sekolahan ini"


"Iya ayo kita ke sana"


Mereka berdua mendekati mbk kuntilanak yang duduk dengan tenang di ranting pohon.


Sesekali mbk kunti itu mengeluarkan suara merdunya, namun tak banyak orang mendengarnya.