The Indigo Twins

The Indigo Twins
Keterkejutan kak Tias



Krieet


Pintu ruangan ICU tiba-tiba terbuka.


Kami langsung bangun dari duduk dan mendekati dokter itu.


"Gimana dok kondisinya Roy?" penasaran Angkasa yang takut ada apa-apa pada Roy sebab ekspresi wajah dokter yang terlihat sangat cemas.


"Kondisinya masih sama, masih belum ada tanda-tanda adanya perubahan"


Aku semakin cemas mendengar jawaban dokter.


"Di mana keluarga pasien, apa sudah datang, kami butuh donor darah secepatnya, sebelum nyawa pasien tidak tertolong lagi?"


"Keluarganya sedang on the way ke sini dok, sebentar lagi dia akan datang" jawab Angkasa.


"Beritahu saya kalau keluarganya sudah datang" tintah dokter.


"Baik dok"


Dokter masuk ke dalam ruangan ICU kembali.


"Gimana ini sa, kak Tias masih belum datang, sedangkan Roy butuh darah golongan AB negatif secepatnya"


"Kamu tenang saja, kak Tias pasti akan sampai kok, kita tunggu sebentar aja, pasti kak Tias bakal datang ke sini kok, gak mungkin dia gak datang" Angkasa menenangkan ku yang cemas takut ada apa-apa yang terjadi pada Roy jika tidak mendapatkan darah golongan AB negatif secepatnya.


Kami menunggu kedatangan kak Tias dengan tak tenang.


Di luar Alisa terus menghubungi kak Tias, dia sangat khawatir sekali pada kondisi Roy yang di nyatakan kritis, kalau tidak segera di tolong maka Roy tidak akan bisa selamat.


"Ren mana kak Tias, kenapa masih belum datang juga?" cemas Alisa mondar-mandir ke sana kemari karena kak Tias tak kunjung datang juga.


"Dia masih ada di jalan sa, bentar lagi dia pasti akan ke sini, aku yakin kok dia pasti akan datang, kamu tidak usah khawatir" Reno terus menenangkan Alisa yang tak bisa tenang.


"Gimana aku gak khawatir, Roy kritis ren, kalau dia gak segera di tolong, dia akan-


"Roy gak akan kenapa-napa sa, dia itu kuat, dia gak mungkin ninggalin kita, kamu jangan berpikir macem-macem, udah kita tunggu saja kak Tias datang, aku yakin sebentar lagi dia akan datang" Reno berusaha untuk terus yakin kalau Roy akan baik-baik saja.


Mereka berdua terus mondar-mandir tak tenang karena kak Tias masih tak kunjung datang juga.


"Kak Tias kamu di mana, cepat datang, Roy lagi butuh kakak, cepat tolongin dia kak, Alisa mohon sekali" batin Alisa yang tidak bisa tenang.


Seorang wanita yang selisih sekitar 2 tahunan di atas Alisa masuk ke dalam rumah sakit dengan mengenakan pakaian serba hitamnya.


Wanita itu celingukan seperti mencari sesuatu.


"Kak Tias" teriak Alisa.


Sontak wanita itu langsung melihat ke arah Alisa lalu bergegas mendekati Alisa.


"Di mana Roy, dia baik-baik saja bukan?"


"Roy kritis kak, dia butuh darah golongan AB negatif" jawab Alisa.


"Golongan darah ku AB negatif"


"Kalau seperti itu ayo ikut kami kak" ajak Reno.


Kak Tias berlari mengikuti keduanya menuju ruangan ICU.


Kami yang melihat kedatangan mereka merasa sedikit tenang.


"Gimana keadaan Roy za?" Alisa berharap ada perubahan dari kondisi Roy.


"Masih sama, tidak ada perubahan, dokter butuh darah golongan AB negatif, apa kakak golongan darahnya sama kayak Roy?"


"Iya golongan darah aku sama" jawab kak Tias.


Aku merasa sedikit lega mendengar hal itu.


"Syukurlah kalau seperti itu, sebentar aku panggil dokter dulu"


tok


tok


tok


"Ini kak Tias dok, golongan darah kak Tias sama kayak Roy"


"Ayo ikut ke dalam, kami membutuhkan darah mu untuk pasien" kak Tias mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan ICU untuk melakukan transfusi darah.


Kami menunggu di luar dengan tidak tenang, pikiran-pikiran buruk terus menghantui kami.


"Ya Allah sembuhkan Roy, hamba mohon pada mu" batin ku terus berdoa.


"Ya Allah angkatlah penyakit Roy, tolong sembuhkan dia ya Allah, Alisa mohon sekali" batin Alisa yang terus tidak tenang.


Kami mondar mandir di depan ruangan ICU.


Sesekali kami melihat ke arah pintu ruangan ICU yang masih tertutup rapat.


"Semoga Roy baik-baik saja, semoga dia melewati masa kritisnya" batin Reno yang sangat khawatir sekali.


"Roy kamu cepat sembuh, jangan buat kami panik dan gak tenang kayak gini, kamu harus bisa kuat Roy, kamu jangan tinggalin kami" batin Angkasa yang takut terjadi sesuatu pada Roy.


Kami terus mondar-mandir ke sana kemari dengan pikiran yang terus tertuju pada Roy dan Roy.


Krieet


Pintu ruangan ICU terbuka.


Dengan cepat kami mendekati dokter yang keluar dari dalam ruangan ICU bersama kak Tias.


"Bagaimana kondisi Roy dok?"


"Kondisinya sudah stabil, pasien sudah melewati masa kritisnya"


"Alhamdulillah" syukur kami yang merasa sangat lega setelah mendengar jawaban dokter itu.


"Dokter kondisi Roy gak parah kan?" penasaran Alisa, ia takut sekali kehilangan temannya lagi.


"Kondisinya tidak terlalu parah, tapi pasien harus di rawat di sini sampai kondisinya sudah benar-benar pulih baru bisa di rawat jalan"


"Syukurlah kalau kayak gitu dok" Alisa merasa lega walaupun sedikit.


"Saya tinggal dulu, kalau ada apa-apa panggil saya saja"


"Baik dok"


Dokter berlalu meninggalkan kami semua yang masih berada di depan ruangan ICU.


"Kalian ini siapanya Roy, kenapa Roy gak bilang kalau dia punya teman cewek?" penasaran kak Tias.


"Kami baru temenan sama Roy kemarin kak, kami juga kemarin nyelidiki kasus kematian Andin bareng Roy" jawab Alisa.


"APA k-kasus kemarin Andin?" terkejut kak Tias mendengar hal itu.


"Andin meninggal?" penasaran kak Tias.


"Iya kak, Andin udah meninggal"


Kak Tias begitu terkejut, dia tau siapa Andin dari Roy."K-kenapa dia bisa meninggal, apa yang udah terjadi padanya?"


"Andin di bunuh sama seseorang kak, dia itu di sekap di dalam gudang selama berhari-hari, baru hari ini kami nemuin jasadnya meski kami masih belum tau titik terang dari kematiannya" jawab Angkasa.


"Sebentar-sebentar kenapa kalian bisa nemuin Andin di gudang, siapa kalian sebenarnya?" kak Tias merasa curiga pada kami.


"Kami anak yang bisa lihat makhluk yang biasanya di bilang tak kasat mata kak" jawab Reno.


"Terus-terus" penasaran kak Tias pada kelanjutannya.


"Saat di sekolah kami melihat ada gadis pucat yang mengenakan pakaian seragam seperti kami, kami penasaran padanya, lalu kami mencari tau perlahan-lahan tentangnya, dan tadi sore kami bisa nemuin jasadnya yang berada di gudang dalam keadaan tangan dan kaki yang di ikat" jawab Alisa.


"J-jadi kalian nekat ke sekolahan demi mencari tau tentang Andin?" terkejut kak Tias yang tau seluk beluk sekolahan itu.