The Indigo Twins

The Indigo Twins
Kuntilanak



"Kita lanjut jalan yuk agar segera sampai ke rumah, moga aja nanti kita bisa ketemu sama jalanan yang bisa membuat kita pulang ke rumah" ajak Angkasa setelah cukup kami berdua duduk di pinggir jalan.


"Ayo" jawab ku.


Kami berdua melanjutkan perjalanan yang tidak tau di mana ujungnya.


Dengan bergenggaman tangan kami terus berjalan dengan harapan akan bertemu dengan jalan menuju rumah, kami sudah lelah dan ingin segera sampai di rumah.


"Ini di mana sih, seumur-umur aku gak pernah tau jika di desa ini ada jalanan yang seperti ini, apa ini bukan desa kita ya?" tanya ku yang mengamati sekeliling yang benar-benar berbeda.


"Kayaknya bukan deh za, masa dari tadi kita jalan gak nemu manusia satu orang pun, malah hantu tengkorak itu yang kita temuin, aku juga yakin benget kalau jalanan ini bukan jalanan desa biasanya, lihat aja semuanya berubah, tak seperti jalanan desa pada umumnya" jawab Angkasa.


"Kalau ini bukan jalanan desa lalu di mana kita sebenarnya, kenapa kita malah kesasar di desa sendiri?" tanya ku tak mengerti dengan segalanya.


"Aku juga gak tau, kita jalan saja dulu, mungkin nanti kita akan bertemu dengan jalanan yang kita kenali dan semoga saja jalanan itu bisa membawa kita pulang ke rumah" jawab Angkasa.


Kami berdua terus berjalan di tengah gelapnya malam yang sangat mencekam.


Aku melihat ke kanan dan kiri yang sangat-sangat asing, tak ada satu bagian tempatpun yang aku kenali, semuanya benar-benar berubah.


"Sa" panggil ku.


"Kenapa?" tanya Angkasa.


"Capek tau jalan terus, mana gak tau ujungnya lagi" jawab ku.


"Mau bagaimana lagi, kita harus tetap jalan, kita gak bisa diam aja di sini, aku takut hantu tengkorak itu datang lagi dan akan membuat kita semakin kesulitan" jawab Angkasa.


Aku mendengus kesal karena sudah sejak tadi berjalan tapi masih belum menemukan apapun.


"Kenapa kita bisa kesasar kayak gini, tau gini aku gak akan ngajak kamu melewati jalanan ini, jika ujung-ujungnya sama saja kayak jalanan tadi" kata ku yang sangat menyesal.


"Kamu yang sabar dulu, jangan kayak gini, kita harus bisa lewatin ini semua berdua, cepat atau lambat kita pasti akan pulang" jawab Angkasa menenangkan aku yang sudah sangat lelah dengan keadaan seperti ini.


"Eh sa kok bisa ya kucing tadi berubah jadi tengkorak?" tanya ku sangat penasaran.


"Aku juga gak tau, aku hanya dengar cerita aja, kalau ada kucing hitam di jalan, jangan di lihat lagi, karena bentuknya pasti akan berubah" jawab Angkasa.


"Kok bisa gitu?" tanya ku yang masih belum bisa memecahkan misteri ini.


"Aku gak tau, mungkin aja kucing yang hampir kamu pegang itu bukan kucing biasa, ada makhluk halus yang menjelama menjadi dirinya, kalau kita lihat lagi, dia pasti akan berubah seperti wujud aslinya" jawab Angkasa.


"Ngeri tau kalau ingat sama kucing tadi, awalnya aku ngeliat dia itu bawaannya gemes banget, aku pengen elus dia, eh gak taunya ternyata dia bukan kucing biasa, untung aku gak sempat megang dia kalau tidak, aku pasti akan trauma lagi sama yang namanya kucing" kata ku yang masih bisa selamat dari kucing hitam tersebut.


"Mangkanya kalau punya tangan jangan main pegang aja, belum tentu yang kamu pegang itu aman" kata Angkasa.


"Iya-iya, gak lagi deh" jawab ku.


"Ayo kita jalan lagi" ajak Angkasa.


"Ayo" jawab ku.


Kami berdua terus berjalan dalam suasana langit yang masih gelap gulita dan tak ada tanda-tanda akan terbitnya matahari yang dapat menerangi jalan kami.


Tangan kami tetap bergandengan di sepanjang jalanan yang tak berujung ini.


"Gak ada tanda-tanda akan adanya matahari terbit atau warga lewat gitu?" tanya ku yang hanya melihat jalanan gelap tanpa penerangan sama sekali.


"Kayaknya gak ada deh, lihat aja langit masih gelap banget, mana ada orang yang keluyuran di waktu seperti ini" jawab Angkasa.


"Huft capek deh, aku pengen cepat-cepat pulang, bunda tolong Aliza, plis jemput Aliza, Aliza ingin pulang" teriak ku yang sudah lelah karena sudah sejak tadi berjalan tapi masih tidak menemukan apapun.


Angkasa menutup telinganya kala suara ku menusuk ke gendang telinganya.


"Hihihihihihihi"


"Hihihihihihihi"


"Hihihihihihihi"


"Tunggu-tunggu sa, itu suara apaan?" tanya ku.


"Itu kayaknya suaranya mbk kunti, aku hafal betul suara ini, karena tiap hari kan kita selalu bareng mbk Santi dan mbk Gea selaku kuntilanak yang menjaga kita" jawab Angkasa yang tak asing dengan suara tawa barusan.


"Iya benar ini suara kunti, tapi di mana orangnya, kok gak ketemu?" tanya ku yang tak menemukannya.


"Aku rasa mbk kunti ini gak jauh dari sini" jawab Angkasa.


"Kita harus cari dia sampai ketemu" kata ku.


Kami berdua melihat ke kanan dan kiri, depan dan juga belakang hanya karena ingin mencari keberadaan kuntilanak yang barusan suaranya tak sengaja kami dengar.


"Kok gak ada ya sa, apa kita cuman salah dengar?" tanya ku kala merasa tidak yakin lantaran pemilik suara itu belum di temukan.


"Gak mungkin kita salah dengar, aku yakin banget kalau tadi itu beneran suaranya kuntilanak" jawab Angkasa masih yakin dengan pendiriannya.


"Tapi kalau memang benar tadi suaranya kuntilanak, di mana dia sebenarnya, kenapa gak ada?" tanya ku.


"Aku gak tau, tapi yang jelas dia ada di sekitar sini" jawab Angkasa yang masih mencari keberadaan kuntilanak.


"Kita harus temuin dia" kata ku.


Angkasa mengangguk setuju, kami lalu berusaha kembali mencari kuntilanak yang suaranya barusan kami dengar.


"Hihihihihihihi"


"Dengerin-dengarin" kata ku.


Senyap, tak ada yang mengeluarkan suara di antara kami.


Kami begitu fokus mendengarkan suara ini agar bisa tau di mana orangnya.


"Menurut aku suara ini beneran gak jauh" kata ku.


"Iya, aku ngerasa juga, tapi di mana sebenarnya dia berada?" tanya Angkasa.


"Hihihihihihihi"


Suara kuntilanak itu kembali terdengar di telinga kami.


"Jangan-jangan" kata kami tercekat.


Kami dengan kompak mendongak ke atas.


"Hihihihihihihi"


Tertangkap seorang kuntilanak tengah duduk di dahan pohon tepat di atas kepala kami.


Wajah kuntilanak itu berwarna hitam, sorot matanya amat tajam, rambutnya sangat panjang dan begitu acak-acakan yang menambahnya semakin menyeramkan.


"Hihihihihihihi"


"Hei berisiklah kau, bisa diam gak sih" teriak ku yang sudah terganggu dengan suaranya.


"Hihihihihihihi"


"Hihihihihihihi"


"Hihihihihihihi"


"Hihihihihihihi"


"Hihihihihihihi"


Bukannya berhenti kuntilanak itu malah semakin mengeraskan suaranya yang membuat wajah ku langsung memanas karena suaranya itu begitu mengganggu ku.