The Indigo Twins

The Indigo Twins
Haus tumbal



Ustadz Fahri di bantu Angkasa dan Reno membalik tubuh pengemudi itu.


"Pak Jefri" terkejut mereka saat mengenali pengemudi itu yang barusan kecelakaan tunggal di depan mata mereka.


"Iya ini beneran pak Jefri tadz"


"Coba cek denyut nadinya tadz" titah Reno.


Ustadz Fahri memeriksa denyut nadi pak Jefri.


"Inalillahi wa innailaihi roji'un, beliau sudah berpulang" mereka berdua terkejut ketika tau kalau pak Jefri sudah meninggal dunia.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un"


"Kita harus kasih tau warga kalau pak Jefri sudah meninggal, biar warga-warga juga nganterin jenazah pak Jefri ke rumahnya" usul Reno.


"Iya, cepat kalian suruh warga-warga datang ke sini" perintah Ustadz Fahri.


Mereka berdua langsung berlari mendekati rumah-rumah warga terdekat.


"Pak, pak tolong pak Jefri" Angkasa berhenti di depan warga-warga yang duduk-duduk di warung mak Eroh.


"Kenapa dengan pak Jefri?"


"Pak Jefri meninggal pak"


"MENINGGAL?"


"Iya pak, pak Jefri meninggal kecelakaan tunggal di depan rumah pak Jarwo, tolong bapak-bapak ikut ke sana, di sana sudah ada Ustadz Fahri"


"Ayo bapak-bapak kita ke sana"


Mereka semua berlari mendekati Ustadz Fahri.


"Pak tolong bantu saya antarkan jenazah pak Jefri ke rumahnya" titah Ustadz Fahri.


"Baik tadz"


"Ada apa ini?" pak RT yang tiba-tiba melintas di depan rumah pak Jarwo terkejut saat melihat kerumunan warga.


"Pak Jefri meninggal dunia pak RT, beliau kecelakaan tunggal" jawab Reno.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un" terkejut pak RT dengan mengelus dadanya.


"Ayo bapak-bapak bantu antarkan jenazah pak Jefri ke rumahnya" ajak Ustadz Fahri.


Mereka semua mengangkat jenazah pak Jefri lalu mengantarnya bersama-sama ke rumah duka.


Pak RT mengikuti mereka dengan menggunakan motor.


Istri pak Jefri tertegun saat melihat pak RT yang berhenti tepat di rumahnya.


"Ada apa pak RT, kenapa ke sini?" penasaran bu Warda dengan memegang sapu.


"Pak Jefri meninggal bu" jawab pak RT.


"APA MENINGGAL?"


"Enggak mungkin pak RT, gak mungkin suami saya meninggal, barusan dia berangkat kerja, pak RT jangan ngarang cerita" tak percaya bu Warda.


"Saya tidak ngarang cerita bu, suami ibu meninggal dunia karena kecelakaan tunggal di depan rumah pak Jarwo" jelas pak RT.


Bu Warda menutup mulut tidak percaya saat melihat warga-warga yang membopong jenazah pak Jefri yang pelan-pelan memasuki halaman rumahnya.


Para warga meletakkan jenazah pak Jefri di lantai.


"Enggak mungkin, ini gak mungkin terjadi" setetes air mata mengalir di pipi bu Warda saat melihat suaminya yang sudah terbujur kaku dengan darah yang terus mengalir.


"Bapak, bapak kenapa, kenapa bapak begini, apa yang sudah terjadi pada bapak hiks hiks" tangis bu Warda yang memeluk tubuh suaminya yang sudah tidak dapat bergerak lagi.


"Ada apa pak?"


"Pak Jefri meninggal bu, beliau kecelakaan tunggal di depan rumah pak Jarwo"


"Ya Allah, kasihan sekali bu Warda"


Para tetangga sangat prihatin pada musibah yang menimpa keluarga bu Warda.


Angkasa, Reno dan Ustadz Fahri berdiri agak menjauh dari para warga.


"Kenapa nyi Gayatri ngelakuin ini semua, apa tujuannya membuat pak Jefri meninggal" pelan Angkasa agar tidak ada orang yang mendengarnya.


"Tumbal, apalagi, dia pasti haus akan tumbal, sehingga banyak sekali warga-warga yang tewas karena ulahnya" jawab Ustadz Fahri.


"Kita harus hentikan apa yang dia lakukan tadz, kalau dia terus di biarkan maka akan ada banyak korban yang berjatuhan" usul Reno.


"Iya, kita harus singkirkan dia dari desa ini dengan cara membuat murid-muridnya berhenti nyembah dia" jawab Ustadz Fahri.


"Sekiranya siapa saja murid-muridnya yang ada di desa ini?"


"Pak Jarwo" jawab Reno.


"Itu pasti ren, tapi aku ngerasa ada orang lain lagi yang pasti ikut nyembah nyi Gayatri, kita harus bongkar satu persatu murid-murid nyi Gayatri dan buat kebusukannya terungkap, biar kejanggalan dan keanehan yang memakan tumbal di desa ini menghilang"


"Iya, kita harus cari tau, satu saja yang ketahuan, pasti akan merambat kemana-mana dan saya yakin sekali kalau nantinya semua orang-orang yang ikut bersekutu dengan setan akan terungkap satu persatu" yakin Ustadz Fahri.


"Kita mulai dari pak Jarwo, selaku orang yang sudah di ketahui bersekutu dengan setan, jika kebusukannya terungkap maka warga-warga yang satu frekuensi dengannya akan ikut terungkap"


"Nanti malam kita harus begadang untuk mencari tau tentang pak Jarwo dan misteri yang pak Jarwo sembunyiin, saya yakin di dalam rumah itu menyimpan misteri besar, dari luar saja aura negatif yang berada di dalam rumah itu sudah terasa, mangkanya saya selalu duduk di paling belakang karena tubuh saya panas ketika berada di rumah pak Jarwo" sahut Ustadz Fahri.


"Boleh juga tadz, kita cari tau segalanya sampai larut malam, gak tidur semalam juga gak apa-apa tadz, karena besok restoran masih tutup, sekolah juga masih libur, jadi kita bisa nyelidiki masalah ini tanpa di beratkan dengan dua hal itu" setuju Reno.


"Bagaimana dengan Aliza sama Alisa?" Angkasa teringat pada kami berdua yang menyelidiki pak Tejo.


"Kita harus susul mereka" ajak Reno.


"Kita gak bisa susul mereka, gak enak sama warga-warga yang ada di sini kalau kita tinggalin, sekarang ini kita lagi ada di rumah pak Jefri, beliau baru saja meninggal dunia, kita harus ikut antarkan beliau ke pengistirahatan terakhirnya, baru kita susul mereka berdua" jawab Ustadz Fahri.


"Iya juga, aku coba hubungi mereka, aku akan suruh mereka ke sini saja"


Angkasa menghubungi ku.


"Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi" Angkasa mematikan sambungan ketika operator yang menjawab.


"Kok gak aktif"


"Coba kamu hubungi Alisa, mungkin aja dia akan angkat" suruh Reno.


Angkasa berlari menghubungi Alisa.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat di hubungi" Angkasa langsung mematikan sambungan.


"Kok gak aktif, apa mereka sengaja matiin hp"


"Kayaknya iya, mereka pasti sengaja matiin hp agar gak ketahuan saat melakukan penyelidikan" jawab Reno.


"Terus ini gimana caranya kita buat ngasih tau mereka, mereka gak bisa di hubungi"


"Aku akan susul mereka ke sana, kalian tunggu saja di sini" jawab Reno.


"Iya kamu susul mereka, bawa mereka ke sini, ingat hati-hati jangan sampai kamu ketahuan sama pak Tejo" peringatan Ustadz Fahri.


"Baik tadz, aku pergi dulu assalamualaikum" pamit Reno.


"Wa'alaikum salam" jawab mereka.


Reno berjalan meninggalkan rumah pak Jefri, orang-orang tidak ada yang menyadari kepergiannya karena mereka semua pada sibuk mengurus jenazah pak Jefri.