The Indigo Twins

The Indigo Twins
Ujian yang berat



"Bu lepaskan, jangan begini" titah pak Rahmat yang berusaha menarik istrinya.


"Bapak jangan halangi ibu, ibu mau balas dendam sama dia, dia adalah anak dari orang yang bikin Laras meninggal, ibu harus balas dendam padanya, ibu gak terima anak kita meninggal gara-gara dia!"


"Ibu jangan begini, lepaskan nak Indri, kasihan dia, ayo kita pulang saja" ajak pak Rahmat.


"Kasihan bapak bilang, dia itu tidak patut di kasihani, dia seharusnya ikut mati bersama bapaknya yang tua bangka dan serakah itu!"


"Sudah-sudah bu sudah, ayo kita pulang" pak Rahmat menyeret bu Retno untuk pergi dari sana.


"Lepasin ibu pak lepasin, ibu gak mau pulang, ibu mau balas dendam, izinin ibu hajar anak dukun itu pak!" bu Retno terus berteriak-teriak, pak Rahmat menarik paksa istrinya untuk pergi dari sini.


"Kamu gak apa-apa?" khawatir Ustadz Zaki.


"Enggak mas, aku baik-baik saja" jawab mbk Indri.


Tatapan warga menatap aneh ke arah mbk Indri dan Ustadz Zaki yang menurut mereka sangat dekat, mereka semua tidak ada yang tau kalau keduanya sudah menikah.


"Bu Diana, pak Rangga, kami pamit pulang dulu ya, Rani hati-hati ya, jangan sampai kamu di culik lagi" tanpa sadar bu Weni menyindir mbk Indri yang merupakan anak dari orang yang membuat anak-anak kecil di desa ini hilang selama ini.


"Iya bu" jawab Rani.


"Ayo ibu-ibu kita pulang, di sini rada-rada panas" ajak bu Hanung.


Para ibu-ibu lainnya satu persatu membubarkan diri dari sini dan pulang ke rumah masing-masing.


Mbk Indri menghela napas berat, mungkin inilah ujian yang harus ia lewati saat ini.


"Sabar, gak usah dengarin mereka, ada saya di sini" mbk Indri mengangguk, walaupun ujian yang menghadangnya sangat berat namun jika ada Ustadz Zaki di sampingnya, InsyaAllah dia kuat.


"Ayo kita masuk ke dalam, gak enak ada di luar" ajak ayah.


Kami semua masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.


"Kalian kenapa kok bisa datang ke hutan yang ada di belakang rumah pak Jarwo?" penasaran ayah.


"Kami curiga aja ayah, waktu itu kami pernah ke sana, tapi kami gak sempat masuk ke dalam karena ada pak Jarwo dan pak Tejo yang mendekat" jawab Alisa.


"Kalian saat di sana ketemu sama Intan gak?" bunda ingin memastikan hal itu, ia hanya masih belum yakin kalau hilangnya Intan juga karena pak Jarwo.


"Iya bun, kami di sana ketemu sama Intan, Alisa benar-benar gak nyangka kalau dia hilang karena di culik sama makhluk halus" jawab Alisa.


"Tunggu-tunggu kalian bisa tau kalau di dalam hutan yang ada di belakang rumah pak Jarwo adalah tempat anak-anak kecil di sembunyiin dari siapa?" penasaran ayah.


"Dari kingkong ayah"


"KINGKONG?"


"Iya kingkong, tapi dia kingkong yang baik, dia gak sama kayak yang lainnya, dia yang sudah anterin Aliza ke tempat di mana ada pohon bambu yang tumbul melingkar dan ternyata di dalam pohon bambu itu terdapat anak-anak kecil yang selama ini di nyatakan hilang"


"Terus kemana sekarang kingkong itu, apa dia nyelakain kalian?" memastikan bunda.


"Aliza gak tau dia sekarang kemana bun, tapi dia baik kok bun, buktinya dia gak nyelakain Aliza, malahan dia yang udah bantuin Aliza, kalau Aliza gak ketemu sama dia, mungkin Aliza gak bakal tau di mana mereka semua di kurung selama ini"


"Syukurlah kalau dia gak ngapa-ngapain kalian, bunda sudah takut banget kalian akan kena masalah" lega bunda setelah mendengar penjelasan ku.


"Itu gak akan terjadi bun, oh ya om bagaimana dengan pak Tejo, dia di hukum berapa tahun?" penasaran Alisa.


"Prediksi om cuman 2 tahun" jawab pak Heru.


"Dikit banget om, seharusnya om hukum dia seberat-beratnya, sekalian jangan bikin dia keluar dari dalam penjara" shock Alisa saat mendengar hukuman pak Tejo yang benar-benar sedikit sekali menurutnya.


Alisa menghembuskan napas kasar."Semoga aja hukuman pak Tejo sampai bertahun-tahun, biar dia tau rasanya menderita"


"Fahri ayo kita buang botol ini dulu" ajak Ustadz Zaki.


Ustadz Fahri mengangguk."Iya ayo, semuanya kami pamit dulu, assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam" jawab kami semua.


Ustadz Fahri dan Ustadz Zaki keluar dari dalam rumah, mereka melajukan motor menuju laut untuk membuat botol itu.


"Mau kemana mereka" penasaran bunda.


"Ke laut bunda, mereka mau buang botol yang di dalamnya berisikan genderuwo yang berhasil mereka tangkap, di dalam botol itu juga ada Bima, sekarang Bima gak akan gangguin mbk Indri dan Ustadz Zaki lagi, dia akan benar-benar pergi setelah ini" mbk Indri sedikit lega mendengar hal itu.


"Alhamdulillah kalau seperti itu, pelan-pelan semua masalah mulai hilang, bunda senang banget, sekarang hanya tinggal masalah restoran, habis ini bunda mau ke restoran, bunda mau cek keadaan restoran, sekalian mau di perbaiki biar restoran bisa buka kembali" lega bunda.


"Kami ikut ya bun, kami ingin melihat keadaan restoran"


"Iya, ayo kita ke restoran sekarang, Indri kamu sama mbk Rinda ya, kalian jangan keluar rumah, banyak tetangga yang ember, lebih baik kamu di sini saja" perintah bunda.


"Baik tante" jawab mbk Indri.


"Ayo kita berangkat ke restoran sekarang" ajak bunda.


Drrt


Drrt


Drrt


"Sebentar-sebentar" bunda mengambil hpnya yang bergetar.


"Halo ada apa pak?"


"^_^"


"Baik pak, saya akan ke sana"


"^_^"


"Iya, saya akan ke sana, sebentar lagi saya akan sampai di sana, bapak tunggu saja kedatangan kami"


"^_^"


"Iya-iya pak"


Bunda mengakhiri panggilan itu."Bunda gak bisa ke sana sekarang, kalian ke sana saja sendiri, soalnya bunda ada pertemuan sama klien"


"Ya sudah sana bun, kami akan ke sana berempat, bunda gak usah khawatir, kami nanti yang akan beresin restoran"


"Ya sudah bunda tinggal dulu, assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"


Ayah dan bunda berangkat ke tempat yang akan ia tuju.


Kami melihat mobil ayah dan bunda yang pelan-pelan keluar dari dalam halaman rumah, kemudian menghilang dari hadapan kami karena jarak yang cukup jauh.