The Indigo Twins

The Indigo Twins
Membawanya ke jalur hukum



"Sepertinya ada orang yang dengar membicaraan kita" panik pak Tejo.


"Kita harus kejar mereka" ajak si gembul yang juga merasa panik.


Mereka berdua keluar dari ruangan itu dan mengejar kami yang sudah hampir keluar dari gerbang.


"Jangan lari" teriak mereka.


Kami tidak peduli sama sekali dan terus berlari keluar dari rumah pak Tejo.


Mereka berdua mengejar kami yang sudah mulai tidak terlihat.


"Kemana mereka, kenapa mereka sudah tidak ada?" pak Tejo celingukan mencari kami di luar namun di luar tidak ada satupun orang yang terlihat di matanya.


"Sepertinya mereka sudah pergi" sahut si gembul.


"Siapa mereka sebenarnya, kenapa mereka bisa masuk ke dalam rumah ini, apa mereka sudah ngikutin aku ke sini tanpa aku sadari?"


"Sudah kita biarkan saja, ayo kita masuk saja, mereka hanya cecunguk-cecunguk kecil, mereka tidak akan bisa bahayain kita" pak Tejo setuju lalu kembali masuk ke dalam rumahnya.


Aku dan Alisa yang berada di dalam semak-semak menatap tajam ke arah pak Tejo dan si gembul yang pelan-pelan mulai menghilang karena terhalang gerbang.


"Apa mereka bilang, cecunguk-cecunguk kecil?" geram Alisa ketika mendengar kalimat hinaan dari mulut mereka.


"Akan aku beri mereka pelajaran, sudah buat restoran ku hancur, sekarang mereka malah akan berniat membakarnya, awas saja kau ya, akan aku beri perhitungan pada mu"


"Sstt jangan berisik sa, nanti mereka bisa dengar"


"Biarin za, walaupun mereka dengar, aku gak takut!"


"Kita sudah dapatin pengakuan pak Tejo tentang apa yang dia perbuat pada restoran, dengan bukti ini kita bisa jebloskan dia ke dalam penjara"


"Iya, dia harus di jebloskan ke dalam penjara, biar dia tau rasa!"


"Ayo kita pulang, kita harus beri tau yang lain tentang apa yang kita dapatkan" Alisa mengangguk lalu dengan perlahan-lahan kami keluar dari dalam semak-semak.


"Za kita harus kasih tau om tentang hal ini, dia harus tangkap pak Tejo, aku gak terima pak Tejo masih berkeliaran bebas sedangkan dia sudah bikin restoran kita hancur lebur"


"Iya, kita akan beri tau om saat sampai di rumah, tapi sa yang agak gembul itu siapa ya, kamu ngenalin dia gak?"


Alisa diam dan mulai berpikir."Enggak, aku gak kenal sama sekali dengannya, dari suaranya aja aku gak kenal, apalagi orangnya"


"Apa mungkin dia pak Jarwo ya, pak Jarwo kan agak gembul?"


"Kayaknya enggak deh za, kalau pak Jarwo kan suaranya masih rada-rada gak asing di telinga aku, tapi si gembul barusan itu beda, menurut aku dia bukan pak Jarwo"


"Sepertinya dia itu orang suruhan pak Jarwo, kita harus hati-hati sama dia sa, kita masih belum tau siapa dia sebenarnya"


"Iya, aku akan hati-hati"


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, innalilahi wa innailaihi roji'un telah meninggalnya saudara kita pak Jefri pada pukul 9 pagi, teruntuk seluruh warga di desa Kamboja khusunya laki-laki saya minta tolong untuk menggali kuburan, saya ulangi lagi innalilahi wa innailaihi roji'un, telah meninggalkannya saudara kita pak Jefri, pada pukul 9 pagi, teruntuk seluruh warga di desa Kamboja khusunya laki-laki saya minta tolong untuk menggali kuburan" kami menghentikan langkah saat mendengar suara siaran itu.


"Itu pak Jefri yang meninggal?" terkejut Alisa.


"Iya, pak Jefri meninggal, itu yang lagi siaran pak RT"


"Pak Jefri meninggal kenapa za, perasaan gak ada berita dia sakit"


"Aku gak tau juga, ayo kita ke rumah pak Jefri aja, pasti di sana sudah ada banyak orang" Alisa mengangguk lalu berlari bersama ku menuju rumah pak Jefri.


Dari kejauhan kami melihat seseorang.


"Alisa" panggil orang itu yang membuat kami semakin berlari mendekatinya.


"Sudah, barusan kami dengar siaran itu, pak Jefri meninggal kenapa ren?" penasaran Alisa.


Reno hendak mengatakan segalanya namun ia melihat banyak sekali warga yang hilir mudik mendatangi rumah pak Jefri.


"Ren kenapa kamu diam, pak Jefri meninggal kenapa, apa dia sakit?"


"Enggak, dia gak sakit, pak Jefri meninggal karena kecelakaan beberapa menit yang lalu, ayo kita ke sana aja, di sana sudah ada Angkasa dan Ustadz Fahri" ajak Reno.


Kami mengangguk setuju lalu berlari menuju rumah pak Jefri yang masih sangat jauh.


Reno tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Kok berhenti ren, rumah pak Jefri masih jauh?" penasaran Alisa yang melihat Reno tiba-tiba berhenti.


"Lihat" Reno menunjuk ke sebelah kiri.


Kami semua melihat ke arah rumah pak Jarwo yang sangat besar namun tidak ada keanehan apapun yang kami dapatkan.


"Kenapa dengan rumah pak Jarwo?" semakin merasa aneh Alisa.


Reno celingukan melihat sekelilingnya.


"Aman"


"Apanya yang aman ren?"


"Enggak kok" jawab Reno.


"Kok kamu makin aneh, ada apa sebenarnya?" penasaran Alisa.


"Kalian tau gak pak Jefri itu meninggal gara-gara nyi Gayatri" pelan Reno yang takut ada orang yang mendengarnya.


"NYI GAYATRI"


"Sstt, jangan berisik, nanti pak Jarwo dengar" suruh Reno dengan menempelkan jarinya di bibir.


"Kamu bilang pak Jefri meninggal karena nyi Gayatri, emang nyi Gayatri apain dia?"


"Iya, aku penasaran banget sama apa yang di lakuin nyi Gayatri sehingga pak Jefri bisa meninggal" tambah Alisa.


"Tadi nyi Gayatri berdiri di depan gerbang, saat pak Jefri akan lewat, dia langsung berdiri di tengah-tengah jalan dan menampakkan wajahnya, pak Jefri langsung banting setir, kepalanya menghantam batu, beliau menghembuskan napas di tempat" jelas Reno dengan suara pelan.


"Kok nyi Gayatri bisa setega itu" Alisa menutup mulut tak percaya ketika mendengar cerita Reno.


"Dia memang tega sa, kalau dia gak tega, gak mungkin anak pak Jarwo satu persatu mati" jawab Reno.


"Apa tujuan nyi Gayatri bikin pak Jefri meninggal?"


"Sepertinya dia haus tumbal, mangkanya dia bikin satu persatu warga meninggal dunia" jawab Reno.


"Ini gak bisa di biarin, dia gak bisa kita diamkan lagi, kita harus bikin dia pergi dari sini" geram Alisa.


"Itu harus, rencananya aku, Angkasa sama Ustadz Fahri bakal nyelidiki pak Jarwo nanti malam dengan cara hadir di perayaan itu, apa kalian mau ikut?" kami mengangguk kompak.


"Iyalah, kita mau ikut, aku ingin sekali tau kebusukan pak Jarwo, malam ini kita harus bisa ngungkap misteri yang selama ini ia sembunyikan" jawab Alisa.


"Ayo kita ke rumah pak Jefri, nanti kita rembukan lagi saat sudah sampai di rumah"


"Iya ayo" setuju mereka.


Kami kembali berlari menuju rumah pak Jefri yang masih sangat jauh.