The Indigo Twins

The Indigo Twins
Satpam seram



Aku membereskan perabotan itu dan meletakkan kembali di tempat semula setelah selesai ku cuci.


Aku melangkah keluar dari dalam dapur tiba-tiba Ratih berdiri di ambang pintu dengan tangan yang di rentangkan seperti tak mengizinkan aku keluar dari dapur.


Ratih menatap tak suka pada ku.


"Kenapa, kenapa kamu gak suka sama aku, aku punya salah apa sama kamu?"


"Salah kamu banyak, sekarang aku minta kamu pergi dari sini, jangan ada di sini, aku tidak suka" usir Ratih.


"Baiklah aku akan pergi, minggir dulu aku ingin keluar"


Ratih membiarkan ku lewat, aku keluar dari dalam dapur dan mendekati Angkasa.


"Sa ayo kita pergi dari sini"


Angkasa mengerutkan alis.Kenapa, kok tiba-tiba kamu ngajak aku dari sini?"


"Udah ayo kita pergi aja"


"Ya udah ayo kita pergi" Angkasa pun mengerti saat melihat Ratih yang keluar dari dalam dapur, ia pasti tau kalau Ratih kembali mengusir ku sehingga aku mengajaknya pergi dari sini.


Kami keluar dari dalam rumah itu meninggalkan Ratih sendirian.


"Kenapa Ratih itu, kenapa dia gak suka banget sama aku, emangnya aku punya salah apa sama dia, sehingga dia kayak benci banget sama aku"


"Palingan dia itu takut nenek di ambil sama kamu, di rumah itu kan hanya ada dia dan nenek, mungkin dia merasa tersaingi saat ngelihat kamu di bawa pulang sama nenek" jawab Angkasa.


"Iya juga, ini kita mau kemana, ini masih siang, acara di rumahnya pak lurah itu malam, kita mau kemana ini, gak mungkin kita kembali ke rumah nenek lagi, pasti Ratih akan ngusir kita lagi?"


"Kita ke sana saja sekarang, kita lihat ada apa saja di sana" jawab Angkasa.


"Ya udah ayo kita ke sana, kata nenek rumah pak lurah hanya berjarak dua sawah dan empat rumah, ayo kita ke sana, gak terlalu jauh juga kok"


Angkasa setuju lalu kami berjalan menuju rumah pak lurah.


Ratih memperhatikan punggung kami yang terus berjalan ke sebelah timur meninggalkan rumahnya.


"Pergilah dan jangan pernah kembali" Ratih benar-benar tidak suka pada kami meskipun kami tidak punya salah apa-apa padanya.


Aku dan Angkasa terus berjalan melewati sawah yang lumayan lebar itu.


"Sa desa ini aneh tau"


"Aneh gimana?" Angkasa merasa penasaran keanahen apa yang aku maksud.


"Desa ini kan desa gaib, kenapa gak ada makhluk halus satupun yang kita lihat di sini, apa mungkin ini bukan desa gaib ya"


"Ini desa gaib za, masalah kenapa kita tidak bisa melihat makhluk halus karena mereka berubah wujud seperti manusia, sehingga kita tidak bisa melihat mereka dalam wujud aslinya" jawab Angkasa.


"Oh pantes aja kita gak lihat makhluk-makhluk halus yang seram-seram itu, eh sa jalan keluar dari desa ini di mana, kita masih belum tau jalan keluarnya, kita harus cari sa secepatnya sebelum malam, belum lagi kita harus melewati hutan serem dan panjang itu agar bisa sampai di rumah, bakalan larut malam kita sampai di rumah"


"Habis balik dari rumah pak lurah baru kita nyari jalan keluar dari desa gaib ini, aku juga tidak mau berada di sini lebih lama lagi, waktu itu kan kita sempat terjebak di dalam alam gaib, untung aja kita bisa keluar" Angkasa teringat pada kejadian yang benar-benar tidak dapat kami bayangkan sama sekali.


"Iya, semoga saja kita juga bisa keluar dari dalam desa gaib ini"


"Amin"


Kami sudah selesai melewati dua sawah itu, sekarang tinggal 4 rumah yang belum kami lewati.


Rumah-rumah di desa ini berjarak-jarak, yang membuat perjalanan menuju rumah pak lurah terlihat sangat jauh.


"Rumah-rumah di sini benar-benar sepi, orang-orang pada datang ke rumah pak lurah semua" satupun aku tidak melihat orang yang berada di rumah mereka masing-masing, semua rumah terlihat kosong.


gong


gong


gong


Aku menghentikan langkah saat mendengar suara keras yang di sertai iringan musik tradisional lainnya.


"Itu kayak suara gamelan"


"Iya itu memang suara gamelan, kayaknya suara musik itu berasal dari rumah pak lurah" feeling Angkasa.


"Berarti rumah pak lurah gak jauh lagi dong"


"Iya, ayo cepat kita ke sana" kami berlari agar segera sampai di rumah pak lurah.


Semakin kami berlari semakin keras suara musik yang menandakan adanya pernikahan atau acara besar lainnya.


Aku dan Angkasa semakin semangat saat suara musik itu semakin keras dan terdengar sangat dekat.


Langkah ku tiba-tiba terhenti.


"Ada apa za, kenapa kamu berhenti?" bingung Angkasa yang juga ikutan berhenti.


Aku tidak menjawab dan terus melihat ke arah langit yang pelan-pelan menggelap.


"Kok cepet banget, barusan masih siang, kenapa udah malam aja"


"Waktu siang di alam gaib memang sedikit za, jadi wajar kalau udah mau gelap" jawab Angkasa yang tau hal itu dari Ustadz Fahri.


"Kalau begitu ayo kita ke rumah pak lurah, pasti acara nikahannya anaknya pak lurah lagi di mulai"


"Iya, ayo kita ke sana, kayaknya udah gak jauh lagi rumah pak lurah dari sini" ajak Angkasa.


Aku mengangguk lalu kembali berlari menuju rumah pak lurah.


gong


gong


gong


Suara gamelan dan iringan musik di tabuh.


Kami semakin semangat berlari hingga pada akhirnya kami sampai juga di tempat yang kami inginkan.


Kami berada di semak-semak yang gelap, dari sini kami sudah melihat banyak sekali orang yang memenuhi halaman rumah pak lurah.


"Ayo sa kita ke sana" iringan musik itu seakan-akan menghipnotis ku yang membuat ku ingin segera mendekati orang-orang untuk melihat acara pernikahan yang baru di mulai.


"Jangan za" aku mengerutkan alis tanda bingung.


"Kenapa, kenapa kamu larang aku ke sana?"


"Lihat, satpamnya berbahaya" tunjuk Angkasa pada makhluk-makhluk berbulu hitam yang berjaga di pintu depan.


Aku ternganga melihat mereka yang seram-seram sekali.


"Terus bagaimana ini, aku ingin ke sana, aku ingin lihat seperti anaknya pak lurah dan calonnya, ayo sa kita ke sana" aku menarik-narik Angkasa agar mau ku ajak ke sana.


"Jangan za, bahaya, ada banyak kingkong di sana, kalau mereka lihat kita, kita akan dalam bahaya, mereka pasti akan langsung nangkap kita karena mereka tau kalau kita berbeda, tak sama seperti mereka" jawab Angkasa yang terkena masalah kalau nekat ke sana.