The Indigo Twins

The Indigo Twins
Terbelalak



Topen berserta teman-temannya muncul di ruangan tempat Ki Suryo membakar dupa.


"Bagaimana?" tanya Ki Suryo menyadari kedatangan mereka.


"Maaf Ki kami tidak berhasil membawa Reno kembali karena ada harimau penjaga anak kembar itu yang membuat kami kesulitan untuk membawa Reno ke sini" jawab Topen dusta.


"APA kenapa kalian tidak berhasil, dasar kalian memang payah" amuk ku Suryo.


Mereka semua hanya bisa menunduk.


"Maafkan kami Ki, kami hanya membawa wanita ini saja ke sini" kata Topen menyerahkan botol yang berisikan mbk Hilda.


Wajah Ki Suryo yang memerah menjadi reda, ia mengambil botol itu.


"Kerja bagus, aku kira kalian gagal total" senyum Ki Suryo memandangi botol itu.


Topen dan teman-temannya bernafas lega.


"Kalian tunggulah di sini dulu, aku mau keluar sebentar" kata Ki Suryo dengan meletakkan botol itu di almari yang terbuat dari kayu.


"Baik Ki" jawab mereka.


Ki Suryo melangkah keluar dari ruangan itu dan mendapati Desi serta Robi yang menghilang.


"Kemana mereka, kenapa mereka menghilang" kata Ki Suryo.


Dengan cepat Ki Suryo melihat dari jendela untuk mengecek apakah di luar ada mobil Robi atau tidak.


"Sial, mereka melarikan diri" marah Ki Suryo saat tak menemukan mobil mereka.


"Mereka pikir, mereka akan terlepas dari ku, tidak akan bisa" kata Ki Suryo lalu kembali masuk ke dalam ruangan itu.


"Kalian semua cepat cari Robi dan Desi dan habisi mereka" perintang Ki Suryo.


"Baik Ki" jawab mereka.


Meraka semua menghilang dari hadapan Ki Suryo.


Mobil Desi dan Robi keluar dari desa Pongkolan, mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, untung saja suasana jalanan begitu sepi, mereka bisa bebas menguasai jalanan.


Desi melihat kebelakang.


"Pa gawat pa, di belakang ada pasukan Ki Suryo yang mengikuti mobil ini" kata Desi.


"Mama terus saja perhatikan mereka dan kasih tau papa" tintah Robi menambah kecepatan.


Desi menurut ia melihat kebelakang.


"Mereka semakin mendekati mobil ini pa, ayo pa lebih cepat lagi" teriak Desi.


Topen dan kawan-kawannya mendarat di atas atap mobil.


"Pa sepertinya mereka berada di atas atap, bagaimana ini pa, mama gak mau mati karena di jadikan tumbal" cemas Desi.


Robi tak menjawab dan terus menambah kecepatan laju mobilnya.


"Akkkkhh" pekik Desi kala matanya melihat Topen yang berada di kursi belakang mobil.


"Beraninya kalian melarikan diri, kalian harus kembali bersama kami, sebelum Ki Suryo semakin marah" kata Topen dengan di iringi mata tajamnya.


"Aku tidak mau mati, pergi kamu dari sini dan katakan pada tuan tidak berguna mu itu kalau aku berhenti menjadi muridnya" jawab Desi dengan berteriak.


"Beraninya kau menghina tuan ku" marah Topen memancarkan sinar merah dari matanya.


Wajah Desi menjadi ketakutan melihat hal itu.


"Akkkkhh pergi kau" teriak Desi.


Topen mengarahkan tangannya ke leher Desi.


Desi dengan berteriak memukul tangan Topen dengan tas mahalnya.


Di atas atap kawan-kawan Topen menghentak-hentakkan kakinya yang membuat bunyi dan itu semua berhasil membuat tingkat ke fokusan Robi terganggu.


Di depan terlihatlah Ki Suryo dengan tongkat berkepala naga berdiri di tengah jalan.


Mata Robi terbelalak melihat itu semua tanpa pikir panjang Robi membanting setir ke sebelah kiri.


"Arrrrgghh" teriakan panjang mereka.


Ki Suryo dan pasukannya melihat dari atas.


"Musnah juga mereka, ayo kita pergi tinggalkan mereka" ajak ku Suryo.


Mereka semua menghilang dari sana.


Di sisi lain.


Aku yang baru selesai sholat mengambil hp ku, mata ku membulat sempurna saat banyak sekali panggilan tidak terjawab atas nama Alisa.


"Ngapain Alisa nelpon aku" batin ku.


Aku melirik ke arah bunda yang duduk di samping ku.


"Bun aku mau ke ruangan Rani saja temani Alisa, kasihan dia sendirian di sana" kata ku.


"Iya kamu ke sana saja, bentar lagi bunda sama ayah akan susul kamu" jawab bunda.


Aku beranjak dari duduk ku, aku berjalan ke ruangan Rani bersama Reno dan Angkasa.


"Kenapa ya Alisa nelpon aku, ada banyak panggilan tak terjawab loh" kata ku.


"Di hp aku juga ada" jawab Reno.


"Punya ku juga" jawab Angkasa.


"Ada apa dengan dia sebenarnya, ayo kita harus cepat-cepat ke ruangan Rani, perasaan aku gak enak banget" ajak ku.


"Iya ayo mumpung rumah sakit ini sepi" jawab Angkasa.


Kami bertiga berlari menuju ruangan perawatan Rani.


Langkah kami terhenti kala melihat pintu ruangan Rani yang sedikit terbuka, kami lalu kembali berlari.


"Alisa" kaget ku saat melihat Alisa yang tidak sadarkan diri di dekat pintu.


"Ren kamu bawa Alisa ke sofa" tintah ku.


Dengan cepat Reno mengendong Alisa dan meletakkannya di sofa.


"Sa bangun" kata ku dengan mendekatkan minyak kayu putih di hidung Alisa.


Pelan-pelan mata Alisa terbuka.


"Akkkkhh" teriak Alisa.


"Kenapa?" kaget ku.


Alisa langsung memeluk tubuh ku dengan eratnya.


"Aliza takut, tadi itu ada makhluk suruhan Ki Suryo datang ke sini, wajah mereka sangat menyeramkan" jawab Alisa.


"Mereka sudah pergi, kamu jangan takut lagi, ada aku kok di sini" kata ku menenangkannya.


Alisa melepaskan pelukan.


"Kamu kemana aja, kenapa lama sekali, aku kan takut di sendirian, di telpon gak di angkat-angkat" kata Alisa.


"Aku aja baru selesai sholat wajar kalau aku gak ngangkat telpon dari kamu eh tapi kok bisa ada makhluk suruhan Ki Suryo ke sini?" tanya ku.


"Aku juga gak tau, mereka datang ke sini tanpa di undang, tadi itu mbk Hilda berusaha menghalau serangan mereka tapi gagal, aku gak tau dia ada di mana sekarang" jawab Alisa.


"Hilda berhasil di bawa sama mereka" kata Tiger muncul di ruangan ini.


"Kok bisa? kenapa kamu gak tolongin mbk Hilda?" tanya ku.


"Mereka terlalu banyak, aku gak sanggup menghadapi serangan dari mereka terpaksa aku melarikan diri untuk menyelamatkan hidup ku" jawab Tiger.


"Terus gimana ini dengan nasib mbk Hilda, kasihan dia, aku yakin Ki Suryo pasti akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak pada mbk Hilda" gelisah ku.


"Kita harus bantuin mbk Hilda, sebelum itu kita harus cari tau dulu di mana dia sekarang" jawab Angkasa.


"Iya, tapi bagaimana caranya?" tanya ku.


"Gimana kalau besok kita bantuin mbk Reni saja, dia kan di kurung sama Ki Suryo, barang kali nanti kita bisa ketemu sama mbk Hilda di sana, tak mungkin mbk Hilda di kurung di tempat yang jauh" jawab Alisa.


"Iya juga, masalahnya aku gak tau rumah Ki Suryo bagaimana kita bisa ke sana dan ya besok kita harus ikut takziah ke rumah pak Beni" kata ku.