
Saat kaki mereka keluar dari dalam gudang, bertapa terkejutnya mereka saat melihat Elfa anak kelas 10 B1 yang melihat semua kejadian yang telah terjadi di depan matanya.
Elfa yang menyadari jika keberadaannya di ketahui oleh mereka berenam langsung berlari.
"Tunggu, jangan lari" teriak Hani.
"Kita harus kejar dia, dia gak boleh bocorin apa yang udah kita lakuin pada Andin, bisa-bisa kita yang akan kena masalah besar jika sampai semua orang tau" usul Shena.
"Iya, ayo kita kejar dia" setuju Chelsea.
Mereka berenam berlari mengejar Elfa yang semakin menjauh.
"Tunggu, jangan lari"
Teriakan itu membuat Elfa semakin kencang berlari, ia tidak mau di tangkap oleh mereka berenam.
Elfa melihat ke belakang."Aku gak boleh sampai di tangkap sama mereka, aku harus bisa pergi dari sini secepatnya, aku tidak mau bernasib sama seperti Andin"
Elfa terus berlari dengan kencang untuk menghindari mereka.
"Jangan lari, berhenti kalau kamu masih mau hidup" ancam Bianca.
Elfa tidak mendengarkan dan terus berlari.
"Aku gak boleh sampai di tangkap sama mereka, aku harus bisa pergi dari sini, ayo Elfa lebih cepat lagi" Elfa terus berlari dengan kencang untuk menghindari mereka berenam yang terus mengejarnya.
Elfa yang sedang panik berlari ke sembarang arah namun naasnya jalan ia lewati ternyata jalan buntu.
"Gawat, aku harus pergi kemana ini" panik Elfa yang tidak bisa berlari kemana-mana.
Elfa berbalik badan menghadap ke belakang, betapa terkejutnya ia saat melihat mereka berenam yang kini berada tepat di belakangnya dengan tatapan maut.
"M-matilah aku" batin Elfa tercekat.
Sorot mata tajam Hani tertuju pada Elfa."Mau kemana kau?"
"Kau tidak akan bisa pergi kemanapun" Elfa menelan ludah mendengar ucapan Shena.
"Kau akan habis di tangan kami" ancaman Chelsea membuat Elfa memundurkan tubuhnya dengan gemetaran.
Mereka dengan sorot mata tajam berjalan mendekati Elfa sedikit demi sedikit.
"J-jangan dekati aku, pergi kalian" tintah Elfa yang gemetaran hebat saat mereka mendekatinya.
Bianca tersenyum mengejek."PERGI, itu tidak akan pernah kami lakukan"
Elfa menelan ludah pahit, ia terus berjalan mundur ke belakang perlahan-lahan sementara mereka terus mendekatinya.
Elfa tercekat saat tubuhnya kini sudah mentok ke dinding.
"J-jangan dekati aku, plis jangan apa-apain aku, aku mohon pada kalian, aku janji aku gak bakal bilang sama siapa-siapa, yang penting kalian jangan apa-apakan aku, biarkan aku pergi, aku masih mau hidup" janji Elfa yang gemetaran saat melihat penyiksa yang sudah mereka lakukan pada Andin.
"Tidak bisa Elfa, kami tidak bisa ngelepasin kamu gitu aja, karena kami tidak mau kamu bocorin hal ini suatu saat nanti" tolak Nadira yang tak mau ngambil resiko dengan membiarkan Elfa lolos sementara dia sudah tau kejahatan yang sudah ia dan teman-temannya lakukan.
"Kalau seperti aku akan pindah dari sekolahan ini, biar kalian percaya kalau aku gak akan bilang hal ini pada siapapun" mereka semua saling melirik untuk meminta pendapat.
Mereka saling mengangguk, Elfa masih terus ketar-ketir ia sungguh takut pada mereka berenam.
"Baiklah kami akan lepasin kamu, tapi ingat kamu harus pergi dari sini, pindah yang jauh dari sekolahan ini dan jangan pernah kembali lagi" suruh Hani.
Elfa mengangguk."Iya, aku akan pergi dari sini, aku gak akan ke sini lagi, kalian akan aman dan apa yang terjadi barusan tidak akan pernah di ketahui oleh orang lain"
"Sekarang cepat kamu pergi dari sini" usir Shena.
Elfa berjalan melewati mereka, tiba-tiba hpnya jatuh ke bawah dan memperlihatkan kejadian penyiksaan Andin yang berhasil ia rekam dengan sembunyi-sembunyi.
Elfa memejamkan mata saat Nadira mengambil hpnya."Ini bukannya kejadian di mana kamu nyiksa Andin"
"Ini lihat" mereka semua melihat rekaman video itu.
Seketika wajah Hani langsung kembali murka."Di kasih hati malah minta jantung"
"Tau, ini gak bisa kita biarkan, dia pasti bakal bocorin kejadian ini suatu saat nanti, aku yakin itu" yakin Shena.
"Iya, kita harus bereskan dia, dia adalah orang yang akan buat kita sengsara di masa yang akan datang" jawab Gisel.
Elfa berusaha kabur dari sana namun Bianca berhasil menarik kerah baju belakangnya yang membuatnya tidak bisa lari.
"Mau kemana kamu hah, kamu masih berniat melarikan diri dari kami?" Bianca geram sekali pada Elfa yang masih sempat-sempatnya ingin pergi darinya.
"Udah di baikin malah ngelunjak" tak habis pikir Gisel.
"Lepasin aku, lepasin aku" berontak Elfa yang tak mau diam.
"Ngelepasin kamu, itu gak akan pernah terjadi" tegas Nadira di telinga Elfa.
Bianca melirik ke arah Hani."Han, kita mau apakan dia, kita gak bisa biarkan dia lolos, aku yakin banget dia pasti akan membuat kita kena masalah cepat atau lambat?"
"Bawa dia ke toilet yang ada di lantai 4, kita kurung saja dia di sana, biarkan dia mati di sana" jawab Hani dengan entengnya tanpa memiliki rasa iba sedikitpun.
"Ayo ikut" ajak Bianca.
"Enggak, aku gak mau, aku mau pergi, jangan bunuh aku, tolong jangan bunuh aku" histeris Elfa yang terus di seret oleh mereka untuk menuju ke lantai 4.
"Lepasin aku, aku gak mau di kurung, lepasin aku, aku ingin pergi" Elfa masih tak kunjung diam, ia terus berusaha terlepas dari mereka, namun begitu sulit.
"Udah gak usah berisik, diam aja, kamu setelah ini akan hidup bahagia dan kami tidak akan pernah ketahuan" teriak Shena.
"Aku gak mau diam, kenapa kalian tega sekali, plis jangan lakukan ini pada ku, aku tidak mau mati, aku masih mau hidup, aku masih mau hidup" teriak Elfa yang memberontak, air mata terus mengalir di sepanjang perjalanan menuju lantai 4.
"Udah gak usah lebay, kami ini baik, kamu saja yang tidak bisa melihatnya" jawab Nadira.
"Kalian jahat, kalian jahat, kalian jahat" teriak Elfa.
"Kami memang jahat, kalau kamu baik, kami gak akan ngelakuin hal ini" jawab Hani penuh penekanan.
"Cepat masukin dia ke toilet itu" perintah Hani.
Bianca dan Nadira memasukkan Elfa ke dalam toilet paling pojok lalu menguncinya.
"Lepaskan aku, lepaskan aku, aku ingin keluar, siapapun tolong aku" teriak Elfa yang ketakutan.
"Udah gak usah berisik, kamu duduk diam aja di sana, di sana nyaman kok haha" mereka tertawa senang ketika melihat Elfa ketakutan.
"Aku mohon lepasin aku, aku tidak mau ada di sini" teriak Elfa dengan terus mengedor-gedor pintu.
"Sstt jangan berisik" tegas Shena.
"Ayo kita tinggalin dia aja, cepat atau lambat dia pasti akan mati" Hani menatap ke arah toilet yang berisikan Elfa di dalamnya.
"Iya, ayo kita pergi dari sini" setuju Gisel.
Mereka semua keluar dari dalam toilet angker itu sementara Elfa terus berteriak meminta tolong namun tidak ada satupun orang yang menolongnya.
"Tolong aku, tolong aku, aku terjebak di sini, plis tolong aku" teriak Elfa sekeras yang ia bisa.
"Siapapun tolong aku, aku tidak mau ada di sini" teriak Elfa sekali lagi.
"Aku tidak mau ada di sini" Elfa terduduk di bawah, ia menangis sekencang-kencangnya karena ketakutan.
"Mama tolong aku, aku takut" tangis Elfa yang memeluk tubuhnya sendiri di dalam toilet itu.