
Pulang sekolah.
"Za aku sama mama dan papa mau ke rumah kamu, tungguin ya di sana" kata Angkasa di parkiran.
"Iya kami akan tunggu kamu di rumah, aku pulang dulu, sampai jumpa" jawab ku.
"Sampai jumpa" kata Angkasa.
Aku dan Alisa pulang ke desa bersama-sama.
"Za ngapain mama dan papanya Angkasa mau ke rumah?" tanya Alisa.
"Katanya mereka mau bertemu sama bunda, papa Angkasa itu kan temanan sama bunda" jawab ku.
"Oalah" kata Alisa.
Motor terus melaju dengan kecepatan sedang, motor kami masuk ke jalanan desa.
Sampai di rumah.
"Assalamualaikum" salam kami.
"Wa'alaikum salam" jawab mereka.
Kami masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
"Bunda ayah katanya hari ini akan ada orang tua Angkasa yang mau ke sini" kata ku.
"Kenapa kamu gak bilang dari kemarin?" tanya bunda kaget.
"Angkasa aja bilang barusan pas di sekolah, mana bisa aku bilang sama bunda kemarin" jawab ku.
"Mau ngapain katanya?" tanya bunda.
"Mau ketemu doang Bun gak ada hal lain, tadi Angkasa bilang katanya dia mau pindah ke sini biar bisa berangkat bareng aku ke sekolah" jawab ku.
"Owh begitu" kata bunda.
"Kalian mandi gih biar gak bau, setelah itu makan" kata ayah.
"Siap ayah" jawab kami berdua.
Kami berdua masuk ke dalam kamar masing-masing.
Tak lama dari itu apa yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
"Assalamualaikum" kata seseorang di luar.
"Wa'alaikum salam Azril" jawab bunda terkaget.
"Kamu apa kabar sudah lama kita tidak bertemu lagi" kata Azril.
"Alhamdulillah baik ayo masuk ke dalam, duduk dulu" kata bunda mempersilahkan.
Mereka semua duduk di ruang tamu.
"Kok kamu gak asing ya sepertinya aku pernah melihat kamu" kata Lani.
Lani menatap bunda dengan seksama.
"Kamu Diana Sari Qieansyah itu bukan?" tanya Lani teringat.
"Iya kamu siapa kok tau nama aku" jawab bunda.
"Aku Lani kamu gak ingat sama aku kita dulu sahabat pas SMP" kata Lani.
"Ya Allah ternyata kamu istrinya Azril aku gak nyangka tau" kata bunda.
"Kamu apa kabar?" tanya Lani.
"Baik kok sudah lama kita tidak bertemu setelah lulus SMP" jawab bunda.
Kami berdua mendekati mereka semua yang ada di ruang tamu.
"Bunda ayah" kata kami.
Mereka semua menoleh ke arah kami.
"Ini anak kamu" kata Azril.
"Iya ini Aliza dan ini kakaknya Alisa, mereka kembar" jawab bunda.
"Sana salim" kata ayah.
Kami berdua menyalami punggung tangan kedua orang tua Angkasa.
"Bisa sama gitu ya seperti tidak ada bedanya" kata Lani.
Kami berdua terkekeh kecil mendengar pernyataan itu.
"Iya aku juga kadang keliru, wajar aja kalau kamu kaget oh ya katanya kamu mau pindah ke sini?" tanya bunda.
"Sebenarnya gak mau pindah cuman nih anak mau rumah bapak di bangun lagi dia yang akan menempati nantinya" jawab Azril.
"Terus kalian berdua gak akan tinggal sama Angkasa di sini?" tanya bunda.
"Enggak, kita aja mau berangkat ke luar negeri besok mau nyusul Abangnya Azlan sama eyang, Azlan gak mau kita ajak ke sana" jawab Azril.
"Gak usah di bangun lagi napa Angkasa biar tinggal di rumah aku aja kasihan dia nanti sendirian di rumah" saran bunda.
"Gak enak" jawab Azril.
"Gak enak apanya, kita gak keberatan kok, kita malahan senang kalau Angkasa mau tinggal di sini nanti dia bisa berangkat sekolah bareng Alisa sama Aliza" kata bunda.
Angkasa menatap mata kedua orang tuanya.
"Boleh ya ma kapan-kapan mama sama papa juga boleh datang ke sini, kabarin kalau mama sama papa mau pulang ke indo lagi" kata Angkasa.
"Oke" senang Angkasa.
Mbk Rinda meletakkan teh di meja setelan itu berlalu meninggalkan kami.
"Di minum dulu" kata bunda.
"Iya" jawab mereka.
Mereka meminum teh itu.
"Eyang kamu sakit apa kok di bawa keluar negeri?" tanya bunda.
"Eyang aku lumpuh kita mau coba bawa keluar negeri mudah-mudahan eyang bisa sembuh" jawab Lani.
"Amin semoga saja" kata kami.
Percakapan terus saja terjadi hingga malam pun tiba.
Setelah keluarga Angkasa pulang kami berangkat ke restoran.
Kami bekerja dengan baik sampai waktunya kami beristirahat, kami sekeluarga makan malam bersama tiba-tiba aku teringat sesuatu.
"Reno" batin ku.
Aku menyenggol lengan Alisa yang duduk di sebelah ku, Alisa menatap ku dengan satu alis yang terangkat, tanpa suara aku menyebutkan nama Reno.
Alisa mengacungkan jempol tanda mengerti.
"Ayah" panggil Alisa.
Ayah menatap Alisa.
"Ayah tau di sekolahan kakak ada anak yang akan di jadikan tumbal oleh orang tuanya, kasihan tau ayah" kata Alisa.
"Lalu?" tanya ayah.
"Yah ayah bantuin lah masa iya kita biarkan dia menjadi tumbal kasihan dia baik banget" jawab Alisa.
"Gak boleh nanti kalian yang akan jadi tumbal kalau gagal membantunya" larang bunda.
"Ish bunda ini tidak berperikemanusiaan" kata kami kompak.
"Tau gimana bunda ini, kasihan dia masa bunda tidak memiliki rasa empati sedikit saja" kata ku.
"Hati bunda sudah menjadi batu mangkanya bisa seperti itu" kata Alisa.
"Ah sudahlah kalian jangan berakting bunda gak mau izinin, kalian gak usah bantuin anak itu" larang bunda.
Wajah kami menjadi masam, kami saling tatap-menatap.
"Gimana ini?" tanya Alisa pelan.
"Gak tau, aku gak punya cara lain lagi" jawab ku pelan.
"Ayolah Bun izin kan kita membantunya" mohon Alisa.
"Iya Bun kasihan dia" kata ku.
Bunda hendak bicara.
"Bunda tau dia itu anak lelaki" kata ku.
"LELAKI" kata bunda tak percaya.
"Iya dia itu rela berkorban untuk adik kecilnya, kasihan tau Bun kalau dia berhasil jadi tumbal ayolah izinkan kami membantunya kami akan berusaha semaksimal mungkin kok" mohon ku.
"Baiklah bunda akan izinin kalian" jawab bunda.
"Dasar anak ini tau saja ide untuk merayu bunda" batin ayah.
"Terimakasih Bun" senang kami.
"Kapan kalian mau bantuin anak itu?" tanya bunda.
"Besok Bun, kami ceritanya mau bawa dia ke rumah biar tinggal sama kita boleh kan Bun" jawab Alisa.
"Boleh yang penting anak itu selamat" kata bunda.
"Makasih Bun" jawab kami.
"Siapa nama anak itu?" tanya bunda.
"Reno Bun" jawab ku.
"Nama yang bagus" kata bunda
"Bun aku mau bilang sama Reno dulu prihal hal ini biar dia besok dia bisa langsung siap siaga" kata Alisa.
"Iya sana kamu kabarin" jawab bunda.
Alisa meninggalkan kami bertiga.
"Kamu gak nanya sama Angkasa kapan dia mau pindah?" tanya bunda.
"Lupa, mungkin besok sehabis pulang sekolah dia akan pindah" jawab ku.
"Kenapa ya Angkasa gak mau di bawa sama Lani dan Azril kamu tau gak alasannya?" tanya bunda.
"Gak tau juga Bun mungkin dia lebih memilih hidup di Indonesia dari pada luar negeri" jawab ku.
"Mungkin saja kamu lanjut makan gih setelah itu pulang" kata bunda.
Aku melanjutkan makan bersama.