
Malam hari.
"Assalamualaikum" salam pak Heru.
"Wa'alaikum salam loh kok hantu itu masih ada?" tanya kakek.
"HANTU hantu siapa pak?" tanya pak Heru tak mengerti.
"Itu loh om mbk Hilda dia katanya gak mau kembali ke alamnya dulu mau di sini saja sekarang dia berada di belakang om" jawab Alisa.
"Hai" sapa mbk Hilda.
"Masuk mbk" jawab ku.
"Waduh ngeri juga" batin pak Heru.
"Mana istri mu kenapa tidak kamu bawa ke sini?" tanya nenek.
"Ikut kok Bu tuh dia" jawab pak Heru.
"Nenek" kata Zidan memeluk tubuh nenek.
"Hai cucu nenek sudah makan?" tanya nenek.
"Sudah nek" jawab Zidan.
"Masuk ayo" kata bunda.
Kami semua duduk di ruangan tamu.
"Gimana apa yang kalian dapatkan setelah bertanya pada hantu itu?" tanya pak Heru.
"Mbk Hilda bilang kalau mbk Dela itu membunuhnya karena dia tak mau mbk Hilda membocorkan rahasianya terpaksa deh mbk Dela membunuh mbk Hilda tapi om tau ternyata mbk Dela itu mengkonsumsi obat penenang sepertinya dia trauma sama apa yang sudah dia lakukan deh" jawab Alisa.
"Pantesan dia langsung ngaku di rumah Bu Lina tadi" kata pak Heru.
"Hai Zidan" sapa Alisa.
"Hai kak Aliza" jawab Zidan.
Senyuman yang mengambang di wajah Alisa menghilang.
"Aku Alisa dia yang Aliza gimana kamu ini" kata Alisa.
"Maaf ketuker aku kan gak tau mana yang kak Alisa dan mana yang kak Aliza hehe" jawab Zidan.
"Iih dasar kamu ini" kata Alisa mencubit pipi Zidan.
"Bapak sama ibu kenapa kok berada di sini?" tanya pak Heru.
"Ini Aliza dia di ganggu sama makhluk gaib mereka mau membuatnya menjadi anggota keluarganya mangkanya bapak ke sini untung saja keluarga gaib itu sudah binasa berkat Tiger" jawab kakek.
"Mangkanya kalian gak usah bantuin mereka yang tak kasat mata biar tidak mendapatkan petakan" kata pak Heru.
"Gak bisa om ini sudah mendarah daging tidak dapat berhenti tenang aja kita punya Tiger kok yang akan bantuin kita" jawab ku.
"Hati-hati jangan sampai kalian terluka" kata tante Zera.
"Siap tante" jawab kami.
"Malam ini kalian nginap di sini saja besok baru pulang" kata nenek.
"Iya nginap aja di sini dulu masih ada kamar kosong kok di sini" jawab bunda.
"Ya udah kami akan nginap di sini" setuju mereka.
Kami melanjutkan mengobrol dan bercanda bersama.
Keesokan harinya.
Kami berdua berangkat ke sekolah setelah selesai berpamitan kepada keluarga besar.
Motor terparkir rapi di parkiran baru beberapa langkah kami berjalan tiba-tiba langkah kami terhenti mulut kami ternganga melihat sesuatu di depan kami yang menarik perhatian.
"Alamak siapa dia kenapa dia di ikutin oleh makhluk seram itu" kata Alisa.
Seorang anak lelaki yang tak jauh dari posisi kami berdiri tengah di ikuti oleh genderuwo di belakangnya.
"Aku mencium bau-bau bunga sedap malam bunga yang paling aku benci" kata ku.
"Biasanya orang yang memakai parfum bunga itu hanyalah mbk Kunti" kata Alisa.
"Dan juga biasanya para dukun tak berperasaan itu menggunakan bunga itu untuk menjadi pelengkap bersama bunga keenam lainnya yang biasa orang sebut kembang tujuh rupa" sambung ku.
"Apa jangan-jangan anak itu melakukan perjanjian dengan syaiton nirojim" tebak Alisa.
"Aku juga tidak tau kita harus selidiki anak itu kita harus tau apa yang dia lakukan sehingga kingkong itu mengikutinya apa benar dia telah bersekutu dengan mereka yang tak kasat mata kita harus bisa mencari tau kebenarannya" kata ku.
"Nanti bisa-bisa teman-teman sekelas aku pada bilang Mbah dukun terus aku gak mau kamu aja sana" tolak Alisa.
"Kalau kamu gak mau nanti aku akan suruh mbk Hilda tidur bareng kamu nanti malam aku juga akan minta mbk Hilda buat cari teman dan gangguin kamu" ancam ku.
Alisa menelan ludah.
"Ish kamu ini iya deh aku mau kapan kita mau menyelidiki anak yang di ikutin kingkong itu" kata Alisa.
"Nanti setelah istirahat saja kita ketemu di taman seperti biasa" jawab ku.
"Alamak" kaget Alisa.
"Kingkong itu melihat ke arah kita apa dia dengar apa yang kita katakan ya" kata Alisa.
"Sepertinya iya lihat saja itu dia mengeluarkan jurus mata merahnya dengan tatapan tajam dia melihat kearah kita tapi kita tidak takut padanya" jawab ku.
"Pergi kau jangan ganggu mereka" usir Tiger.
Dengan cepat kingkong itu pergi dari sana.
"Bye" jawab Alisa.
"Kenapa kok masam aja tuh muka?" tanya Tiger.
"Bagaimana gak masam setiap datang ke kelas pasti ada aja yang membuat mood ku rusak pengen pindah Tiger aku gak betah sekolah di sini" jawab Alisa.
"Sabar saja sana kamu masuk ke dalam kelas mu aku akan jaga di sini kalau kamu butuh bantuan panggil aku aja simpelkan" kata Tiger.
"Baiklah" jawab Alisa lemas.
Alisa melangkah meninggalkan Tiger.
"Hai Tiger kok kamu di sini kemana Alisa dan Aliza?" tanya Angkasa mendekati Tiger.
"Sudah masuk ke dalam sana kau masuk sebelum telat" jawab Tiger.
"Siap" kata Angkasa.
Angkasa berjalan menuju kelas.
"Hai" panggil Angkasa saat sampai di dalam kelas.
"Hai juga" jawab ku.
"Nanti kamu mau ke taman kan?" tanya Angkasa.
"Iyalah aku mau membahas anak yang di ikuti kingkong bareng Alisa di sana kamu mau ikut gak" jawab ku.
"Ikut dong aku nanti akan bantu kalian" setuju Angkasa.
"Iya nanti kita bahas bareng-bareng" jawab ku.
Teet
Pelajaran di mulai kami semua mengikuti pelajaran dengan sangat baik.
Alisa duduk di bangkunya kebisingan terus terdengar di telinganya matanya menatap malas teman-teman sekelasnya yang sedang mengejeknya.
"Tiger" panggil Alisa geram.
"Oh siapa Tiger itu?" tanya Roy.
"Seekor harimau gaib yang bisa membunuh manusia dalam sekejap" jawab Alisa penuh penekanan.
Kebisingan itu mendadak hilang wajah mereka ketar-ketir.
"Waduh gila Mbah dukunnya lagi marah gais sana kalian pergi jangan ganggu kalau kalian masih mau hidup" kata Roy.
"Siap jangan di panggil ya kita berhenti ini" jawab Bagas.
Alisa diam dengan sorot mata tajam ia yang terus menatap mereka semua.
"Waduh" kata mereka ketar-ketir.
Mereka semua kembali ke tempat masing-masing.
Roy melirik Alisa takut.
"APA" kata Alisa.
"Kagak jangan marah kita ini cuman bercanda" jawab Roy.
"Kok tubuh kamu bau bunga yang Aliza tidak suka?" tanya Alisa.
"Bunga apaan?" tanya Roy.
"Bunga sedap malam apa jangan-jangan kamu bersekutu dengan mereka yang tak kasat mata ya" tebak Alisa.
"Mana ada aku ini anak baik-baik aku gak melakukan tindakan tercela itu jangan asal nuduh" jawab Roy.
"Seharusnya itu kamu yang jadi Mbah dukunnya karena bau tubuh kamu itu seperti dukun bukan aku" kata Alisa.
"Enak saja aku bukan dukun kamu yang dukun" bantah Roy.
"Kenapa anak ini tak berani menatap mata ku dia seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu wah aku harus cari tau itu" batin Alisa.
"Kenapa kamu liatin aku terus aku tau aku ganteng gak usah di liatin mulu" kata Roy.
"Dih ganteng dari mana bau kembang aja ngakunya ganteng apa jangan-jangan kamu melakukan ritual biar bisa menarik perhatian orang ya" tebak Alisa.
"Mana ada ngawur kamu ini udah jangan berisik aku tidak melakukan hal-hal yang kamu sebutkan tadi aku anak-anak baik jangan memojokkan ku" jawab Roy.
Alisa terus mencium bau tubuh Roy.
"Semakin di cium semakin pekat saja baunya wah gak wajar ini kamu pakai ritual apa?" tanya Alisa.
"Ritual jampi-jampi" jawab Roy.
"Cepat katakan yang sebenarnya" kata Alisa mengintrogasi.
"Hei Mbah dukun aku ini normal aku anak baik-baik tidak melakukan hal yang tidak-tidak itu jangan menuduhku begini" jawab Roy.
"Tapi kenapa tubuh kamu bisa bau kembang seperti ini ayo jawab?" tanya Alisa.
"Mungkin karena ini" jawab Roy membuka kepalan tangannya.
Bunga sedap malam itu telah hancur lebur di tangan Roy.
"Pantesan kamu ambil bunga ini di mana?" tanya Alisa.
"Di taman ada kok pohonnya aku iseng ambil aja" jawab Roy.
Alisa tak lagi bicara dia diam saja semua tebakannya tidak benar.