The Indigo Twins

The Indigo Twins
Rencana pembebasan om Devan



Pagi ini kami sudah siap dengan apa yang akan kamj gunakan untuk menyelamatkan om Devan.


Satu persatu aksesoris sudah masuk ke dalam tas masing-masing


Kami berangkat setelah selesai sarapan, kami menepikan motor lalu langsung menuju ke kelas masing-masing.


Alisa melangkahkan kaki mendekati Dava yang sudah berada di dalam kelas, Dava tersenyum ke arah Alisa, Alisa duduk di sampingnya.


"Gimana jadikan yang bantuin nyelamatin ayah aku, aku udah gak sabar untuk melihat ayah aku yang katanya masih hidup" kata Dava.


"Jadi, nanti istirahat kita bahas di taman aja, sekarang saatnya kita belajar tuh guru udah dateng" tunjuk Alisa.


"Oke aku akan mencoba untuk sabar menunggu istirahat tiba walaupun sungguh tak bisa" jawab Dava.


Alisa terkekeh kecil mendengar jawaban Dava.


Alisa mengikuti pelajaran dengan baik.


"W**ahai jarum jam, bisakah kau bergerak lebih cepat, aku ini sudah tidak sabar untuk segera istirahat, kenapa kau sekarang begitu lambat hah, kau ingin mempermainkan ku iya" batin Dava terus melirik jam dinding.


"Geramnya, ku putar juga jarum jam itu, aku sudah tidak bisa duduk dengan tenang lagi" geram Dava.


"Sabar, bentar lagi juga bel" kata Alisa menenangkan Dava yang tak bisa diam.


Dava menghembuskan nafas berat, tangan kanan Dava menompang dagu sedangkan tangan kirinya membuat bunyi kecil di meja


Mata Dava terus saja memperhatikan jam dinding tanpa henti, dia tak mempedulikan sama sekali guru yang sedang berceramah panjang lebar di depannya.


Teeett


Akhirnya yang Dava tunggu-tunggu berbunyi dengan nyaring di sekolahan ini, senyuman manis terpancar di wajah Dava.


"Ayok sa aku sudah tidak sabar lagi" ajak Dava.


Dava menarik tangan Alisa lalu menggenggamnya erat-erat.


Dava berjalan dengan langkah yang cukup lebar, Alisa kewalahan mengejar langkah Dava.


"Pelan-pelan napa, aku gak bisa jalan terburu-buru begini, aku lebih suka berjalan dengan santai, tenang dan damai" kata Alisa.


"Enggak bisa, kita harus cepat sampai di taman, malahan kalau bisa tinggal 'cling' lalu sampai di tempat yang aku inginkan, tanpa harus repot-repot berjalan kaki, macam makhluk halus" jawab Dava.


"Ya udah mati aja sana, nanti kamu juga akan bisa tinggal ngilang kayak makhluk halus" kata Alisa.


"Teganya" jawab Dava


Mereka berdua terus berjalan.


"Hai gais" sapa Dava saat melihat Angkasa dan aku yang baru sampai di taman.


"Wihh tumben amat Alisa cepat sampainya, biasanya dia paling akhir datang ke sini" kaget ku.


"Iya, aku sengaja narik dia buat cepetan, kalau gak bakalan lama nyampe ke sini" jawab Dava.


"Ih lepasin" kata Alisa melepas tangannya dari genggaman erat Dava.


Alisa meniup tangannya yang merah.


"Kita bahas sekarang aja rencana untuk menyelamatkan om Devan, lebih cepat lebih baik" kata Angkasa.


"Iya kita bahas sekarang aja, aku sudah tidak sabar mau ketemu sama papa" jawab Dava.


"Eh Reno mana?" tanya Alisa yang tak menemukan Reno di sini.


"Noh" tunjuk ku yang melihat Reno sedang berjalan kemari.


"Ini masion keluarga besar Pakerlimo" kata Dava.


Dava mengeluarkan laptop dari dalam tas lalu menunjukkan masion yang saat ini dia tempati kepada kami sesuai dengan apa yang kami inginkan.


Aku mengamati foto-foto masion keluarga besar Pakerlimo yang begitu besar dan mewah.


"Kita masih anak-anak, ini terlalu bahaya untuk kita membebaskan om Devan sendirian, bakalan ada banyak faktor penghambat yang pasti akan membuat kita tertangkap nantinya, lihat aja penjagaannya sangat ketat" kata Angkasa.


"Kita minta bantuan siapa, kasus kali ini teramat sulit, gak bisa kita selesain sendiri dengan segala faktor-faktor penghambat yang akan menyerang kita nantinya?" tanya Alisa.


"Kita harus meminta bantuan kepada orang yang lebih dewasa, kita tidak bisa mengambil resiko besar karena takutnya kejadian yang di alami pak Beni terulang kembali" jawab ku.


"Minta bantuan ayah sama bunda" kata Reno.


"Wah itu pasti lah, tanpa ayah dan bunda yang mendukung kita, kita gak akan bisa berpetualangan hari ini" jawab Alisa.


"Tapi bunda sama ayah lagi urus restoran, gak akan bisa mereka berdua bantuin kita" kata ku.


"Pada siapa ya kita meminta bantuan?" tanya Alisa.


Aku diam sesaat sambil memikirkan pada siapa kami minta bantuan.


"Om Heru, iya om Heru bisa membantu kita dalam kasus ini, dia kan bekerja menjadi polisi, nanti om in syaa Allah bakalan bisa lindungi kita saat dalam keadaan urgent" jawab ku setelah beberapa saat terdiam.


"Setuju, kita minta bantuan ke om Heru aja, beliau pasti mau membantu kita di kasus ini, om Heru kan seorang polisi jadi lebih gampang dan sudah paham dengan kasus seperti ini" kata Alisa.


"Iya itu bisa memudahkan kita buat membebaskan om Devan jika di dampingi oleh pihak kepolisian" kata Reno.


"Bentar aku hubungin om Heru dulu" kata ku mengeluarkan ponsel dari saku, membuka aplikasi hijau lalu menghubungi om.


"Assalamualaikum om" salam ku saat panggilan telepon sudah di angkat oleh pak Heru.


^^^"Wa'alaikum salam kenapa za?" tanya pak Heru.^^^


"Speaker za speaker, aku mau dengar juga saat om mau membantu kita dalam kasus ini" tintah Alisa.


Alku menuruti keinginannya.


"Om sibuk gak nanti sore?" tanya ku basa-basi terlebih dahulu sebelum meminta bantuan.


^^^"Enggak, hari ini om gak ada tugas, kenapa emang?" tanya pak Heru.^^^


"Gini om, Aliza punya taman namanya Dava, ayahnya Dava yang bernama om Devan saat ini lagi di sekap sama tante Celina istrinya sendiri, tante Celina itu menikah dengan om Devan hanya karena menuruti keinginan dari sang kekasih yang bernama Tio, ternyata Tio berteman dengan om Devan, terus ada masalah apa gitu sehingga mereka berdua menyekap dan memanipulasi kematian om Devan, mereka membuat rencana seolah-olah om Devan itu sudah meninggal padahal nyatanya enggak, mereka malah menyekap om Devan di ruangan bawah tanah yang ada di rumah mereka" jelas ku.


^^^"Terus?" tanya pak Heru.^^^


"Ya Om bantuin kita buat membebaskan om Devan lah" jawab Alisa yang sudah geregetan sedari tadi.


^^^"Hmm iya nanti om bantuin" jawab pak Heru.^^^


"Yeeyy makasih om" kata kami.


Kami berdua begitu senang saat pak Heru setuju untuk membantu menyelamatkan om Devan.


^^^"Nanti sharelock ya" perintah pak Heru.^^^


"Oke om nanti Alisa bakalan share lokasinya" jawab Alisa dengan penuh semangat.


^^^"Ya udah om tutup dulu assalamualaikum" salam pak Heru sebelum menutup sambungan telepon.^^^


"Wa'alaikum salam" balas kami.


Pak Heru kemudian memutus sambungan telepon.


Aku memasukkan kembali ponsel ke dalam saku.


"Oke om Heru udah setuju nanti pulangnya kita berkumpul di parkiran" kata ku.


"Makasih, beruntung banget aku bisa ketemu sama kalian, jika tidak aku gak akan tau kalau papa saat ini masih hidup" syukur Dava.


"Sama-sama" balas kami.


"Nih ayo kita makan dulu, aku tadi sengaja minta mbk Rinda siapkan bekal" kata ku memberikan satu-persatu bekal pada mereka semua.