
"Gak ada cara lain mbk, hanya itu saja cara yang bisa aku lakukan agar mbk Hilda bisa terbebas dari botol itu" jawab Angkasa.
"Ya gak gitu juga kali, tubuh aku bisa remuk kalau menggunakan cara itu" pekik mbk Hilda.
"Aduh, berisik banget mbk Hilda ini, kita ini sudah baik hati mau menolong mbk Hilda untuk yang kedua kalinya, jadi mbk Hilda diam aja, gak usah banyak ching chong" kata Alisa.
"Eh tapi kenapa botol ini masih tak kunjung pecah juga, apa mungkin kurang keras kamu yang jatohin botol kaca ini sehingga masih tak pecah" pikir ku.
Tanpa aba-aba Alisa mengambil botol itu lalu menjatuhkannya dengan sekeras tenaga yang dia punya.
Di dalam botol wajah mbk Hilda bagaikan bom karena kami terus saja menjatuhkan botol itu yang membuatnya kesakitan.
"HENTIKAN kalian ini kenapa malah main-main, remuk badan aku, jangan terus di jatohin, kalian tidak memikirkan perasaan aku apa, sakit tau" teriak mbk Hilda.
"Ish diamlah mbk, kita ini gak main-main, kita lagi berusaha buat memecahkan botol ini, mbk sabar dulu" jawab Alisa.
"Gak pecah juga botol ini, sudah sejak tadi kita berusaha untuk memecahkannya, namun masih tak ada hasilnya, benar-benar botol yang kuat" kata Angkasa.
Aku melirik ke sekitar ku, pandangan ku tertuju pada tongkat besi yang berukuran sedang berada tak jauh dari posisi ku berdiri.
Aku berjalan mendekatinya lalu mengambilnya.
"Alamak" tegang mbk Hilda.
Wajah mbk Hilda menjadi ketar-ketir saat melihat aku memegang tongkat itu.
"Aliza kamu mau apa" gagap mbk Hilda.
"Kamu jangan lakuin apapun, letakkan tongkat itu, aku masih mau hidup za, jangan bunuh aku untuk yang kedua kalinya, aku masih mau bergentayangan di alam manusia ini, aku mohon pada mu za, hentikan jangan sakiti aku, aku tak mau kembali ke alam ku" heboh mbk Hilda di dalam botol.
Aku tak mendengarkannya dan terus berjalan mendekatinya.
"Aliza berhenti" teriak mbk Hilda.
Craangg!
"Arrrrgghh" teriak mbk Hilda.
"Ish berisik mbk ini, lihat sekarang mbk sudah bebas jadi gak usah teriak-teriak lagi" kata Alisa.
"Eh" kata mbk Hilda memegang wajah dan tubuhnya yang baik-baik saja.
"Aku bebas, aku bebas, aku bebas, yey aku bebas" senang mbk Hilda.
"Telat, udah jangan berisik lagi, menganggu ketenangan saja" kata Alisa.
"Hehe maaf" kata mbk Hilda.
"Kalian semua turunkan semua botol-botol itu, aku akan memecahkannya satu persatu biar mereka semua bebas seperti mbk Hilda" tintah ku.
"Oke" jawab mereka.
Mereka dengan senang menurunkan semua botol-botol itu dan aku hanya tinggal memecahkan botol-botol itu dengan mudah.
"Sudah selesai" kata ku kala melihat mereka yang selama ini di kurung sama Ki Suryo sudah terbebas.
"Langkah selanjutnya itu adalah kita harus segera keluar dari ruangan ini sebelum pasukan Ki Suryo datang dan malah menjebak kita di dalam ruangan ini selamanya" kata ku.
"Bagaimana caranya kita keluar dari sini, kita saja tidak tau di mana pintu keluarnya?" tanya Alisa.
"Kita cari saja dulu, aku yakin pintunya tak jauh dari sini" jawab ku.
Kami semua mencari-cari pintu keluarnya, lama sekali kami mencarinya namun masih tak kunjung ketemu juga, kami hanya berputar-putar di tempat saja, sungguh kaca-kaca yang banyak ini dapat dengan mudah mengelabui kami.
"Gak ada tau za, aku sudah mencarinya kemanapun, tapi masih tak kelihatan juga" kata Alisa.
"Tunggu-tunggu mbk Hilda kan makhluk halus" kata Alisa.
Wajah mbk Hilda langsung berubah kala Alisa mengatakan hal itu.
"Kenapa?" tanya mbk Hilda tak bersahabat.
"Makhluk halus kan biasanya bisa ngilang, mbk Hilda coba ngilang dan bukain pintu ruangan ini yang ada di rumah kuno" jawab Alisa.
"Oke" setuju mbk Hilda.
Mbk Hilda berusaha menghilang namun tak bisa.
"Kenapa aku tidak bisa menghilang, apa yang sudah terjadi" kata mbk Hilda.
"Apa jangan-jangan di ruangan ini memang tak bisa menggunakan kekuatan, lihat saja mbk Hilda tak bisa menghilang seperti biasanya" kata Angkasa.
"Gimana ini?" tanya Alisa.
"Ayo kita cari saja lagi" ajak ku.
Kami kembali mencarinya namun masih tak kunjung menemukannya juga, suara riuh korban-korban Ki Suryo memecah keheningan yang membuat ku semakin kebingungan.
"Bagaimana ini za pintunya masih tak kunjung ketemu juga, aku mau pulang za, aku gak mau berada di sini" kata Alisa.
"Aku juga mau pulang, kita harus teliti mencarinya, aku yakin pintu itu pasti di buat dengan rancangan khusus sehingga sulit di temukan" jawab ku.
"Aku sudah nyerah, aku sudah capek berkeliling sedari tadi, aku serahkan semuanya pada mu, aku merasa kalau hanya kamu yang dapat menemukannya" kata Alisa.
Aku tak menjawab ucapan Alisa barusan, mata ku masih terus fokus mencari pintu.
"Kemana pintu itu, kenapa tidak terlihat, di mana Ki Suryo letakkan pintu itu sebenarnya, aku yakin sekali pintu keluar dari ruangan ini pasti ada, ayo Aliza kamu harus bisa menemukannya, kurang selangkah lagi jangan nyerah" batin ku.
Aku masih terus mencari keberadaan pintu yang tak kunjung di temukan itu.
Lama-kelamaan aku merasakan lelah seperti mereka semua, aku berhenti sesaat, rasa bingung, panik, tegang dan sebagainya menyatu menjadi satu.
"Haduh bagaimana ini, kenapa masih tak kunjung ketemu juga pintu itu, tau gini aku gak mau masuk ke dalam ruangan ini, aku gak mau terkurung karena hal ini" kata Alisa.
"Kamu tenang dulu sa, jangan heboh sendiri, yakin saja kalau kita bisa keluar dari ruangan ini" jawab Reno.
"Gimana sa kamu menemukannya gak?" tanya ku pada Angkasa.
"Enggak, aku masih belum menemukannya, sumpah kaca-kaca di ruangan ini sama persis seperti tidak ada bedanya, mungkin ini trik yang di gunakan Ki Suryo untuk menjebak orang yang sudah berani masuk ke dalam ruangan ini" jawab Angkasa.
"Aku yakin sekali pintunya tak jauh dari sini, tak mungkin ada pintu masuk tapi tidak ada pintu keluar" kata ku.
Aku terus mengamati sekeliling ku, lama sekali aku mengamatinya tiba-tiba mata ku melihat sesuatu yang menarik perhatian ku.
"Kenapa kaca itu bentuknya berbeda dengan kaca lainnya" batin ku.
Aku berjalan mendekati kaca yang menurut ku aneh itu.
"Kaca apa ini, kenapa bentuknya berbeda dengan yang lainnya" kata ku mengerutkan alis.
Aku mencoba mendorong kaca itu dan betapa terkejutnya aku kala menyadari kalau kaca itu sebenarnya pintu keluar dari dalam ruangan ini.
"Eh semua, ini pintu keluarnya" teriak ku.
Mereka dengan senang langsung berlari mendekati ku.
"Syukurlah akhirnya kita bisa menemukan pintu ini juga, terimakasih ya Allah, kau baik sekali pada ku" kata Alisa.