The Indigo Twins

The Indigo Twins
Mengejar kunang-kunang



"Sepertinya memang iya, lihat aja cahaya itu berterbangan" kata Angkasa.


"Sa ayo, kita tangkap tuh kunang-kunang" ajak ku.


"Buat apaan?" tanya Angkasa.


"Buat penerangan jalan kita, lumayan bisa buat penerangan jalan biar tak segelap ini, jika kita bisa mendapatkan kunang-kunang itu" jawab ku dengan sangat senang.


"Iya ayo" setuju Angkasa.


Aku tanpa aba-aba berlari mendekati kunang-kunang yang masih diam di tempat.


"Aliza tungguin" teriak Angkasa yang melihat ku yang pergi meninggalkannya.


"Ayo kak, kita kejar kakak Aliza" ajak Arif.


Angkasa mengangguk lalu berlari mengejar ku bersama dengan Arif.


Kunang-kunang itu sudah tak jauh lagi dari ku.


"Ayo za lebih cepat lagi, kunang-kunang itu sudah mendekat, kamu harus bisa sampai di sana" kata ku terus berlari mendekati kunang-kunang yang masih diam di tempat.


Aku terus mendekati kunang-kunang itu.


"Sedikit lagi, ayo semangat" kata ku terus berlari.


Aku berhenti ketika sampai di dekat kunang-kunang yang bertaburan bagaikan bintang di langit.


"Akhirnya aku sampai di sini juga" kata ku senang.


Aku melihat ke arah Angkasa dan Arif yang sedang berlari mendekati ku.


"Ayo cepetan ke sini" teriak ku pada mereka.


Mereka semakin cepat berlari untuk mendekati ku.


Tak berselang lama dari itu, Angkasa dan Arif sampai di tempat ku berhenti.


"Bagus banget kunang-kunang ini, aesthetic sekali moment ini, andai aku bawa hp sudah ku potret kalian semua untuk di jadikan kenang-kenangan" kata ku yang tak henti-hentinya memandangi kunang-kunang yang sangat banyak itu.


Tubuh ku di kelilingi oleh kunang-kunang, aku begitu senang dan bahagia, tawa kecil terdengar di kegelapan jalan ini.


Tiba-tiba kami di kelilingi kunang-kunang yang memecah kegelapan.


"Bagus banget" puji ku yang tak henti-hentinya tersenyum.


Seketika rasa lelah yang tadi menyerang ku hilang entah kemana kala melihat kunang-kunang itu.


Belum sempat kami menangkap kunang-kunang itu tiba-tiba semua kunang-kunang itu berkumpul menjadi satu dan terbang ke depan meninggalkan kami.


"Loh loh loh kok kunang-kunang itu pergi" kata ku yang melihat kunang-kunang yang terus terbang menjauhi kami.


"Kita harus kejar dia, kita gak boleh kehilangan dia" kata ku.


Tanpa mendengar keduanya bilang setuju, aku dengan semangat mengejar kunang-kunang yang semakin menjauh.


"Tunggu za" teriak Angkasa yang melihat aku pergi.


"Ayo cepetan" jawab ku masih terus berlari mengejar kunang-kunang yang semakin menjauh.


Mereka berdua berlari mengejar ku yang terus menjauh.


Kunang-kunang itu terus terbang, anehnya kunang-kunang itu tidak berpecah-pecah tetap berkumpul menjadi satu dan terus terbang lurus tanpa berbelok-belok atau berpisah.


"Hei kunang-kunang tunggu aku, jangan pergi, plis tunggu aku" teriak ku semangat dan bahagia meskipun dalam keadaan seperti ini.


Aku terus berlari mengejar kunang-kunang yang semakin menjauh.


"Aku gak boleh sampai kehilangan kunang-kunang itu, dia harapan terakhir ku, aku harus kejar dia sampai dapat" kata ku terus berlari tanpa henti.


Langkah kami di terangi oleh kunang-kunang yang semakin menjauh.


"Mau pergi kemana kunang-kunang itu sebenarnya, aku harus terus ikutin mereka, tak akan aku biarkan mereka pergi gitu aja" kata ku terus berlari secepat kilat.


Langkah demi langkah setelah aku lakukan, suara langkah kaki ku terdengar jelas di jalanan yang gelap dan sunyi ini.


Tiba-tiba langkah ku terhenti.


"Kenapa za, kok berhenti yang ngejar kunang-kunang, perasaan di sini itu kamu yang paling semangat buat ngejar kunang-kunang?" tanya Angkasa yang ikut berhenti, ia merasa aneh karena aku tiba-tiba menghentikan langkah.


"Kamu dengar gak?" tanya ku.


Telinga ku menangkap sesuatu yang membuat ku berhenti berlari.


Angkasa membuka telinganya lebar-lebar lalu mendengarkan apa yang saat ini aku dengar.


"Iya" jawab Angkasa.


"Kayak ada suara air gitu gak sih, apa aku cuman salah dengar?" tanya ku memastikan.


"Enggak, kamu gak salah dengar, telinga aku juga dengar kok, kalau menurut aku itu kayak suara air sungai" jawab Angkasa.


"Tapi itu deras sa, kalau menurut aku air itu jatuh bukan mengalir, air sungai kan mengalir bukan jatuh, iya kalau lagi hujan" kata ku.


"Terus air apa ini dong?" tanya Angkasa.


Aku tidak menjawab pertanyaannya.


Kami semua terdiam sesaat, memikirkan air apa yang terdengar di kegelapan jalan ini.


"Apa jangan-jangan" kata kami kompak.


"Kayaknya sih iya" kata ku.


"Tapi kalau memang iya, di mana letaknya?" tanya Angkasa.


"Aku juga gak tau, ayo kita cari saja" jawab ku.


Kami semua melihat kembali ke arah kunang-kunang yang terus terbang meninggalkan kami.


"Oh tidak kunang-kunang itu semakin jauh hampir tidak terlihat lagi, ayo kita kejar sebelum kita kehilangan mereka" ajak ku mulai panik.


Tanpa aba-aba aku kembali berlari mengejar kunang-kunang yang hampir tak terlihat karena sudah jauh sekali.


Angkasa berlari mengejar ku yang sudah semakin jauh.


"Kakak tungguin Arif" teriak Arif yang ketinggalan.


Angkasa mendekati Arif kembali.


"Ayo" ajak Angkasa.


Mereka berdua berlari mengejar kunang-kunang yang semakin menjauh.


Suara air itu semakin terdengar jelas di telinga ku.


Aku semakin semangat untuk berlari.


"Aku rasa asal suara air ini gak jauh lagi, aku harus segera mencarinya, aku harus bisa temuin dia agar rasa penasaran ku bisa terjawab" kata ku terus berlari mengejar kunang-kunang.


Kunang-kunang terus terbang meninggalkan aku.


Aku terus berlari mengejarnya tanpa henti, tak akan aku biarkan dia pergi begitu saja, aku akan terus kejar dia, entah kenapa kali ini tidak ada rasa lelah sama sekali yang menyerang ku.


"Gawat, kunang-kunang itu makin menjauh, aku harus kejar dia, tak akan aku biarkan dia lolos, jika sampai dia pergi, aku akan kesulitan, karena tidak ada penerangan apapun lagi di dalam jalanan gelap ini" kata ku mulai panik.


Aku berlari dengan secepat kilat untuk mengejar kunang-kunang yang semakin menjauh.


"Aliza tunggu" teriak Angkasa yang melihat ku semakin menjauh saja.


"Ayo cepatan, kita gak boleh kehilangan kunang-kunang itu, kita harus bisa tangkap dia" jawab ku masih terus berlari.


Angkasa dan Arif terus mengejar ku yang semakin menjauh.


Aku terus berlari mengejar kunang-kunang itu, semakin aku berlari suara air itu semakin jelas terdengar di telinga ku.


"Suara air ini semakin mendekat, aku rasa suara air ini gak jauh dari sini" kata ku semakin semangat untuk berlari.